Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2012

When Life Gives You Lemon! ;)

When life gives you lemon, make lemonade.
Inti dari quotes ini adalah saat kau merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidupmu, buatlah itu jadi menyenangkan. Seperti dari lemon yang asam menjadi lemonade yang manis dan menyegarkan. Itu kata quote.

Beberapa orang memodifikasi quote ini menjadi
When life gives you lemon, make lemonade. 
Or squeeze it in people's eyes. 
Kalimat tambahannya, or squeeze it in people's eyes, kurang lebih berarti "peraslah di mata orang-orang". Sisi jahat diri saya menafsirkan kalimat tersebut sebagai ajakan untuk mengajak orang lain merasakan yang saya rasa, seperti membuat mereka merasakan apa yang saya rasa.

Hidup memang tidak selamanya manis, selalu ada hal yang mengingatkan kita bahwa hidup itu "nyata" bukan mimpi. Beberapa dari kita mungkin tengah bingung menentukan masa depan. Beberapa malah bingung memandang masa lalu. Ada komplikasi yang terus menerus meneror. Judul tugas akhir yang belum bersedia bertamu ke kepala, atau skripsi yang belum bersedia pula berpindah dari kepala ke ujung jari yang lincah. Selalu ada hal merisaukan kita.

Tapi hidup memang tetap berjalan, tidak peduli kau begitu lelah bekerja atau begitu lelah memposkan hal-hal yang tidak penting pada akun twittermu. Hidup masih dengan semangatnya memperlakukanmu sesuai caranya. Kau ditempa dengan kuat, agar kau terbentuk menjadi pribadi yang kuat pula. Masalah datang menamparmu dengan keras, agar berikutnya saat ia datang, pipimu sudah tidak selemah sebelumnya. Saya selalu memotifasi diri saya agar melihat masalah sebagai hal yang akan menguatkan saya.

Tapi kadang memotifasi diri tidak semudah biasanya. Setiap orang punya batas mereka masing-masing, jadi saat lemonmu tidak dapat kau racik menjadi lemonade yang manis, cukup peraskan ia ke mata orang-orang. Beberapa masalah memang tidak untuk ditangani sendiri, mungkin harus ada orang yang ikut merasakannya. Agar kita dapat dewasa bersama. Mata mereka akan pedih karena asam dari lemon, maka menangislah bersama. Beberapa hal terlalu berat untuk ditangisi sendiri.

Ah, akhirnya saya jadi meracau tidak jelas :)

Here, some other advice:
You know, you can always run.

In case lemonade didn't help you much. Hehe


Good advice, the cat's unhappy and full of desire to scratch your face.


The Best One! Sometimes, you just have to get mad and throw all the lemons to your enemies ;)

Jumat, 10 Agustus 2012

What's up, Life?

You know, life cannot serves all you want.

Aneh sekali saat kau sadari betapa hidupmu tidak akan pernah normal. Karena hidup yang normal adalah hidup yang sama sekali tidak normal. Hidup mu baru bisa dikatakan normal jika yang terjadi adalah hal-hal diluar kehendakmu, kendalimu, inginmu. Setidaknya itu menurut saya.

Turning 22. Bulan lalu saya tepat 22 tahun. Tidak ada special wish. Karena saya menghitung bukan dari hari saya berubah usia, tetapi hari bumi berubah usia. Tidak ada bedanya sebenarnya, tetapi saya memang jarang bermohon di hari ulang tahun. Tidak pula ber-resolusi atas usia baru saya. Menjadi 22 pun sebenarnya saya tidak mengerti bagaimana harus memaknainya. Kata orang, berharaplah agar bisa menjadi baik. Saya memilih berharap menjadi lebih baik setiap hari. Jika tidak sedang lupa.

Sebenarnya beberapa waktu belakangan ini banyak sekali masalah yang datang. Di dalam dan di luar rumah rasanya sama saja. Tapi saya tidak senang membahas masalah. Rasanya terlalu-kurang-beryukur jika terus menerus mengeluh karena merasa berat karena sebuah, atau beberapa buah, masalah. Saya memilih menyemangati diri. Mensugesti diri dengan kata-kata "what doesn't kill you makes you stronger" yang selalu menjadi kata-kata pamungkas saya jauh sebelum Kelly Clarkson mulai menyanyikan lagu dengan judul sama. Hal lain yang selalu saya percaya adalah "bukan orang yang lemah yang diberi cobaan yang berat". Jadi mulailah saya menghibur diri dengan menganggap diri saya sedikit lebih kuat dengan masalah-masalah yang datang. I should sit and share a cup of tea with problem. Sit like an old friends. Berdamai dengan masalah.

Akhirnya di hari-hari luang ini saya habiskan dengan membaca. Berlompat-lompat dari buku satu ke buku yang lain. Membaca hingga mata saya lelah. Menelusuri jejak seseorang melalui buku. Ini lucu, tapi memang seperti itu. Saya sedang berusaha menelusuri jejak seseorang melalui buku. Membaca buku-buku yang mengingatkan saya kepada orang tersebut. Tentu saja mereka-reka, mengingat kami tidak berkomunikasi secara intens. Well, sebenarnya bahkan tidak ada "kami" sama sekali. Hanya "saya" dan "dia", dua subjek dalam dua kalimat berbeda.

Ada hal bagus yang bisa dipelajari dari cuaca. Bahwa kau selalu bisa berharap akan ada hari yang lebih baik. Setiap badai akan memiliki akhir. Karena keadaan, biasanya, tidak akan bisa lebih buruk lagi saat sudah mencapai titik terburuknya. Maka seperti kata film dengan soundtrack favorit saya Badai Pasti Berlalu. Saya tidak mengatakan bahwa hari yang cerah adalah hari yang lebih baik. Menurut saya bagus tidaknya cuaca adalah milik subjektivitas manusia. Hujan menyenangkan hati para penggemarnya setara dengan cerah yang disambut ceria para pengikutnya. Badaipun bisa dinikmati, saat kita tahu cara mengurung diri dalam rumah dengan tepat. Tarik selimutmu rapat-rapat dan buka buku favoritmu. Atau saksikan petir yang menyambar dan bersiagalah menutup telinga. Besok pasti bisa lebih baik :)

Senin, 04 Juni 2012

If He Was Here Today, It's His 30th Birthday! :')

As I promised before, in June 4th, I'll explain about this photo

It's me and my brother in our father's overall, pretending that we're a kangaroo.

Hari ini tanggal 4 Juni 2012, hari ulang tahun kakak laki-laki saya di foto. Di hari ini seharusnya dia genap berusia 30 Tahun. But you now what? He didn't make it. Ulang tahunnya berhenti di tahun 2007. Dia tidak pernah sampai ke ulang tahunnya yang ke 25. He didn't make it. 

He's a good brother, you know. Kind of brother who says "you mess with my sister and I'll break your leg!" Once I was home with a bruise in my cheek. My friend kicked the basket ball to the wall and it bounced back and hit my face. He asked me who did it to me. I explained that it was an accident, that the boy who did it didn't mean it. He just said okay. But tomorrow, in the same gymnasium where I usually play basketball with my friends, he suddenly comes up. Asked me which boy who kick the basket ball yesterday. I told him that it's not necessary for him to know. I remember what he said: "I just wanna tell this boy, that basketball is to throw not to kick. Once I know that he did it again to you, I swear he will pay it." Yeah, he was that kind of brother. :')

Seingat saya dia pribadi yang kreatif, tapi pembosan. Seandainya di masa dia remaja grafiti sudah hype, mungkin dia biasa bikin grafiti yang bagus sekali. Dia juga selalu kreatif dalam memasak. Dia tidak pernah membuat mi instan sesuai instruksi standar, dia selalu punya cara untuk memodifikasi mi instan dan hasilnya enak. Biasanya sebelum masak mi instan dia akan bertanya dulu, "dila, mauko juga?" kalau saya mau, dia akan masak buat saya juga.

I missed him sometimes. My mother still cried on him sometimes. My father still cried in silent while he read Al-Quran. It's not because we didn't let him go. Not because we haven't let him go. It just so sad that we, somehow, almost forgot how is it feels when he was here.

If he were here today, saya mungkin sedang bersama keluarga saya, makan kue ulang tahunnya atau sekedar memberi ucapan selamat. The first or the second birthday after he's gone, we bought a birthday cake in his birthday, cut it, and ate it together. Wishing him a better place somewhere. We didn't do it today. Maybe because we've been let him go. Peacefully. :)

Sabtu, 02 Juni 2012

Hey Daddy, I Love You! :)

I made a post about my Mom in Mother's Day. And there is no Father's Day. No, not in Indonesia. And I didn't post anything about my father in his birthday. It suddenly came up in my mind that I have to write about him. So, here we go:


It's my father who help me fix my bike.
It's my father who teach me how to swim.
It's my father who accompany me watching MotoGP race since junior high school.
It's my father who accompany me watching football for years.
It's my father who always ask me about my day at school.
It's my father who made me a tumbler full of coffee when i should go to the airport in the midnight.
It's my father who always ask me if i still have enough money in my pocket.
It's my father who cover me with blanket at night.
It's my father who create a "crazy Sunday" when we have to clean the mosque near my house.
It's my father who teach me how to plant corn. And we nurse it until we can harvest it and share it to the neighbors.
It's my father who ask me to stop reading Harry Potter at night cuz it must hurt my eyes. Then i go to my room, turn the light off, and keep reading the book with flashlight in my blanket.
It's my father who made me some herbal medicine when i was sick. That's why i never tell him that i'm sick.
It's my father who brought me a lost turtle that he found at the drain. He named it Turles. Hehe
It's my father who made me a windmill from bamboo.
It's my father who tell me bedtime story.
It's my father who tell a speech when he asked to sing. hehe


and It's me who never realize all of that fact about him. :'(


I write this to remind me that every time I mad of him, I should remember that he has been very understanding, caring, loving, patient, wisely in raising me this recent 21 years. Now, It's my turn.

Kamis, 31 Mei 2012

Memorable Photograph :')

I always have no problems in enjoying my me-time.


Tulisan ini ditulis saat saya sedang sendiri saja di sebuah tempat ngopi di salah satu mall di kota saya. Tapi saya tidak sedang minum kopi, saya minum green tea. Salah satu favorit saya saat ini, mungkin minggu depan ganti lagi. hehe.

