Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Oktober 2012

Read and Writing, Books and Author

Halo temans,
Selamat Idul Adha :)

Tiap kali mengucapkan selamat Idul Adha saya jadi ngeblank selanjutnya mau tulis apa. Hahaha. Ummm, mungkin bagusnya saya mengutip tweet Mas Goenawan Mohamad:
"Yang dirayakan hari ini adalah keikhlasan yang tak minta dirayakan."
Jadi begitulah kira-kira. hehe

Postingan kali ini sy maksudkan untuk menuliskan tentang buku-buku terakhir yang saya baca dan penulis mana yang sedang saya kagumi. Saya bermaksud menjadikan hal ini kebiasaan rutin. Menulis tentang beberapa buku atau penulis di blog ini. Maksudnya untuk berbagi bahan bacaan dengan orang lain, plus untuk menjadi feedback dari kegiatan membaca saya. Here we go!

-Buku-
Hari kamis kemarin saya baru meminjam 2 buah buku di tempat rental. Yang pertama judulnya Truly, Madly karangan Heater Webber, dan yang kedua judulnya The Espressologist karangan Kristina Springer.


Tidak tahu kenapa di mesin pencari Google sy sulit menemukan cover versi Indonesia dari kedua buku tersebut. Cover Truly, Madly hampir identik dengan versi Indonesia nya, tapi cover The Espressologist beda jauuuuuuh sekali dari versi yg terbit di Indonesia. 

Untuk yang suka buku dengan genre roman kedua buku ini lumayan menghibur. Bonusnya adalah, tidak ada adegan percintaan yg belebihan, dan banyak pengetahuan baru yg bisa didapatkan. Di buku The Espressologist sy belajar tentang kopi yang ternyata bisa diracik menjadi ratusan, ya ratusan, jenis minuman. Setelah membaca buku ini saya langsung terkagum-kagum dengan profesi barista. Oh iya, di akhir buku ada resep racikan beberapa jenis kopi. Asyik!

Saya tidak bermaksud membuat review terhadap kedua buku ini. Yang ingin sy ceritakan adalah saya memilih kedua buku ini dengan sambil lalu di tempat rental, setelah membaca keduanya, saya terkejut karena kedua buku ini secara umum bercerita tentang hal yang sama. Matchmaking a.k.a Makcomblang. Aduh. Kedua buku ini bercerita tentang usaha menjodohkan orang-orang. Kalau buku Truly, Madly bercerita tentang perjodohan melalui aura, The Espressologist menjodohkan orang-orang berdasarkan kopi yg mereka minum. hahahaha. Ajaib sekali dua buku ini jatuh di  tangan saya dalam minggu yg sama.

-Penulis-
 Nah, kali ini tentang penulis. Penulis yang belakangan ini sedang saya kagumi adalah Rick Riordan dan Mario Puzo.

Rick Riordan



Mario Puzo

Buku Rick Riordan pertama yang saya baca adalah The Throne of Fire dari Seri The Kane Chronicles yang ceritanya disesuaikan dengan legenda Masir Kuno lengkap dengan dewa-dewa dan karakteristik mereka. Awalnya saya ingin membaca seri Percy Jackson yang berdasarkan legenda Yunani Kuno, tapi karena kebiasaan buruk saya adalah malas membaca buku yang sudah kepalang difilmkan, akhirnya saya meninggalkan Percy Jackson. Buku yang terakhir saya baca adalah The Lost Hero dari seri Heroes of Olympus yang memunculkan Legenda Romawi Kuno. Rick Riordan memang jenius. Sejak dulu saya tertarik dengan semua legenda-legenda kuno tersebut, tapi malas membaca literatur yang sifatnya terlalu formal. Maka buku-buku Rick Riordan semacam solusi bagi otak saya yang lebih suka cerita fantasi. Oh iya, kalau disuruh memilih diantara kedua seri yang pernah saya baca, sy lebih memiih seri Kane Chronicles yang menurut saya humornya lebih lucu dengan sarkasma ala British. Hehe.

