Kamis, 09 Mei 2013

Belanda, Negara Ramah Seni dan Budaya.


Saya ingat seseorang pernah berkata, “Kalau kau mau mengerti romantis itu apa, coba kamu pandangi lukisan Starry Night karya Van Gogh.” Benar saja, tak perlu jiwa seni yang tinggi untuk “merasakan” lukisan itu. Bagi si pemberi saran, yang terasa adalah keromantisan. Bagi saya, lukisan itu memberi rasa magis.

Belanda bagi saya adalah Negara yang membuat seni dan budaya menjadi friendly. Bukan, bukan karena jumlah museum dan galeri di Belanda berjumlah ratusan. Jika dihitung jumlah museum kita dari sabang sampai merauke juga akan mencapai ratusan, tapi apakah kita ramah seni dan budaya? Belum tentu. Juga bukan karena seniman-seniman Belanda yang terkenal di seluruh dunia. Sebut saja Van Gogh, Rembrandt, dan Johannes Vermeer yang lukisannya dihargai jutaan dollar. Tetapi terkenalnya para seniman suatu Negara tidak lantas menjadikan Negara tersebut ramah seni dan budaya. Hal yang Belanda lakukan adalah, memberi penghargaan yang tinggi pada seni dan budaya nasionalnya.

Pada beberapa program Belanda secara aktif mengajak masyarakatnya untuk lebih dekat dengan seni dan budaya. National Museum Weekend misalnya. Mengratiskan atau memberi potongan harga untuk kunjungan ke museum-museum di seluruh penjuru Belanda pada akhir pekan pertama di bulan April. Kegiatan ini sukses menarik jutaan pengunjung untuk berakhir pekan di museum yang berjumlah ratusan. Seharusnya memang museum menjadi alternatif liburan bagi masyarakat, bukan semata-mata tujuan karya wisata siswa sekolah. Melalui National Museum Weekend, Belanda mengajak masyarakatnya untuk menikmati akhir pekan mereka di museum.

Selain itu ada pula Holland Art Cities. Di tahun 2009 dan 2010 museum-museum di empat kota besar di Belanda, yaitu Amsterdam, The Hague, Rotterdam, dan Utrecht melakukan pameran besar-besaran. Kagiatan ini diklaim sebagai the highest concentration of art per square in the world. Mengingat keempat kota tersebut yang letaknya berdekatan dn jumlah karya seni yang dipamerkan, rasanya klaim tersebut tidak dilebih-lebihkan. Dalam kegiatan ini penyelenggara memamerkan lukisan Starry Night karya Van Gogh yang dipinjam dari Museum of Modern Art di New York, yang menjadi rumah lukisan ini. “Kepulangan” sementara lukisan ini, selain dalam meramaikan kegiatan Holland Art Cities, dimaksudkan agar warga Belanda dapat melihat karya asli seniman mereka.

Menurut saya, kedua kegiatan ini adalah bentuk penghargaan Belanda terhadap seni dan budaya. Negara ini tidak hanya memamerkan seni dan budaya nasionalnya, tapi juga menjadikannya bagian dari masyarakat. Sehingga kesenian dan budaya lokal tidak hanya menjadi konsumsi turis.

Menulis artikel ini sambil mengingat museum di kota saya rasanya miris. Museum La Galigo yang terletak di kompleks Benteng Rotterdam di Makassar adalah salah satu tempat favorit saya. Sayang, bagi sebagian orang museum ini hanya jadi bagian landmark kota tanpa perlu dikunjungi. Belum lagi Museum Kota, yang jika kau melintas di depannya pukul sepuluh pagi maka kau hanya akan menemukan pintu yang masih terkunci rapat. Bercermin pada dua museum tersebut, jika ada hal yang saya sangat ingin Indonesia contoh dari Belanda, saya akan memilih keramahan belanda pada seni dan budaya.