Karena sedang tidak membawa buku apapun, (saya sedang baca Sejarah Dunia dalam 10 1/2 Bab, yang tiba-tiba raib entah kemana) saya memutuskan membawa laptop. Mumpung modem saya kuotanya masih aduhai untuk berselancar. So, here I am! Karena melihat kondisi yg agak ramai, rasanya tidak memungkinkan untuk buka-buka akun orang lain *mental stalker*, akhirnya saya menggali foto-foto lama dari akun fesbuk saya sendiri. Dan, sukseslah saya ketawa sendiri. So, laugh with me!! :)




Pensi jaman SMA, bersama teman saya Chika.
Maafkan ke-labil-an saya dan Chika di foto ini. Foto ini diambil pada Pensi di tahun terakhir saya di SMA. Saya dengan santainya bercelana pendek dan berkaos oblong. Sedangkan Chika memakai rok dan kaos. Entah setan apa yang merasuki saya dan Chika, you can see the stamp mark in my cheek. Saat orang lain dengan hebohnya bebaju bling-bling dengan rambut yang ditata rapi di salon, kami dengan santainya berpakaian rumahan. Saat orang lain menstempel punggung tangan, kami di Pipi! Kalo dulu sudah ada FPI mungkin saya dan Chika sudah dicekal. #eh. Mana Chika pake bando tanduk setan. Hahahah.

Diklat Selam Pertama Divisi Bahari KPA Kalpataru Smansa :)
Lagi-lagi foto ini dipenuhi pose labil khas jaman SMA. Foto ini diambil di Pulau Barrang Lompo, Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Inilah pertama kali saya menyelam di laut. Wow, what a great experience! Di sini saya masih kelas 2 SMU, dengan santainya bolos sekolah 2 hari buat Diklat Selam. Saya ingat dulu saya tidak berbohong ke orang tua saya buat bolos sekolah. Orangtua saya begitu saja merestui anaknya bolos demi menyelam. Rawk!! hehehe.


Rundown Acara Sesat yang dibuat Teman saya.
Inilah foto ter-epic yang berhasil buat saya ketawa sendiri. Waktu itu, tahun 2009, saya dan teman-teman angkatan saya menjadi panitia Inaugurasi. Dan, muncullah rundown acara lucu-lucuan ini di FB. Saya tidak ingat siapa yang membuat. Ini dia rangkaian acaranya:

  1. Senam Santai. Mmm..okelah, sebelum acara senam santai dulu. Bolehlah.. hehhe
  2. Makan Malam. Nah, setelah senam, waktunya makan malam, kan lapar, jadi harus makan dulu. Yah... sampai sini masih normal lah. hihiihi..
  3. Debus. What! hahaha. Demi apa di Inaugurasi ada debus? Memangnya penjual obat di depan MTOS. Hahaha. 
  4. Pesugihan. Ini jelas-jelas sudah jauh menyimpang. Di inaugurasi ada pesugihan. Tapi kalo dipikir-pikir wajar lah pikiran untuk pesugihan itu datang. Inaugurasi angkatan saya diadakan di hotel berbintang 4 setengah, yang khusus sewa Ballroom saja menghabiskan sekitar 22 Juta. Go Pesugihan!!!
  5. Tari Daerah Barbados. Seumur hidup saya belum pernah liat tarian daerah Barbados. Jadi bolehlah... hehehe. Saya kalo dengar kata barbados yang muncul di kepala saya adalah wanita-wanita berkulit gela dengan hiasan kepala penuh buah-buahan. Eksotis!!
  6. Band. Acara yang paling menjengkelkan di Inaugurasi. Semua band dari tiap angkatan mau tampil. Mulai dari yang suaranya pas-pasan, sampai yang memang tidak ada harapan.
  7. Parade. Parade apakah ini? Tidak jelas.
  8. Pengukuhan Itho sebagai Presiden RI. Ini. Benar. Benar. Absurd. Saya baru tahu setelah baca Rundown Sesat ini kalo dulu Itho bercita-cita jadi Presiden RI. Akhirnya dia sekarang jadi aktivis Stand Up Comedy..
  9. Vaksin H1N1. INI SUPER ABSURD!!!! hahahaha.. memang jaman saya inaugurasi dulu, lagi marak-maraknya flu babi. H5N1-Flu burung, H1N1-Flu Babi. Akhirnya inaugurasi ditutup dengan vaksin flu babi! hahahaha... 


Pretending as a Kangaroo with my brother.
Untuk foto yang terakhir ini, nantilah saya ceritakan di postingan saya tanggal 4 Juni.

Thanks for reading!
Ciao!

Senin, 21 Mei 2012

Bercerita Cita-Cita

It just a random post about some random memories. If you're looking for a meaningful-inspiring-deep post then you may read a wrong article. or blog :)


Saya masih ingat fase perubahan cita-cita saya. Untuk hal ini saya harus berterima kasih kepada keluraga saya yang menjadikan ini sebagai lelucon sehingga hal ini sulit dilupakan.

Umur 4,5 tahun..


Dila cita-citanya apa?
Jadi konglomomerat.

Baiklah, terima kasih yang pertama adalah kepada Susan dan Kak Ria Enes yang telah menyanyikan lagu "Cita-Cita" dengan melodi yang sangat mudah diingat oleh anak seusia saya saat itu. Di antara seluruh cita-cita ngawur Susan, jatuhlah pilihan saya kepada "konglomomerat". Kenapa bukan dokter? Padahal dokter bisa suntik orang lewat. Juga kenapa bukan insinyur? Saya juga tidak tahu. Hanya saja kata "konglomomerat" rasanya membius sekali. Sebuah kata panjang yang susah dilafalkan ternyata bisa saya lafalkan dengan baik. Maka itulah cita-cita saya.

Umur 5 tahun, setelah pulang bermain dari rumah teman yang baru pulang berlibur..


Dila cita-citanya apa?
Jadi Sempati Aerok

Yang pertama, Sempati Aerok bukanlah sebuah profesi. Bahkan bukan kata sama sekali. Itu hanya kata yang saya karang sendiri karena mendengar cerita teman saya dengan setengah-setengah. Teman saya bercerita tentang pramugari di pesawat yang ia tumpangi pulang berlibur. Saya curiga pesawat tersebut berasal dari maskapai Sempati Air. Dan dengan ingatan anak umur 5 tahun, saya memilih profesi tersebut sebagai cita-cita. Saya bahkan belum pernah naik pesawat untuk tau pekerjaan pramugari a.k.a. Sempati Aerok itu seperti apa. Ternyata saya sudah nekat sejak umur 5 tahun. Di umur 6 atau 7 tahun saya pertama kali naik peasawat. Pesawat kecil dengan jumlah penumpang mungkin tidak cukup 20 dan tanpa pramugari. Hanya seorang cabin crew yang merangkap teknisi yang merangkap paman saya. Saya akhirnya boleh mengantongi permen lebih banyak dari penumpang lain. Saya senang sekali, tapi cita-cita saya saat itu telah berubah.

Umur 6 tahun, setelah beberapa bulan pandai membaca. tapi tidak pernah dengan teliti.


Dila cita-citanya apa?
Jadi OSIS seks.

Inilah dia yang menjadi aib saya saat pembicaraan mengenai cita-cita muncul di tengah keluarga. Ini semacam cerita yang jika suatu hari saya mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia, cerita ini akan menyerang saya dalam bentuk black campaign. Sungguh sial saya tidak pernah membaca dengan teliti dan bermulut besar di waktu yang bersamaan. Saat itu kakak saya yang SMP pulang ke rumah dan dengan senangnya memberi tahu orang tua saya kalau dia terpilih menjadi pengurus OSIS. Melekatlah kata OSIS ini di kepala saya. Ah, baiklah it must be something cool, seeing my sister's enthusiasm while talking bout it, it must be something really cool. Setelah mengingat-ingat kata keren itu saya lalu membaca struktur organisasi yang dibawa pulang kakak saya. Jadi ada ketua, wakil, sekertaris (bukan sekretaris), dan bendahara. Dan banyak kata "sek." yang diikuti kata-kata lain di belakangnya. Wow, saya mau menjadi salah satu dari "sek." itu. Dan jadilah cita-cita saya OSIS seks. Dari manakah "s" kedua dari kata "sek."?? Saya tidak tahu, mungkin karena ketidaktelitian saya membaca, mungkin juga karena kata "sek." mengingatkan saya pada kata "seksi".

Di tahun-tahun berikutnya cita-cita saya berubah sesuai dengan apa yang sedang getol saya nonton. Mulai dari Penjinak Hewan Liar (kelas 4 SD) karena sering menonton tayangan seorang laki-laki menangkap anaconda/ular berbisa/buaya dll. Lalu pernah pula ingin menjadi Pengamat Politik (Kelas 5-6 SD) karena sering menonton tayangan berita bersama bapak saya. Bapak saya mewanti-wanti jangan jadi politikus, sehingga saya berpikir untuk menjadi pengamat politik saja. Yang penting saya bisa berbicara politik. Pernah pula saya ingin menjadi mekanik, saya ingin membuka bengkel modifikasi mobil. Saya tidak ingat apa yang saya tonton hingga bercita-cita menjadi mekanik. Bapak saya seorang mekanik alat berat. Saya pernah bertanya "Pak, kalau mau jadi mekanik harus sekolah apa?" Seingat saya bapak tidak menjawab.

Cita-cita lain yang pernah saya impikan adalah Penulis Lagu, saya pernah mengarang sebuah lagu yang saya tuliskan di kertas binder. Lalu Penulis Cerpen, karena keseringan membaca cerpen di Majalah Bobo. Pernah pula saya ingin menjadi relawan. Yah, yang ini mungkin bukan cita-cita. Tapi saat gempa di Yogyakarta dan sekitarnya beberapa tahun lalu saya sempat minta izin ke bapak saya. "Pak, kalau saya ke Jogja untuk jadi relawan boleh tidak?" Seingat saya lagi-lagi Bapak tidak menjawab. Tapi kali ini saya tahu betul jawabannya. Tidak.

Kalau ditanya apa cita-cita saya sekarang, saya pusing. Mungkin lebih baik tanya saya besok :)

Selasa, 15 Mei 2012

Conversation in delusion


it's funny how a photograph cold makes you smile, or even laugh. but end with a bitter taste in your tongue. Like a sweet candy that usually brings a toothache.
it's funny how a photograph could bring a same feeling every time you stare it. a same feeling that you have when it's taken.
it's funny how a photograph could talk to you, told you that in the time that it's taken, you are happy
well, you were happy. I was happy.