Mario Puzo. salah satu lelaki Itali favorit saya. Dari semua buku Mario Puzo saya baru membaca The Godfather dan Omerta. Saya bermaksud membaca The Last Don tapi belum berhasil menguatkan diri untuk menyewa. Masalahnya buku The Last Don yang ada di tempat rental langganan saya sudah lumayan tua, sementara saya alergi debu buku tua. Mungkin minggu depan. Yah, pada dasarnya saya suka semua buku yang bersetting Italia atau bercerita tentang Italia atau apapun itu yang menyinggung tentang Italia. Maafkan saya, tapi sepertinya saya memang terobsesi. heheh. Saya tidak pernah menonton film The Godfather yang fenomenal itu. Tidak. Saya memilih membaca bukunya terlebih dahulu sebelum menonton film nya. Saya tidak mau merusak kebahagiaan membaca buku tersebut karena harus terbayang-bayangi oleh para pemeran filmnya. Hal yang akhirnya saya sadari setelah Harry Potter dan Twilight Saga. Saya tidak keberatan dengan Hary Potter sebenarnya, yang jadi masalah besar saya adalah para pemeran Twilight Saga. Hehehe. Tapi setelah membaca The Godfather saya malah semakin malas saja mencari filmnya. hehe. Saya suka cara Mario Puzo menggambarkan hal-hal dalam kehidupan mafioso dengan ringan. Misalnya tentang pengampunan dalam buku Omerta. Saat Don Aprile berdebat dengan Nicole anaknya mengenai hukuman mati. Don Aprile berpendapat dengan ia mengampuni seseorang yang telah bersalah ia telah mengambil tugas Tuhan. Maka menurutnya, manusia seharusnya tidak mengampuni manusia lain karena itu menghina Tuhan. Bukan berarti saya setuju, tapi tetap saja, argumen tersebut menarik. Hehe. Masih banyak buku Mario Puzo lain yang belum saya baca, mudah-mudahan kapan hari saya bisa menemukan buku-buku tersebut.

That's all for today. Kapan-kapan kita cerita tentang buku-buku yang lain lagi. :)

Jumat, 30 Maret 2012

soulmate = me + books

Tiap jalan ke toko buku saya selalu iri dengan anak-anak jaman sekarangg yang tinggal di kota-kota besar. Buku melimpah. Mau baca buku seperti apa, hampir semua ada di toko. Yang membatasi kita dengan membaca hanya uang dan kemauan. Punya duit buat beli buku atau tidak. Mau baca buku atau tidak.

Saya belajar membaca sejak Taman Kanak-Kanak, diajari bapak saya. Tidak pakai buku bacaan anak-anak yang bergambar warna-warni, karena saya tidak punya. Jadi pakai apa? Pakai apapun yang bertulisan. Headline koran atau majalah, buku pelajaran kakak saya, sampai tulisan topik berita yang muncul di samping pembaca berita TV. Alhasil TK B saya sudah bisa baca. Horeeeee..

Lantas, setelah bisa baca saya baca apa? buku-buku bacaan hanya ada di ruang kelas saya di TK (karena TK saya dulu belum punya perpustakaan). Saya ingat dulu punya buku "percakapan bahasa inggris" yang sebenarnya punya kakak saya. Bukunya sudah sangat tua, sampulnya yang kalo tidak salah hanya fotokopian sudah compang, jilidnya dibantu selotip. Di dalamnya ada percakapan-percakapan bahasa Inggris, itulah yg saya baca. Dengan lafal Indonesia tentu saja. dis is e banana, dis is e tri, dis is e banana tri. Gara-gara buku itu saya diajari percakapan bahasa Inggris abal-abal sama kakak saya.
"Hello Son!"
"Yes Fabi!"
Ini percakapan macam apa saya juga bingung. Btw, Son dan Fabi adalah nama tetangga saya yang berasal dari flores. Setelah saya pikir-pikir malah nama tetangga saya itu sekeluarga bernama Amerika Latin. Dan akhirnya pembicaraan sesaat nan sesat itu jadi anekdot yg menyerang saya sampa saat ini. hah!