But the photograph said: "it's not me, dear. It's your memory!!"
I laughed, awkwardly, and say: "you bring it to my mind. like you pull it to the surface of the water when it's going to sink. so it's you. your fault. why don't you let it sink!"
The photograph then look at me with a commiserated face. "i'm just capturing moment, love. you're the one who in charge to fill it. whether with a happiness, or sadness. so do not blame me for those memories that came. all i can show you is what you feel that time. it is you, who see your happiness in the past as something to cry on today."

i look at the photo once again. look at our smile once. try feel the feelings once again.
"am i that happy that time?" i whisper to the photograph.
"you were. and you are, if you want." the photograph said shortly. "is it hurt?" he ask me back.
i look at the photo once again. well I actually cant take my eyes off of it. i answer it reluctantly. "it is. it is hurt to know that i only can see our smile in a piece of paper."
"a piece of paper that can makes your mood's swing." the photograph said stubbornly. I thought he feel offended.
"yes. a piece of paper that can swing my mood." I laugh.
We both laugh.

-a photograph did cause a delusion-

Kamis, 03 Mei 2012

Gagal Menulis Puisi :|

Saya selalu ingin (kembali) menulis puisi. Saya dulu menulis puisi. Sejak SD hingga SMU. Saya menulis apa saja dalam bentuk puisi. Meski lebih banyak karena urusan hati. Saya ingat terakhir kali saya menulis puisi mungkin 5 atau 6 tahun yang lalu. Saya ingat puisi itu berawal dari camping saya di Lembah Ramma, Gunung Bawakaraeng. Waktu itu gerimis dan sedikit berkabut, tiba-tiba saya teringat kakak saya yang meninggal setahun sebelumnya. Dia juga senang camping di tempat ini, pikir saya saat itu. Saya sedih dan menulis puisi.

Beberapa tahun berjalan sejak itu dan tidak ada satupun puisi yang saya tulis. Saya tidak tahu kenapa. Tidak tahu mengapa beberapa tahun belakangan ini saya terlalu sibuk menetapkan standar bagi diri saya. Tidak boleh menangis, itu lemah. Tidak boleh manja, itu lemah. Tidak boleh mengeluh, itu lemah. Saya takut menjadi pribadi yang (terlihat) lemah. Dan "menulis puisi" tidak berada pada jalur yang sama dengan predikat "tangguh", "kuat", "tegar", "mandiri", dan lain lain menurut saya. Silahkan tidak setuju, karena hari ini saya pun tidak setuju dengan itu.

Saya ingin (kembali) menulis puisi. Tapi selalu gagal. Tulisan ini terus terang diketik pada kolom yang sama tempat puisi-puisi gagal saya dihapus. Ya, saya punya banyak puisi gagal. and it's really frustrating. Puisi-puisi gagal dari penulis gagal. Kata "gagal" itu menjengkelkan sekali.

Saya ingin (kembali) menulis puisi. Tapi saya lupa rasanya. Saya lupa bagaimana rasanya menulis puisi. Saya lupa rasanya menuliskan perasaan saya dengan bahasa kiasan. Saya lupa rasanya menuliskan kata-kata puitis tanpa merasa diri saya konyol. and again, it's really frustrating. Saya lupa pada perasaan-perasaan yang mendorong saya menuliskan puisi. 

Hari ini saya benar-benar ingin sekali menulis puisi. Tapi karena saya tidak berhasil akhirnya saya menuliskan tulisan tidak penting ini. Mungkin lain kali blog ini punya puisi.

-May 4
*in the middle of moods swing

Kamis, 26 April 2012

Mewujudkan Mimpi Pemimpi :)


Kalau menuliskan bio atau keterangan tentang diri di sebuah situs sosial, saya sering kali menulis kata "dreamer". Banyak orang lain melakukan itu. Terutama setelah boomingnya tetralogi Laskar Pelangi. Tiba-tiba "mimpi" menjadi "mungkin", padahal sejak dahulu tentu saja "mimpi" memiliki kemungkinan untuk terwujud. Kita hanya kurang percaya. Buku ini dengn kisahnya yang epic membuat kita percaya, atau lebih percaya, atau lebih berani bermimpi.

Saya bermimpi banyak sekali. Bermimpi menulis buku, dan menerbitkannya tentu. Saya bermimpi kuliah di luar negeri. Saya bermimpi menghabiskan masa tua dengan mengurus peternakan, atau pertanian. Saya bermimpi keliling dunia (klise, tapi mengapa tidak?). Saya bermimpi membangun sekolah gratis. Saya bermimpi ini dan itu.

Menurut saya mimpi terbagi atas dua, "to do something" atau "to be someone". Mimpi-mimpi saya yang saya tuliskan di atas adalah mimpi "to do something" atau mimpi melakukan sesuatu. kemarin saya baru saja menamatkan buku berjudul "Imperium" karangan "Robert Harris". Buku ini menceritakan hidup Cicero yang bermimpi menjadi pemengang kekuasaan tertinggi di pemerintahan Romawi. Terlepas dari buku ini yang banyak membahas politik pada masa itu, buku ini banyak mengajarkan saya tentang mimpi. Cicero yang berasal dari keluarga "biasa" non aristokrat yang bermimpi untuk menjadi Konsul. Hampir mustahil, jika tidak bisa dikatakan mustahil sama sekali. Mengingat pada masa itu kalangan aristokrat memiliki kekuatan besar dalam pemerintahan. Kalau mau tau lebih banyak tentang buku ini, resensinya dapat dibaca di sini.

Nah, mimpi Cicero ini menurut saya adalah jenis mimpi "to be someone" atau menjadi seseorang. Menjadi presiden, menjadi diplomat, menjadi CEO, menjadi wanita karir, atau menjadi Konsul dalam kasus Cicero. Pada dasarnya semua orang bermimpi, beberapa mimpi terkabul, beberapa mimpi tidak. Beberapa mimpi bertahan, beberapa mimpi bertransformasi akibat berkompromi. Beberapa mimpi terus dikenang dan beberapa mimpi pada akhirnya dilupakan.

Belakangan ini salah satu mimpi saya hampir terwujud. Saya mendaftar untuk pertukaran pelajar hasil kerja sama antara Fakultas saya dengan Utrecht University di Belanda sana. Awalnya saya bersemangat mengingat saya memang menginginkan kuliah di luar negeri. Tapi semakin jauh semangat saya meredup. Kenapa? Mimpi ini lumayan mahal dan saya tidak sanggup. Mungkin orang tua saya sanggup, tetapi jelaslah saya tidak. Sama halnya jika saya ditanya "kenapa tidak pakai BB?" jawaban saya "Saya tidak mampu beli."

Saya lalu merelakan mimpi yang satu ini. bukan dilepaskan, hanya ditunda dulu sampai saya benar-benar mampu. Saya ingat suatu hari saya bermaksud mendaftarkan beasiswa ke Amerika. Saya lalu memberitahu mamak saya, meminta didoakan agar bisa lulus. Saya masih ingat kata mamak saya, "Amerika? Padahal mamak selama ini doakan supaya kau bisa sekolah di Belanda." kata beliau sambil tersenyum canggung. Aneh kalimat ini terus membekas di benak saya. Mamak saya mendoakan agar mimpi saya terkabul, dan itu luar biasa. Dan saya bertekad sejauh itulah yang bisa saya harapkan dari orang tua saya, doa. Saya tidak boleh mengharapkan lebih, bahkan menuntut lebih. Doa sudah cukup dan harus cukup.

Memang tidak ada mimpi yang murah. Semua harus dibayar mahal. Bayarannya tidak mesti materi. Kerja keras, pengorbanan, semua adalah bayaran yang ditarik untuk menebus mimpi. Tapi menebus mimpi dengan materi yang bukan milik saya, bagi saya bukan menebus mimpi. Saya ingin berusaha dengan kemampuan saya. Di sini mungkin saya terdengar sombong, munafik, dan entahlah apa lagi. Tapi saya sudah berjanji kepada diri saya untuk mengurangi beban orang tua saya. Hal ini pula yang membuat saya giat mengejar gelar sarjana, agar tidak perlu membayar SPP untuk semester depan. Karena, lagi lagi saya tidak punya uang membayar.

Saya dulunya takut menceritakan mimpi saya Takut tidak terwujud dan akhirnya malu. Tapi saya lalu sadar bahwa tidak terkabul pun bukan kegagalan. Bukan hal yang memalukan. Jikalau pada akhirnya saya akan berakhir denegan menjadi PNS atau ibu rumah tangga atau apapun itu yang tidak saya mimpikan hari ini, toh bermimpi tidak merugikan saya.

Kita bermimpi dan mengejar mimpi kita dengan cara, prinsip, dan usaha masing-masing. Untuk saya inilah prinsip dasar saya mengejar mimpi, setiap orang boleh berbeda, setiap orang boleh tidak setuju. :)

Minggu, 08 April 2012

Mainan Aneh Anak-Anak Aneh part 1 :p






Kalau kalian bertanya kenapa quotes pembuka saya hari ini tentang old friend, itu karena saya tadi habis jalan bareng dengan teman saya dari jaman TK dan berlanjut hingga hari ini, sebut saja dia Angel, hahaha. Sepeti biasa, kalo saya dan dia bertemu, aktivitas yang akan kami lakukan hanya ngobrol dan ketawa. Saya ingat, dulu waktu kelas 3 SMP, saya yang teman sebangku dengan Angel harus dipisahkan oleh wali kelas karena kebanyakan ketawa. Kami masing-masing dipasangkan dengan anak laki-laki. Tapi siapa bilang gara-gara itu kami jadi berhenti ketawa. Kami memiliki semacam alarm otomatis yang jika ada hal yang lucu, kami akan langsung berpandangan dan tertawa terbahak-bahak. Kami berdua juga pernah dimarahi guru bahasa Inggris karena keseringan ketawa.

Yang menjadi bahan pembicaraan kami dulu adalah permainan-permainan yg sering kami mainkan dulu. Well, sebenarnya bukan hanya permainan, tapi lebih ke benda-benda yang dulu menurut kami sangat "menarik". Menarik dalam tanda kutip karena setelah dipikir-pikir, ternyata konyol sekali :). Ini diaaaa:

1.  Bunga Pete alias Karoke-karokean XD

Ini dia penampakan dari si bunga pete.

Sesuai dengan penampakannya yang mirip mikrofon, bunga pete ini akhirnya menjadi idola kami anak-anak jalan Timor-Maluku (daerah rumah saya dulu) yang tidak punya media untuk menyalurkan bakat menyanyi #eh. Di TiMa, bunga pete ini dapat dijumpai di 2 tempat, yaitu halaman belakang rumah Teguh dan halaman samping rumah Tante Edy tetangga saya. Nah, mengingat langkanya sumber bunga pete, berlakulah hukum ekonomi. Semakin langka suatu barang, maka akan semakin besar usaha yg diperlukan untuk mendapatkannya. Dalam kasus bunga pete ini, untuk bisa mendapatkan bunga pete dalam kondisi prima, maka harus memiliki mata yang jeli dan lari yang kencang. hahahhaha. Hal-hal aneh terjadi akibat bunga pete ini. Kadang saat jalan bersama teman-teman, tiba-tiba salah satu orang akan berlari meninggalkan yang lain. Apakah dia kesurupan? Kebelet pipis? Tidak, ternyata dia melihat bunga pete gugur dari kejauhan dan buru-buru lari untuk mengambilnya. Kadang saat jalan bersama, salah seorang teman tiba-tiba berbelok tanpa aba-aba. Apakah dia kerasukan? Hilang arah? Tidak, ternyata dia melihat ada bunga pete yang gugur di halaman orang dan buru-buru memungut sebelum yang lain menyadari. Benar-benar... betapa bunga pete dapa mempengaruhi perilaku seseorang. Hahahaha

Nah, bagi yang tidak bermata jeli dan berkaki lincah, maka hanya akan mendapatkn bunga pete dengan kondisi yang tidak maksimal. Tidak mirip mikrofon sama sekali.

Ini dia, bunga pete lansia menjelang kebotakan.

Tapi bukan berarti bunga pete dengan rambut gugur tidak berguna, ini berguna sebagai senjata. Bagian dalam dari bung pete itu kerasnya minta ampun, didukung dengan tangkai yang agak letoy, jadilah bunga pete ini sebagai senjata istimewa yang dapat digunakan menggetok kepala teman yang tidak memu meminjamkan mainan bongkar pasang. hahahaha.

2.  Bunga sukun atau yang dikenal dalam bahasa Makassar sebagai "Bakara"

Ini dia penampakan buah sukun langsung dari pohonnya

Ini dia penampakan bunga sukun. Sangat tidak mirip bunga sebenarnya. hehe


Dan untuk jelasnya, inilah foto bareng mereka. hahahah

Bunga sukun ini dapat ditemukan di belakang rumah Aldi, tapi yg menjadi rebutan bukan bunga sukun yang masih dipohon, tapi yang sudah gugur. Kalo bunga sukun gugur, dia biasanya berwarna hitam. Kalo hari sedang tidak hujan, bunga sukun ini akan mengering dan mudah untuk dibakar. Bunga sukun kering inilah yang jadi rebutan. Untuk apa? Untuk dibakar dan dijepit diantara jari telunjuk dan jari tengah. Karena proses terbakarnya bunga ajaib ini lambat dan menimbulkan asap, jadilah bunga sukun ini mirip dengan rokok. Dulunya kami berpikir beegitu, tapi sekarang jika dipikir-pikir, MIRIP ROKOK DARI HONGKONG!? Jelas-jelas ukuran bunga sukun ini lebih gede dari jempol, rokok macam apa coba? Kalo cerutu sih iya. Dan dulu, rasanya gaul banget main dengan bunga sukun a.k.a rokok KW 259 ini. Kalo sekarang saya hanya bisa berpikir, dulu definisi GAUL saya diterjemahkan sebagai ANEH jaman ini. hahahah

Sampai sini ada pertanyaan?
hahahaha

Sebenarnya saya mau cerita lebih banyak lagi, tapi berhubung mata saya tinggal 5 watt, jadi, postingan ini saya sudahi dulu. I promise will post another bizarre things in my childhood. Enjoy!!

buat yang mau baca lanjutannya, klik di sini

Selasa, 03 April 2012

Bedtime Story *yawn*

Tadi karen kakak saya telat balik dari kantor dan mamak saya sedang pergi melayat, akhirnya saya harus extra time jaga ponakan saya yang umur 1 tahun setengah. Setelah bosan nonton Barney dan nguber-nguber cicak (kegiatan favorit) akhirnya kami berdua mati gaya. Ponakan saya makin rewel, saya makin bete. Dan tiba-tiba saya nemu majalah Bobo jadul, dan mulailah saya membacakan Bobo ke ponakan saya yang bahkan belum lancar ngomong. Lucunya, dia menyimak dengan serius. Hehe.

Kejadian ini tiba-tiba bikin saya ingat dengan kebiasaan saya waktu kecil. Dulu, waktu Bapak saya masih bekerja shift-shiftan, jaman saya masih TK sampai awal SD. Setiap kali Bapak saya shift malam, beliau akan pulang pagi-pagi sekali setelah bekerja sekitar 8 jam. Berarti, Bapak saya akan ada di rumah waktu saya tidur siang. Kebiasaan kami berdua, sebelum tidur siang Bapak saya akan bercerita sampai saya tidur. Semacam bedtime story tanpa buku, murni ingatan bapak saya. Niatnya saya akan tertidur sebelum cerita selesai, tapi ujung-unjungnya, Bapak saya akan tertidur sebelum cerita selesai dan saya bebas main di halaman. hahaha

Saya masih ingat cerita-cerita yang sering menjadi bedtime story saya, tapi yang paling melekat di ingatan saya adalah Little Red Coat (si Tudung Merah, bukan si Tudung Saji) dan Tom Thumb (ituloh, cerita tentang anak yang sekecil jempol, saya lupa versi Indoesianya namanya apa). Dua judul Inggris tadi diceritakan oleh bapak saya dalam bahasa Indoesia tentu saja, tapi kalau saya tanya judulnya, bapak saya pasti menjawab judul versi English nya. Dan dulunya saya belum ngeh, saya pikir Litte Red Coat ya Litelretkot dan Tom Thumb ya Tomtam.

Setelah akhirnya sadar dengan anomali itu (ciyeee anomali.... hahaha) akhirnya saya nanya ke Bapa saya.
"Pak, kenapa dulu Bapak bisa tahu cerita macam Little Red Coat sama Tom Thumb?"
"Ooh.. dulu Bapak punya teman kerja orang bule, tiap makan siang, dia ajak bapak duduk sama-sama, trus dia cerita kalo dia rindu anaknya (yang gak diajak ikut ke Indo kayaknya). Jadi, dia cerita ke Bapak cerita-cerita yang sering dia bacakan ke anaknya kalo anaknya mau tidur. Tiap makan siang begitu, sampe bapak hapal."

Ternyata begitulah sejarahnya kenapa Bapak saya bisa tau cerita berjudul bahasa Inggris padahal bapak saya tidak pintar bahasa Inggris. hehe. Sekarang, kalo diingat-ingat, masa-masa Bapak menceritakan bedtime story ke saya itu berharga sekali. Kata kakak-kakak saya, hanya saya yang diceritakan bedtime story oleh Bapak, mungkin karena saya bungsu yah. :)

It makes me think that one day if I have a husband, he has to be a good storyteller for our kids. *awkward ending yah. hahahah*

Wrong Bedtime Story. hahaha. Taken from here

Jumat, 30 Maret 2012

soulmate = me + books

Tiap jalan ke toko buku saya selalu iri dengan anak-anak jaman sekarangg yang tinggal di kota-kota besar. Buku melimpah. Mau baca buku seperti apa, hampir semua ada di toko. Yang membatasi kita dengan membaca hanya uang dan kemauan. Punya duit buat beli buku atau tidak. Mau baca buku atau tidak.

Saya belajar membaca sejak Taman Kanak-Kanak, diajari bapak saya. Tidak pakai buku bacaan anak-anak yang bergambar warna-warni, karena saya tidak punya. Jadi pakai apa? Pakai apapun yang bertulisan. Headline koran atau majalah, buku pelajaran kakak saya, sampai tulisan topik berita yang muncul di samping pembaca berita TV. Alhasil TK B saya sudah bisa baca. Horeeeee..

Lantas, setelah bisa baca saya baca apa? buku-buku bacaan hanya ada di ruang kelas saya di TK (karena TK saya dulu belum punya perpustakaan). Saya ingat dulu punya buku "percakapan bahasa inggris" yang sebenarnya punya kakak saya. Bukunya sudah sangat tua, sampulnya yang kalo tidak salah hanya fotokopian sudah compang, jilidnya dibantu selotip. Di dalamnya ada percakapan-percakapan bahasa Inggris, itulah yg saya baca. Dengan lafal Indonesia tentu saja. dis is e banana, dis is e tri, dis is e banana tri. Gara-gara buku itu saya diajari percakapan bahasa Inggris abal-abal sama kakak saya.
"Hello Son!"
"Yes Fabi!"
Ini percakapan macam apa saya juga bingung. Btw, Son dan Fabi adalah nama tetangga saya yang berasal dari flores. Setelah saya pikir-pikir malah nama tetangga saya itu sekeluarga bernama Amerika Latin. Dan akhirnya pembicaraan sesaat nan sesat itu jadi anekdot yg menyerang saya sampa saat ini. hah!

Kembali ke baca-membaca, aakhirnya saya baca apa saja yg bisa dibaca. Daaaan, mulailah saya bergerilya mencari bahan bacaan di rumah saya. SAlah satu lokasi favorit saya adalah Lemari buku panjang yang di keluarga saya disebut "bopet" atau kadang "bupe'" yang saya yakin diambil dari kata "buffet". Nah, si bopet ini isinya buku pelajaran mulai dari kakak saya yang pertama (14 tahun lbh tua dr saya) sampai kakak sayang yang keenam (6 tahun lebih tua dr saya). Mengingat dalam kurun waktu 8 tahun orang tua saya punya 6 anak, jadi salah satu jalan penghematan dilakukan dengan mewariskan buku-buku pelajaran. Jadi, tidak ada yang namanya "membuang buku pelajaran" di keluarga saya, bahkan setelah saya mulai sekolah dan nyata-nyata tidak memakai buku pelajaran cetakan jadul. hehe. 

Dari bopet itulah saya dapat bahan bacaan berupa: buku pelajaran bahasa indonesia. hahaha. Kenapa buku pelajaran bahasa Indonesia? karena di dalamnya banyak bacaan seperti cerpen, cerita rakyat, puisi, dll. Kebiasaan ini terus berlanjut sampai SMA, setiap kali membeli buku cetak bahasa Indonesia, saya langsung mencari bacaannya lebih dulu. Nah, perkembangan buku bacaan saya akan saya uraikan dengan gambar, enjoy!
1. Buku Bahasa Indonesia Jaman Dahulu Kala
Buku cetak bahasa Indonesia jaman dulu.
 Eit, tapi jangan salah, buku bahasa Indonesia jaman dulu lebih kaya karya sastra macam cerita rakyat, pantun, puisi, dll. Favorit banget nih buat saya. Sangat berjasa sebagai bacaan di awal-awal saya pandai membaca.