Kembali ke baca-membaca, aakhirnya saya baca apa saja yg bisa dibaca. Daaaan, mulailah saya bergerilya mencari bahan bacaan di rumah saya. SAlah satu lokasi favorit saya adalah Lemari buku panjang yang di keluarga saya disebut "bopet" atau kadang "bupe'" yang saya yakin diambil dari kata "buffet". Nah, si bopet ini isinya buku pelajaran mulai dari kakak saya yang pertama (14 tahun lbh tua dr saya) sampai kakak sayang yang keenam (6 tahun lebih tua dr saya). Mengingat dalam kurun waktu 8 tahun orang tua saya punya 6 anak, jadi salah satu jalan penghematan dilakukan dengan mewariskan buku-buku pelajaran. Jadi, tidak ada yang namanya "membuang buku pelajaran" di keluarga saya, bahkan setelah saya mulai sekolah dan nyata-nyata tidak memakai buku pelajaran cetakan jadul. hehe. 

Dari bopet itulah saya dapat bahan bacaan berupa: buku pelajaran bahasa indonesia. hahaha. Kenapa buku pelajaran bahasa Indonesia? karena di dalamnya banyak bacaan seperti cerpen, cerita rakyat, puisi, dll. Kebiasaan ini terus berlanjut sampai SMA, setiap kali membeli buku cetak bahasa Indonesia, saya langsung mencari bacaannya lebih dulu. Nah, perkembangan buku bacaan saya akan saya uraikan dengan gambar, enjoy!
1. Buku Bahasa Indonesia Jaman Dahulu Kala
Buku cetak bahasa Indonesia jaman dulu.
 Eit, tapi jangan salah, buku bahasa Indonesia jaman dulu lebih kaya karya sastra macam cerita rakyat, pantun, puisi, dll. Favorit banget nih buat saya. Sangat berjasa sebagai bacaan di awal-awal saya pandai membaca.


2.  Buku Cerita Anak-Anak terbitan ElexMedia Komputindo
Akhirnya, mungkin karena kasihan liat saya baca buku pelajaran, kakak-kakak saya yang sudah tinggal di kota berinisiatif membelikan saya buku cerita anak-anak terbiatan Elexmedia Komputindo. Saya ingat pertama kali punya 4 buku macam ini. Gadis Penjual Korek Api, Si Tudung Merah, Heidi, dan yg satunya lagi saya lupa. hehe. Buku-buku saya yang seperti ini akhirnya terus bertambah.


3.  Komik Asterix

Setelah buku -bacaan anak-anak, saya lalu mulai baca komik, tapi masih komik-komik non jepang, macam Asterix, Lucky Luke, Smurf, dll. Tapi itu bukan modal beli, modal minjem. Pinjamnya di perpustakaan daerah, entah Makassar atau Sulawesi Selatan itupun kalo lagi liburan baru saya bisa kesana diajak kakak saya. Saya ingat di perpustakaan itu ada semacam ruangan khusus untuk bacaan anak-anak. Berkarpet dengan boneka beruang super besar. Ada yang tau perpus itu letaknya dimana? Saya selalu lupa nanya kakak saya.


4.  Buku Seri Lima Sekawan

Nah, kalo yang ini adalah buku tebal saya yang pertama. Seri lima sekawan (atau yg versi Inggrisnya Famous Five) yang judulnya minggat. Buku ini buku teman kakak saya kalo tidak salah, saya yang penasaran akhirnya ikut baca. buku ini saya baca lama sekali. diulang-ulang pula, karena banyak kata-kata yang masih sulit dicerna.. haha. Buku ini dikarang oeh Enid Blyton, wanita asal Inggris. Berawal dari buku ini saya jadi ngefans dengan buku-buku Enid Blyton yg lain, mulai dari Sapta Siaga, Empat Sekawan, Pasukan Mau Tahu, St. Clare, Mallory Towers, Si Badung, dll. Kalo mau ngasih saya hadiah, buku-buku ini ada di top list saya *ngarep* hahaha.