2.  Buku Cerita Anak-Anak terbitan ElexMedia Komputindo
Akhirnya, mungkin karena kasihan liat saya baca buku pelajaran, kakak-kakak saya yang sudah tinggal di kota berinisiatif membelikan saya buku cerita anak-anak terbiatan Elexmedia Komputindo. Saya ingat pertama kali punya 4 buku macam ini. Gadis Penjual Korek Api, Si Tudung Merah, Heidi, dan yg satunya lagi saya lupa. hehe. Buku-buku saya yang seperti ini akhirnya terus bertambah.


3.  Komik Asterix

Setelah buku -bacaan anak-anak, saya lalu mulai baca komik, tapi masih komik-komik non jepang, macam Asterix, Lucky Luke, Smurf, dll. Tapi itu bukan modal beli, modal minjem. Pinjamnya di perpustakaan daerah, entah Makassar atau Sulawesi Selatan itupun kalo lagi liburan baru saya bisa kesana diajak kakak saya. Saya ingat di perpustakaan itu ada semacam ruangan khusus untuk bacaan anak-anak. Berkarpet dengan boneka beruang super besar. Ada yang tau perpus itu letaknya dimana? Saya selalu lupa nanya kakak saya.


4.  Buku Seri Lima Sekawan

Nah, kalo yang ini adalah buku tebal saya yang pertama. Seri lima sekawan (atau yg versi Inggrisnya Famous Five) yang judulnya minggat. Buku ini buku teman kakak saya kalo tidak salah, saya yang penasaran akhirnya ikut baca. buku ini saya baca lama sekali. diulang-ulang pula, karena banyak kata-kata yang masih sulit dicerna.. haha. Buku ini dikarang oeh Enid Blyton, wanita asal Inggris. Berawal dari buku ini saya jadi ngefans dengan buku-buku Enid Blyton yg lain, mulai dari Sapta Siaga, Empat Sekawan, Pasukan Mau Tahu, St. Clare, Mallory Towers, Si Badung, dll. Kalo mau ngasih saya hadiah, buku-buku ini ada di top list saya *ngarep* hahaha.


5.  GOOSEBUMPS!!!!

Buku berikutnya yang saya baca adalah.....goosebumps! Nah, buku inilah yang sukses membuat saya parno sejak kecil. Total jumlah buku ini 62 seri kalo saya ga salah. Saya mungkin baru membaca setengahnya. Kelas 3 SD baca goosebumps itu luar biasa begonya menurut saya. Tiap habis baca ini saya jadi sulit tidur, mana dulu ada buku goosebumps yang covernya gambar tengkorak yang glow in the dark. Huuu... Anehnya, walopun saya takut tiap habis baca buku ini, saya tetap kukuh membaca tiap kakak saya minjem dari temannya. hahahaa


6.  Doraemon. Buku wajib anak SD, ga baca doraemon ga gaul
Akhirnya saya sampai juga ke rezim Doraemon. eh? hahaha. Setelah menghabiskan puluhan hari minggu nonton di TV, akhirnya saya ketemu bukunya! Jadilah saya fans baru Doraemon. Dulu setiap liburan ke Makassar, saya dibolehkan membeli buku barang 2 atau 3 biji (tidak boleh beli mainan), dan saya selalu menghabiskan slot beli buku saya dengan DO RA E MON. Samapai-samapai ada suatu masa dalam hidup saya dimana saya dipanggil dengan nama "Nobi" yang diambil dari Nobita. Hadeeeh..


7.  Serial Cantik.
Komik romantis yang agak-agak lebay tapi bikin penasaran.
Faktor utama cinta monyet di kalangan anak SD.
Akhirnya saya keranjingan komik, setelah doraemon, saya beralih ke serial catik. Lalu serial misteri, laluu ke komik apapun yang bisa saya temukan. Ditambah lagi sekolah saya akhirnya membuat perpus yang isinya kebanyakan komik. Woow... heaven on earth buat saya. Saya sampe menawarkan diri bantu Bu Samsinar, petugas perus, buat sampul buku biar bisa pinjam lebih banyak buku. huu... benar-benar tipe #ModalMinjem.  hahaha.

8. Harry Potter.
Buku yang tiba-tiba membuat semua orang benci jd manusia biasa.
Untung saya bukan Muggle, bukan Darah Lumpur, saya Darah Penghianat. hahaha
Kelas 5 SD kakak saya yang pertama memberi saya hadiah Buku Harry Potter ke-3, Prizoner of Azkaban. Saya yang langsung setres karena buku ini tebalnya bukan main, berasa "biasa saja" menerima buku itu. Tapi, setelah saya baca....akhirnya saya jadi nge-fans! (lagi). Walopun sempat pusing karena belum baca buku 1 dan 2 (yang ternyata sudaj ada di perpus sekolah. saya kemana ajaa??) tapi moment bca buku ini sangat epic. #absurd. Akhirnya, setiap peluncuran buku-buku selanjutnya saya selalu masuk daftar antrian hard cover di Gramedia karena yg beli hard cover bisa baca lebih duluan dari yg beli sampul biasa (dan berhadiah tas. hehe). Saya ingat sekali waktu buku ke-6 tiba (Half-blood Prince), saya pura-pura sakit biar bisa bolos sekolah dan baca buku seharian. hahaha. Karena Harry Potter lah saya lalu mulai membaca buku-buku yang lebih tebal  lagi yang bergenre novel Fantasy.

Kalo yang berikut ini, buku-buku yang jadi favorit saya saat ini. 

 Komik Seri Miiko.
Bacaan anak-anak yang banyak dibaca orang dewasa. 
Faktor utama rebutan antara saya dengan ponakan yang SD kelas 4.


Komik Seri Fruit Basket
Tokoh di komik inilah yang bikin saya dipanggil KYO sama teman-teman. Kyo Soma, si Kucing dalam 13 Shio. Komik ini high recommended buat dibaca. Tamat dii nomor 22 kalo tidak salah. Bagus!!


Buku Karangan Jodi Picoult.
Jodi Picoult adalah salah satu pengarang favorit saya, buku-bukunya berputar masalah hukum dengan kasus-kasus tidak biasa. Saya banyak belajar tentang persidagan a la common law dari buku-buku Jodi Picoult. One of my fave is Perfect Match. U should read this!!


Diary of Wimpy Kid
Buku ini terdiri dari beberapa seri, tapi yang baru saya baca adalah buku yang pertama. Kenapa saya tidak mau membaca seri yang lain? karena saya tidak mau membaca versi bahasa Indonesia buku ini. Menurut saya, jika di-Indonesiakan, jokes nya kurang pas. Buku Diary of Wimpy Kid yang sanya punya memang berbahasa Inggris. 


The Bartimaeus Trilogy
Buku dari salah satu penulis favorit saya setelah Enid Blyton yaitu Jonathan Stroud. Bartimaeus Trilogy ini novel fantasi dengan jokes-jokes sarkastik. Yang bikin saya suka trilogi ini adalah Footnote nya! yep, buku ini sudah macam karya ilmiah, banyak footnotenya. ngomong-ngomong karya ilmiah, proposal saya di pembimbing apa kabar yaaaa.... #mendadakgalau


Ca Bau Kan
Kalo yang dibawah ini novel yang baru saja selesai saya baca. Bagus loh ternyata. Dulu pernah difilmkan dan saya tidak nonton. hahaha. kemarin tiba-tiba kepikiran buat baca setelah nemu di tempat rental. Gara-gara buku ini saya makin terobsesi dengan budaya tionghoa.


Cala Ibi
Kalau buku yang dibawah ini adalah buku yang pernah saya baca dan ga sampe habis. Kalo tidak salah buku ini saya baca waktu saya masih SMP, pas lagi liburan. Liburan habis, eh saya belum menamatkan buku ini. Di tempat rental juga ga ada. Di toko buku juga gak ada. Kalo ada yang punya, pinjam yaaaaah... heheh #lagilagimentalminjem.

Jumat, 30 Desember 2011

Kemah Menulis 2011, Hari Keenam, Hari Terakhir!! :')

30 November 2011...

Pagi itu bangun dengan kepala nyut-nyutan, hasil begadang semalam. Kamar lumayan kalang kabut karena hari itu harus ke kantor Mien R. Uno Foundation yang sedikit lebih jauh, jadinya harus berangkat lebih pagi. Saya lalu menyeduh kopi, berusaha menghilangkan sakit kepala. Lalu memutuskan dengan cepat untuk tidak mandi menghemat air. Harus peduli lingkungan bukan. Toh, kemarin sorenya saya sudah mandi. Hahaha.

Berangkatlah saya dan teman-teman ke sana. Dengan naik bus yang super padat penumpang. Berdiri pun padat empet-empetan. Tapi seperti pepatah lama karangan saya sendiri. It's no matter how you traveling, it's about who you travelling with. Jadi mau naik apa juga, semenderita apa juga, asalkan bersama orang-orang yang kalian senangi, rasanya akan tetap menyenangkan, sort of. Hehehe. Tapi memang hari itu perjalanan rasanya tidak begitu berat buat saya walaupun harus menggantung karena tidak dapat tempat duduk. Tetap seru karena sambil ngobrol dan bercanda dengan Ka Vando, Bang Ayos, dan teman-teman yang lain.

Di kantor Mien R. Uno Foundation kami kemudian diajak untuk berwirausaha. Kami dipertemukan dengan beberapa pengusaha muda yang sedang merintis usahanya. Yang pertama adalah dua orang pengusaha muda yang berjualan jagung yang dikemas dalam cup dan dijual berkeliling. Dua orang mas-mas ini *saya lupa namanya* benar-benar menginspirasi saya dari perjuangan mereka merintis usaha. Mereka benar-benar berjuang dari nol, dengan modal seadanya. Tapi, ada hal yang kurang mengena bagi kami. Yaitu, saat ditanyakan mengenai rencana kedepan dalam pengembangan bisnis mereka. Dengan santainya mereka menjawab: "Kalian tahu pohon? Nah, pohon itu tanpa diapa-apakan pasti akan tumbuh. Kami juga seperti itu."