5.  GOOSEBUMPS!!!!

Buku berikutnya yang saya baca adalah.....goosebumps! Nah, buku inilah yang sukses membuat saya parno sejak kecil. Total jumlah buku ini 62 seri kalo saya ga salah. Saya mungkin baru membaca setengahnya. Kelas 3 SD baca goosebumps itu luar biasa begonya menurut saya. Tiap habis baca ini saya jadi sulit tidur, mana dulu ada buku goosebumps yang covernya gambar tengkorak yang glow in the dark. Huuu... Anehnya, walopun saya takut tiap habis baca buku ini, saya tetap kukuh membaca tiap kakak saya minjem dari temannya. hahahaa


6.  Doraemon. Buku wajib anak SD, ga baca doraemon ga gaul
Akhirnya saya sampai juga ke rezim Doraemon. eh? hahaha. Setelah menghabiskan puluhan hari minggu nonton di TV, akhirnya saya ketemu bukunya! Jadilah saya fans baru Doraemon. Dulu setiap liburan ke Makassar, saya dibolehkan membeli buku barang 2 atau 3 biji (tidak boleh beli mainan), dan saya selalu menghabiskan slot beli buku saya dengan DO RA E MON. Samapai-samapai ada suatu masa dalam hidup saya dimana saya dipanggil dengan nama "Nobi" yang diambil dari Nobita. Hadeeeh..


7.  Serial Cantik.
Komik romantis yang agak-agak lebay tapi bikin penasaran.
Faktor utama cinta monyet di kalangan anak SD.
Akhirnya saya keranjingan komik, setelah doraemon, saya beralih ke serial catik. Lalu serial misteri, laluu ke komik apapun yang bisa saya temukan. Ditambah lagi sekolah saya akhirnya membuat perpus yang isinya kebanyakan komik. Woow... heaven on earth buat saya. Saya sampe menawarkan diri bantu Bu Samsinar, petugas perus, buat sampul buku biar bisa pinjam lebih banyak buku. huu... benar-benar tipe #ModalMinjem.  hahaha.

8. Harry Potter.
Buku yang tiba-tiba membuat semua orang benci jd manusia biasa.
Untung saya bukan Muggle, bukan Darah Lumpur, saya Darah Penghianat. hahaha
Kelas 5 SD kakak saya yang pertama memberi saya hadiah Buku Harry Potter ke-3, Prizoner of Azkaban. Saya yang langsung setres karena buku ini tebalnya bukan main, berasa "biasa saja" menerima buku itu. Tapi, setelah saya baca....akhirnya saya jadi nge-fans! (lagi). Walopun sempat pusing karena belum baca buku 1 dan 2 (yang ternyata sudaj ada di perpus sekolah. saya kemana ajaa??) tapi moment bca buku ini sangat epic. #absurd. Akhirnya, setiap peluncuran buku-buku selanjutnya saya selalu masuk daftar antrian hard cover di Gramedia karena yg beli hard cover bisa baca lebih duluan dari yg beli sampul biasa (dan berhadiah tas. hehe). Saya ingat sekali waktu buku ke-6 tiba (Half-blood Prince), saya pura-pura sakit biar bisa bolos sekolah dan baca buku seharian. hahaha. Karena Harry Potter lah saya lalu mulai membaca buku-buku yang lebih tebal  lagi yang bergenre novel Fantasy.

Kalo yang berikut ini, buku-buku yang jadi favorit saya saat ini. 

 Komik Seri Miiko.
Bacaan anak-anak yang banyak dibaca orang dewasa. 
Faktor utama rebutan antara saya dengan ponakan yang SD kelas 4.


Komik Seri Fruit Basket
Tokoh di komik inilah yang bikin saya dipanggil KYO sama teman-teman. Kyo Soma, si Kucing dalam 13 Shio. Komik ini high recommended buat dibaca. Tamat dii nomor 22 kalo tidak salah. Bagus!!