Bagi teman-teman yang telah termotivasi dari beberapa sesi sebelumnya, tenatu saja kurang puas dgn jawaban tersebut. Kenapa? Karena kesannya kurang memotivasi kami yang bahkan belum memulai usaha. Saya cukup mengerti apa yang dimaksud dari kedua pengusaha tersebut bahwa mereka memilih "go with the flow", nggak ngoyo untuk mencari keuntungan. Tapi mungkin dapat ddijelaskan dengan mencari perumpamaan lain. Selain pohon maksudnya. Pengusaha kedua adalah wirasastawan muda yang menjalankan usaha penjualan sepeda lipat, atau folding bike. Pandai melihat pasar dan didukung modal yang mumpuni, si pengusaha kedua ini dapat menuai keuntungan yang lumayan. Kali ini dilengkapi pula dengan rencana kedepannya. Pengusaha ketiga adalah pengusaha konveksi. Saya jujur kurang mendengarkan penjelasan Mbak pengusaha yang ketiga ini. Soalnya saya ngantuk berat, kopi yang diminum tadi pagi rupanya kurang mempan. Selesai materi di kantor Mien R. Uno Foundation, kami kembali ke apartemen. Bersiap untuk acara penutupan di J.W. Marriott.

Sorenya, berangkatlah kami ke J. W. Marriott. Kali ini saya mandi dong. Horeee.. Di sana kami sempat mendengar kuliah singkat dari Prof. Arief Rachman, salah satu tokoh pendidikan di Indonesia. Lalu berbincang dengan Pak Nanan Sukarna yang kemarin belum sempat bertemu di Mabes Polri karena harus ke Aceh. Acara dimulai dengan beberapa sambutan. Lalu kuliah singkat oleh Pak Dahlan Iskan, yang saat ini menjabat sebagai Menteri BUMN. Beliau memaparkan perkembangan masyarakat ekonomi menengah yang turut menyokong ekonomi Indonesia dan diharapkan nantinya akan membantu pertumbuhan ekonomi kita. Juga ada pembacaan naskah essay yang memenangkan juara pertama yang malam itu dilakukan oleh Mira Lesmana. Saat essay Dhiora tersebut dibacakan, saya yang cengeng hampir nangis, untunglah Pak Toriq Hadad duduk di depan saya. Saya jadi malu buat nangis. Heheh.

Acara pun resmi selesai. Saya tanpa sadar flashback ke beberapa hari sebelumnya. Saya merngingat-ingat diri saya sebelum mengikuti acara ini. Rasanya ada yang berbeda. Tiba-tiba saja saya yang serba pesimis dengan Indonesia merasa tidak se-pesimis dulu lagi. Sebelumnya, saya memang menuliskan tentang membangun rasa optimis untuk mengubah Indonesia. Tapi selama ini saya pun tidak se-optimis itu. Apalagi setelah mempelajari hukum, melihat bahwa yang terjadi di masyarakat benar-benar jauh dari yang dicita-citakan dari hukum itu sendiri. Rasa optimis kadang dikalahkan oleh keinginan untuk realistis. Melihat sesuatu apa adanya, tidak berharap banyak.

Tetapi setelah mengikuti kegiatan ini selama enam hari, saya sadar bahwa masih banyak orang-orang yang peduli dengan Indonesia. Bukan hanya peduli, tapi benar-benar melakukan sesuatu untuk negara ini. Saya merasa beruntung bisa menemukan lagi rasa cinta saya kepada Indonesia melalui acara ini. Sayapun berpikir, jika sekolah-sekolah atau universitas-universitas mengubah proses orientasi siswa/mahasiswa baru dengan kegiatan semacam ini, tidak persis, cukup disesuaikan, maka pastilah akan jauh lebih baik dan bermanfaat. Dibandingkan ospek-ospek yang tidak jarang memakan korban.

Malam itu saya senang sekaligus sedih. Senang karena telah mendapatkan ilmu yang melimpah. Sedih karena harus berpisah dengan teman-teman yang baru mulai saya kenal dengan baik. Kekhawatiran awal saya mengenai kegiatan ini, pesereta-peserta lain, akhirnya tidak terbukti. Kegiatannya benar-benar menarik dan jauh dari membosankan. Peserta-pesertanya menyenangkan dan sama sekali saya tidak merasa tersingkirkan mengngat saya berasal dari luar Jawa. Rupanya saya yang telah terjebak dengan stereotip bahwa teman-teman yang dari Jawa sering diskriminatif terhadap kami sesama penduduk Indonesia namun berasal dari luar Jawa. Memang saya pernah mengalaminya beberapa kali, tapi saya seharusnya tidak lantas melakukan generalisasi terhadap tea-teman lainnya. Maaf yaaa... :')

Banyak hal yang tidak dapat saya jelaskan secara eksplisit disini. Yang jelas, pengalaman ini benar-benar berkesan bagi saya. Buktinya, hari ini, sebulan dari acara tersebut, saya masih dengan semangatnya menulis tentang event ini. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa saya menulis pengalaman mengikuti Kemah Menulis hingga enam postingan. Saya berpengalaman, saat saya ingin mencari tahu mengenai kemah menulis yang diadakan tahun lalu, sulit sekali memperoleh informasi yang dapat menjelaskan kegiatan ini. Apakah kegiatan ini membosankan? Mengingat namanya adalah Kemah Menulis, sangat identik dengan kesan serius dan formal. Hari ini belajar membuat essay, besok latihan menyempurnakan EYD. Tidak heran teman saya bertanya "Kamu kenapa? Capek karena seminggu tidak melihat matahari?" mengira kegiatan yang saya ikuti melulu dilakukan di dalam ruangan. Bukannya tidak menarik, hanya kurang menarik bagi sebagian besar kaum muda yang inginnya sesuatu yang lebih interaktif dan atraktif. Maka, saya berharap, dengan saya menulis sedikit mendetail mengenai acara ini, akan lebih menarik bagi siapapun yang ingin tahu kegiatan dari Kemah Menulis ini. Syukur-syukur bisa termotivasi untuk mengikuti kompetisi essay yang sama tahun depan.

Hal lain yang memotivasi diri saya untuk menuliskan cerita ini hingga enam seri, adalah saya ingin mendisiplinkan diri saya untuk menulis. Dan saya akui rasanya sulit. Maka saya berinisiatif untuk memulainya dengan menuliskan salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya, yaitu Kemah Menulis ini. Setidaknya, dengan menuliskan hal-hal yang saya sukai, saya lebih mudah mendisiplinkan diri.

Hari itu tanggal telah berganti menjadi tanggal 1 Desember. Sekitar pukul setengah 3 subuh. Saya berdiri di depan lobi apartemen ditemani beberapa teman. Seingat saya Rini, Raisa, Mbak Mita, dan Sisil, lalu ada Teguh, Dhiora, Bayu, dan Mas Bimo yang sudah susah-susah mencarikan Taxi. Maaf kalau ada yang terlupa. Saya pun berangkat ke bandara, siap meninggalkan Jakarta dengan penerbangan pukul 4 subuh. Minggu yang sungguh berarti bagi saya. 6 hari yang memperkaya wawasan, 6 hari yang menata ulang perasaan saya. Kepada diri saya, kepada orang-orang di sekitar saya, kepada negara ini. Selama ini menurut saya kalimat "I Love Indonesia" is a big bullshit, but since that day, I do love this country. Even I still wont say "I Love Indonesia", I am now trying to show Indonesia that I mean it. Dan apa yang lebih indah dari cinta yang ditunjukkan?

NB: Thanks for reading this such a shallow blog. I do hope you enjoy it!

Minggu, 18 Desember 2011


Hey Mom, it will be a Mother Day in 4 days ahead. I bet you didn't know that. I bet you even didn't remember today's date. Well, Mother's Day isn't something to celebrate in our family, rite? We only celebrate Idul Fitri and Idul Adha. Sometimes if we remember, we also celebrate some birthday. Dad's Birthday, Mine, Yours or the other family member. Last year, we buy you a chocolate cake. This year, i forgot to plan anything. I'm such a terrible kid. And just like years before, there also no gift in Mother's Day. I always feel that i should give you something, but then, i remember that our family didn't give gifts even in birthday. Our family didn't show our feeling explicitly. We didn't say sorry, we didn't say love, we show it. But somehow, what you did could interpret way differently then what you mean. Then I decide to write something.
Maybe, someday, i could put my ego aside and say this to you...

I wanna say thank you for my breakfast. and lunch and dinner. i'm such a jerk for being very picky for my food. even i know you've spend your time to serve it.
I wanna say thank you for all my clean clothes. I'm such a jerk in the days where i found that the clothes that i want to wear haven't washed yet.
I wanna say thank you for bring me my homework that i forgot at home to school.
I wanna say thank you for not mad at me when i dropped from my bicycle and get injured. Dad did.
I wanna say thank you for let me stay at home and skipped school even you know I was pretending that i was sick.
I wanna say thank you for buy me Bobo magazine for years even you know you should do saving for my sibling's school cost.
I wanna say thank you for let me go swimming all day long and get my skin tanned because of that.
I wanna say thank you for buy me candies to makes me feel better when I got chickenpox.
I wanna say thank you for three birthday parties.
I wanna say thank you for let me join extracurricular as much as i want.
i wanna say thank you for let me play in the rain when the other parents forbid their kid to do the same.
I wanna say thank you for let me buy book instead dolls.
I wanna say thank you for all prayer that you whisper for my succeed.
I wanna say thank you for let me spend your money in my bank account.
I wanna say thank you for bring me to the dentist when i got toothache.
I wanna say thank you for all tea in every morning and afternoon.
I wanna say thank you for capturing a lot of pictures when i was a kid and still collect it until now.
I wanna say thank you for let me go diving, climbing mountain, and hiking when the other parents would never think twice to say "No".
I wanna say thank you for not asking me when will I graduate.
I wanna say thank you for all Mom.

I know those things in the list below are just a small parts of your kindness. And i'm too stupid too remember the rest. Thank you very very very much Mom. You are my best and always be.

Selasa, 13 Desember 2011

saya dan organisasi (part 2)

Akhirnya saya punya mood buat lanjutkan salah satu postingan yang (ceritanya) bersambung. Sok-sokan pake kata "part 1" padahal "part 2" nya udah setahun tidak muncul-muncul. Hehehe. Tapi saya mendadak insyaf *alhamdulillah*. Saya akhirnya memutuskan untuk membuat tulisan ini. untuk part 1 nya dapat dilihat disini.

Sebenarnya kalo dipikir-pikir postingan ini ga ada penting-pentingnya. Apa pentingnya saya nulis tentang kehidupan non akademik saya dari TK sampai SMU. Toh saya bukan artis. Saya tidak punya fans yang mau tahu latar belakang kehidupan saya sebelum jadi artis. Alasan utama saya adalah, waktu saya nulis part 1 itu, saya sebenarnya ga tau mau nulis apa. Yang ada di kepala saya saat itu, ya hanya tentang aktivitas saya di luar kegiatan akademik. Dan jadilah tulisan itu. Se-simple itu. Saya jadi ingat kata seseorang: "dalam ngeblog, stop thinking, start acting, start writing!" Jadi ga usah banyak mikir, tulis saja apa yang sedang ada di dalam kepala. Toh blog ini punya saya, jadi mau mau saya dong. hehehe.

Sekolah Menengah Pertama

Nah, berbeda dengan di TK dan di SD, di SMP sudah ada organisasi-organisasi sederhana seperti Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) dan Majalah Sekolah (di sekolah saya namanya Spektrum). Ada juga Pramuka, Marching Band, Klub Fisika/Matematika/Biologi, dan tentu saja OSIS. Saya yang agak-agak alergi dengan hal-hal yang sifatnya agak kaku (memperhalus kata "karya tulis") tidak pernah ada niat sedikit pun buat gabung di KIR. Hahahah. Akhirnya saya ikut Spektrum. Sempat jadi reporter lapangan yang nyari-nyari berita.

Spektrum ini sebenarnya bukan majalah. Hanya artikel yang terbit setiap minggu. Hari Kamis atau hari Senin saya ga ingat lagi. Tapi sudah lumayan oke loh sistem kerjanya. Ada semacam rapat buat menentukan artikel berikutnya kita mau membahas apa. Selama bersama Spektrum saya ingat pernah mewawancarai "orang penting" yaitu: KEPALA SEKOLAH dan KEPALA YAYASAN (karena sekolah saya swasta). hahahaha. Saya ingat banget dulu wawancara kepala yayasan langsung di rumahnya.

20 menit saya cuma dorong-dorongan sama partner saya, Lina, di depan rumah kepala yayasan karena ga ada yang berani ngetuk pintu duluan. Pas wawancara terlaksana, saya dan Lina tidak bisa konsentrasi karena pak kepala yayasan pake celana pendek yang....pendek banget. Hot pants nya nikita willy aja kalah. Setelah wawancara pun di perjalanan pulang saya dan Lina masih ga bisa berhenti ketawa karena mendengar saura kami di walkman rekaman yang bertanya dengan nada canggung campur nahan ketawa. hahaha. Saya juga pernah dapat tugas meliput pertandingan bola antar kelas. Kenapa saya yang seorang wanita? Saya juga ga tau. Sampe sekarang saya masih menyimpan notes yang ada coretan hasil liputan pertandingan itu, yang selalu berhasil buat saya ketawa. Karena ada tulisan Ball Position: 55-45. Jangan tanya saya angka itu dari mana. Hahahaha. Saya akhirnya sadar, saya waktu itu ga cocok jadi wartawan. Saya ga bisa tahan ketawa kalo ketemu narasumber yang aneh-aneh macam Pak Kepala Yayasan. hihihi.

Kegiatan lain yang saya gandrungi jaman SMP adalah: Berkemah. Ck, saya selalu senang tiap dengar kata ini. hehehe. Saya ingat, dulu SMP saya selalu mengadakan kegiatan berkemah tahunan. Semua siswa dari kelas 1-3 boleh ikut. Tempatnya ganti-ganti, tapi hanya terbatas pada 2 tempat: Bumper atau Bumi Perkemahan, yang memang merupakan lokasi yang dikhususkan untuk kegiatan-kegiatan perkemahan. Bumper ini lumayan angker, soalnya di bukit yang terletak di belakangnya terdapat lokasi pekuburan umum untuk warga kota kecil saya, semacam TPU. Tempat yang kedua adalah Enggano Camp, sebuah tempat yang dulunya adalah camp pekerja tambang (kalau saya tidak salah, sekarang difungsikan kembali) yang terdiri dari beberapa bangunan seperti barak-barak dengan kamar. Enggano tidak kalah angkernya. Saya sudah pernah merasakan berkemah di kedua tempat ini. Saya belum pernah mengalami hal-hal mistis, hanya beberapa orang teman yang kesurupan.

Pernah suatu kali, saya diceritakan oleh kakak kelas saya, perkemahan tahunan yang dilaksanakan di Enggano berubah ricuh. Di malam jurit banyak yang bertemu makhluk halus sehingga rute harus dipotong dan jurit diakhiri sebelum waktunya. Malam api unggun pun dipenuhi oleh siswi-siswi yang tiba-tiba kesurupan. Siswa-siswa diinstruksikan tidur di bangunan utama, tidak di tenda untuk mencegah lebih banyak yang kesurupan. Setelah dipulangkan ke rumah ternyata masalah belum selesai. Beberapa siswi ternyata masih mengalami kesurupan di rumah masing masing. Proses belajar mengajar selama seminggu juga tidak efektif. Tiap hari masih saja ada siswi yang jatuh pingsan dan kesurupan. Ck, kalau saya produser atau sutradara, mungkin fenomena ini sudah saya angkat jadi film. Pasti lebih seru dibandingkan hantu-hantuan dengan pemeran wanita berbikini.

Untunglah hal itu terjadi saat saya masih SD kelas 6. Tahun depannya, saat saya kelas 1 SMP, perkemahan diadakan di Bumper. Aman tenteram. Saya beruntung tidak pernah mengalami hal demikian, paling banter setelah pulang berkemah saya hibernasi sehari-semalam (kurang tidur), gatal-gatal (kurang mandi), makan tanpa kendali (kurang makan), dan badan penuh luka (kurang jaga diri). hahaha.

Di kelas 3 (atau 2 saya tidak ingat), sekolah saya membentuk tim marching band. Terpilihlah angkatan saya untuk jadi angkatan pertama team marching sekolah. Saat itu saya ditunjuk menjadi pemain Belyra. Itu loh, alat musik puluk yang memainkan melodi lagi dengan suara ting ting ting. Saya senang sekali bisa jadi pemain Belyra, di angkatan saya, saya pemain belyra satu-satunya. Jadi pemain belyra lumayan susah, harus hapal notasi lagu, harus tahu kapan harus mulai memainkan lagu, harus sesuaikan tempo dengan pemain drum, tapi bagaimanapun, saya senang sekali bisa jadi pemegang belyra pertama di grup marching sekolah saya.

Hal yang paling tidak bisa saya lupakan adalah pencalonan ketua OSIS. Waktu itu saya masih kelas 2 SMP, berarti saatnya angkatan saya yang menjabat kepengurusan OSIS. Dalam pencalonan Bakal Calon Ketua OSIS, ternyata ada yang memilih saya. Walhasil, saya menjadi 1 dari 3 bakal calon ketua OSIS SMP saya. Saya menjadi balon perempuan satu-satunya. Saat itu, sehari semalam saya berpikir keras. Apa untung ruginya jika saya jadi ketua OSIS. Yang jelas kerjaan Ketua OSIS tingkat SMP pasti tidak terlalu banyak. Kegiatan rutin OSIS yang diadakan di sekolah saya saat itu antara lain Lomba Tujuh Belasan, Peringatan Valentine's Day (jangan tanya), Peringatan Hari Olah Raga Nasional dan kadang festival-festival seni antar kelas. Tapi bukan itu yang menjadi fokus utama saya.

Ahirnya saya resmi mengundurkan diri sebelum kampanye dimulai. Kenapa? Saya tidak mau foto saya di poster kampanye jadi korban kebiadaban tangan tangan jahil remaja-remaja tanggung di sekolah saya. Seperti tahun tahun sebelumnya, poster kampanye akan jadi sasaran empuk para seniman kreatif sekolah. Mata dipasangi penutup mata bajak laut, rambut tiba-tiba berubah style menjadi gaya punk, pipi bercodet dan berjerawat, kepala bertanduk, sebut saja. paling apes kalo foto kampanyenya memperlihatkan gigi, tiba-tiba gigi kita hitam-hitam, dari bibir menetes darah, bibir menebal. Belum lagi kalo di atas kepala ditambahi kalimat-kalimat mesum. Ah, beratnya cobaan menjadi pemimpin lembaga intra sekolah. Saya menyimpulkan saya belum siap. Di tahun sebelumnya saya adalah orang pertama yang akan berkeliling mading ke mading menertawai gambar-gambar demikian. Saya belum sanggup menertawakan diri sendiri. hahaha

Selain kegiatan-kegiatan di atas, semasa smp saya juga senang membaca puisi. Saya langganan menjadi pembaca puisi di acara-acara sekolah, seringnya musikalisasi puisi. Sambil menyanyi, bukan main musik. Saya belum bisa main musik. Selain itu saya senang hiking dengan teman-teman. Main tenis di malam hari kalau tidak hujan, yang akhirnya akan berakhir dengan main uji nyali ke tempat-tempat angker.

Masa-masa SMP bisa saya claim sebagai salah satu masa terbaik selama sekolah. Di SMP pula lah saya membentuk geng. Bukan geng nero, bukan. Namanya berganti-ganti, mulai dari Greatiful Dead -yang tidak ada artinya- yang saya ambil dari nama band Grateful Dead (kalo tidak salah) di plesetkan sedikit. Lalu berganti jadi Trixie -lagi lagi tidak ada artinya- yang saya lupa nama itu diambil dari mana. Geng saya masih ada sampai sekarang walaupun personelnya sudah tersebar di mana mana. Saya, Lina, dan Gita di Makassar, Fenty di Jogja, Linda di manado, dan Gina di Bali. Kami berasal dari latar belakang agama yang beragam, Saya islam, Lina dan Gita katolik, Linda dan Fenty protestan, dan Gina hindu. Kami dapat membuktikan bahwa agama tidak pernah jadi hambatan dalam pertemanan. Saat natal, kami ke rumah yang merayakan Natal. Saat Lebaran, mereka ikut berkunjung ke rumah saya, saat Nyepi, kami menghargai Gina dan memberi selamat saat Galungan.

yah...jadi kepanjangan gini. Akhirnya ga muat buat cerita SMU. hehe. Nantilah kalo ada mood lagi. hehehe..

Kamis, 08 Desember 2011

Diskriminasi Diam Diam


Ck...lagi lagi saya akan curhat. Saya ga tau harus menyalahkan siapa. Hujan yang tak kunjung henti kah, sisa sisa memori mengikuti Kemah Menuju Indonesia kah, atau diri saya sendiri yang sepertinya tidak tahan liat hujan dikit aja. Liat hujan dikit aja langsung galau maksudnya. Manusiawi kah? Lebih ke apoloji menurut saya. Hahaha...

Curhatan hari ini tentang diskriminasi. Karena itu judulnya "Diskriminasi Diam Diam". Saya hanya ingin membahas kecendrungan kita untuk diskriminasi terhadap orang lain. Ternyata diskriminasi tidak hanya kita lakukan terhadap orang-orang yang berbeda Ras, Warna kulit, Suku, dll. Tapi juga terhadap orang-orang yang kita anggap berbeda, contohnya terhadap penderita HIV/AIDS. Diskriminasi ini mungkin tidak kita lakukan secara sadar. Mungkin hanya dalam bentuk guyon, atau tulisan pendek sambill lalu, tapi ini benar terjadi. Dan apapun bentuknya, diskriminasi tetap diskriminasi.

Cerita dimulai saat tadi siang buka facebook saya nemu status kakak perempuan saya. Intinya dia merasa sedih, karena menerima Broadcast Massage yang sifatnya mendiskriminasi penderita HIV/AIDS. Bukan hal itu yang membuat saya sedih. Saya sedih membaca komentar seorang facebookers terhadap status tersebut. bunyi komennya kurang lebih seperti ini: "sudah resiko, berani berbuat harus berani bertanggung jawab."

Membaca komentar itu saya sontak sedih bukan main, hampir nangis. Saya tidak mengatakan bahwa komentar tersebut jahat atau bagaimana. Itu hak seseorang dalam ber-media sosial. Saya hanya menyayangkan, harusnya setiap komentar yg dituliskan bisa lebih bijak. Bisa lebih dipikirkan sebelumnya. Bisa lebih simpatik lah setidaknya. Kalau memang tidak setuju, jangan terlalu cepat menghakimi. Toh masih ada pilihan untuk "diam".

Senjata saya mengatakan demikian adalah, tidak semua penderita HIV/AIDS mendapatkan virus tersebut dari perbuatan yang tercela. Tidak semua penderita HIV/AIDS adalah wanita tuna susila, atau orang-orang yang gonta-ganti pasangan, atau pecandu narkoba. Terlepas dari itu, sebenarnya, tidak sepenuhnya salah mereka hingga mereka terinfeksi virus tersebut. Seperti penderita HIV/AIDS yang terinfeksi akibat pemakaian jarum suntik yang berganti-gantian. Banyak alasan seseorang menjadi pecandu narkoba. Beberapa dari mereka berangkat bukan dari kemauan sendiri. Banyak faktor di luar diri seseorang yang dapat menjadikan seseorang pengguna-pecandu narkoba. Entah itu masalah di dalam keluarga, ajakan lingkungan, korban pergaulan, dll. Saya yakin, hampir tidak ada orang yang mau terinfeksi virus HIV/AIDS. Tidak ada orang yang bercita-cita mendapatkan predikat Orang Dengan HIV Aids (ODHA).

Jadi kalimat "berani berbuat berani bertanggung jawab" rasanya kurang etis untuk digunakan. "Terinfeksi virus HIV/AIDS" rasanya bukan bentuk tanggung jawab. Itu mungkin adalah resiko, tapi demi Tuhan, hal itu tidak terdengar sebagai "tanggung jawab".

Saya yakin pendapat seperti si-penulis-komentar di atas masih lazim kita temukan di masyarakat. Memang bukan salah mereka sepenuhnya, pendidikan formal mengenai hal ini masih belum begitu memasyarakat. Tapi saya tetap yakin bahwa selalu ada pilihan untuk lebih bijak menilai suatu masalah. Dan sekali lagi, masih ada pilihan untuk "diam".

Saya ingat dulu saya punya teman yang kakaknya adalah ODHA. Yang membuat saya miris adalah dengan antengnya dia bercerita bahwa keluarganya sudah tidak peduli lagi dengan kakaknya tersebut. Si kakak yang kritis dibiarkan di rumah sakit (masih dibiayai-untungnya) tanpa ada anggota keluarga yang menunggui. Ya Tuhan, kalau mengingat hal itu saya mau menangis (lagi). Hingga hari ini saya tidak berani dan tidak pernah punya nyali untuk menanyakan bagaimana kabar si kakak.

Saya tidak habis pikir, mengapa kita dapat sangat mudah bersifat diskriminan terhadap orang lain. Sifat diskriminan terhadap ODHA tentu saja jarang kita temui dalam bentuk yang terang-terangan. Mengingat mereka cenderung menutup-nutupi dari masyarakat kita yang kejam. Tapi sadar atau tidak, sifat diskriminan masyarakat dapat terlihat pada aspek-aspek lain. Masih belum ada gambaran? Nah, berapa kali kalian mendengan kalimat: "ih sial banget deh hari ini aku se angkot dengan banci" atau "ya ampun, masih pagi udah ketemu banci, bakalan sial nih." Berapa kali? Saya sering. Saya benci kalimat-kalimat seperti itu. Tidak ada relevansinya sama sekali antara ketemu banci dengan nasib sial atau untung. Saya tidak tahu apa dasar mereka berkata demikian.

Hal yang sama akan kita temui saat melihat wanita-wanita dengan cadar atau dengan pakaian serba hitam dari ujung kepala hingga kaki. Saya sering mendengar kata-kata ejekan kepada mereka. Sedih rasanya. Mereka hanya melakukan apa yang mereka yakini. Terlepas dari kita menyetujui atau tidak, apa yang mereka kenakan toh tidak merugikan bagi kita. Jika pun ada yang merasa dirugikan, bersabar selalu lebih baik dari menghujat.

Saya tidak menyangka betapa keras reaksi masyarakat kita terhadap hal hal yang mereka anggap "tidak biasa". Padahal belum tentu yang "tidak biasa" itu "tidak baik". Kita terlalu cepat termakan stereotip. Kita terlalu mudah menghakimi orang lain. Kita terlalu sempit memaknai perbedaan.

Keinginan saya sederhana, jika kita tidak mampu untuk menyetujui, cukup mengerti. Jika kita tidak mampu untuk mengerti cukup bersimpati. Jika kita tidak mampu untuk bersimpati, maka cukuplah kita diam dan simpan pendapat di dalam hati.

if you don't wanna say YES for these questions, do this simple thing: silent. :)
foto ini dipinjam dari www.chip.co.id

Minggu, 04 Desember 2011

Saya lagi Galau. Lalu?

Hari ini saya terserang sesuatu yang kata anak jaman sekarang GALAU. padahal, perasaan galau ini udah dari jaman kapan hinggap di manusia. kenapa baru booming sekarang? saya juga tidak tahu. intinya, rasanya kata galau ini lebih akrab di telinga kita akhir akhir ini. tapi, rasa galau udah berakar di hati kita dari jaman SMP. hahaha

kemarin saya sempat ngutak ngatik FB yang sudah lama tidak saya acuhkan. dan tiba-tiba, ketemulah tulisan berupa notes saya. yang kurang lebih, sangat.......galau. hahaha

simak aja dulu, nanti akan saya bahas sedikit. ini dia:

cerita orang2 yang pergi..


by Radillah Khaerany Tanca on Monday, September 21, 2009



walaupun tulisan ini sama sekali tidak penting.
stidaknya saya akhirnya dapat memulai kebiasaan lama yang dengan "sengaja" dulu saya tinggalkan.

cerita tentang orang2 yang pergi..

pernah merasa ditinggalkan seseorang?
mungkin 'pernah'. 'pasti pernah'.atau tidak ingin mengaku 'pernah'.
yang jelas saya pernah. saya pernah merasa ditinggalkan seseorang. atau beberapa orang.

mengapa hanya merasa? bukankah orang itu memang "pergi"

iya. benar orang itu "pergi". tapi sebenarnya (setidaknya menurut saya) tidak.
orang2 yang saya anggap meninggalkan saya tidak pernah pergi.
mereka masih ada.

mereka hanya memilih untuk tidak memandang ke arah kita,
kita tidak bisa memandang ke arah mereka,
atau pandangan kita dan mereka tidak lagi tertuju ke hal yang sama.

mungkin sedikit absurd (bahkan untuk saya yang notabene penulis note ini).
tapi, saya sering mencermati..pergi atau ketiadakpergian, meninggalkan atau ditinggalkan, semua hanya masalah pandangan.

pandangan ini meniadakan kita dari mereka.
saat kita masih memandang mereka dan mereka memilih untuk tidak memandang kita.
saat itulah kita merasa ditinggalkan.

jadi...saat beberapa teman mengatakan "dia meninggalkan saya"
menurut saya tidak.

dia, orang2 yang kita anggap pergi, hanya melakukan hal kecil.

"mereka memilih untuk tidak lagi memandang ke arah kita..."


setelah saya baca lagi. entah kenapa rasanya lucu bercampur aneh. tulisan ini saya buat di tahun 2009. saya mulai flashback, emang saya ditinggalin sama siapa ya waktu itu? saya tidak berhasil mengingat apapun. hahaha..


selain itu, hal yang lucu buat saya adalah note ini sok filosofis. sok dramatis. padahal waktu saya baca ulang, saya malah ga terlalu bisa menangkap maksudnya. yah... begitulah anak muda yang lagi galau kayaknya. banyakan ngelanturnya daripada mikirnya.


tapi dibalik semua hal-hal kritikal yang nyangkut di kepala saya, tiba-tiba saya tersadar dengan 1 hal. dulu, waktu istilah galau belum se-populer ini, saya rasanya lebih gampang mengungkapkan sesuatu. mau itu melankolis, menye, atau apapun itu, saya merasa dulu saya lebih mudah mengungkapkannya. sekarang? ck, karena adanya istilah galau, sedikit demi sedikit saya mulai menarik diri dari menulis seuatu yang bersifat perasaan. kenapa? takut dikatain galau. ironis. ironis kenapa saya juga ga tau.


karena note ini akhirnya saya sadar. saya bebas mau nulis apa saja selama itu tidak mengganggu orang lain. mau galau, melankolis, dramatis, apapun itu. itu hak saya. hak kalian juga. saya tidak boleh berhenti hanya karena asumsi dan cap orang lain. agak-agak nyambung dengan quotes nya Bill Chosby:

"I dont know what the secret of being success, but i know the secret to not success is trying to pleased everyone."