Buku Karangan Jodi Picoult.
Jodi Picoult adalah salah satu pengarang favorit saya, buku-bukunya berputar masalah hukum dengan kasus-kasus tidak biasa. Saya banyak belajar tentang persidagan a la common law dari buku-buku Jodi Picoult. One of my fave is Perfect Match. U should read this!!


Diary of Wimpy Kid
Buku ini terdiri dari beberapa seri, tapi yang baru saya baca adalah buku yang pertama. Kenapa saya tidak mau membaca seri yang lain? karena saya tidak mau membaca versi bahasa Indonesia buku ini. Menurut saya, jika di-Indonesiakan, jokes nya kurang pas. Buku Diary of Wimpy Kid yang sanya punya memang berbahasa Inggris. 


The Bartimaeus Trilogy
Buku dari salah satu penulis favorit saya setelah Enid Blyton yaitu Jonathan Stroud. Bartimaeus Trilogy ini novel fantasi dengan jokes-jokes sarkastik. Yang bikin saya suka trilogi ini adalah Footnote nya! yep, buku ini sudah macam karya ilmiah, banyak footnotenya. ngomong-ngomong karya ilmiah, proposal saya di pembimbing apa kabar yaaaa.... #mendadakgalau


Ca Bau Kan
Kalo yang dibawah ini novel yang baru saja selesai saya baca. Bagus loh ternyata. Dulu pernah difilmkan dan saya tidak nonton. hahaha. kemarin tiba-tiba kepikiran buat baca setelah nemu di tempat rental. Gara-gara buku ini saya makin terobsesi dengan budaya tionghoa.


Cala Ibi
Kalau buku yang dibawah ini adalah buku yang pernah saya baca dan ga sampe habis. Kalo tidak salah buku ini saya baca waktu saya masih SMP, pas lagi liburan. Liburan habis, eh saya belum menamatkan buku ini. Di tempat rental juga ga ada. Di toko buku juga gak ada. Kalo ada yang punya, pinjam yaaaaah... heheh #lagilagimentalminjem.

Minggu, 25 Maret 2012

Buku dan Film

Halo, postingan kali ini saya lagi mau membahas tentang buku yang sedang saya baca saat ini dan Film yang saya tonton baru-baru ini.

Dimulai dengan Buku. Setelah sekitar satu setengah bulan berhenti baca buku fiksi biar bisa fokus nulis proposal skripsi, akhirnya saya luluh juga *apa coba*. Mumpung proposal saya masih ada di pembimbing 2, saya ngisi waktu dengan baca buku yang saya rental di Snoopy seperti biasa.

Sebelum memilih buku saya biasanya sudah menentukan kali ini saya mau baca buku apa. Fiksi, Non-fiksi, science-fiction, komik, chicklit, biografi, dll. Kali ini saya memutuskan untuk membaca buku fiksi yang ringan-ringan saja. Dan jatuhlah pilihan saya pada sebuah buku fiksi berjudul Wedding Officer yang diIndonesiakan menjadi Pejabat Pernikahan. Kenapa saya memilih buku ini karena saya pernah baca buku lain yang ditulis oleh pengarangnya. Pengarang buku ini namanya Anthony Capella, sebelumnya dia udah pernah nulis buku yang judulnya The Food of Love.

Berhubung saya belum menamatkan buku Wedding Officer, jadi lebih baik saya cerita tentang buku The Food of Love saja. Kalo saya ga salah buku ini bersetting di Italia, tepatnya kota apa saya lupa *maaf* hehe. Intinya buku ini penuh dengan cerita tentang si tokoh utama pria yang jago masak makanan italia. Lengkap dengan segala intrik percintaan yang lumayan "panas" hehe. Tapi yang benar-benar menawan hati saya adalah penggambaran tentang masakan italia beserta bahan-bahan dan cara memasaknya. Tentang pasta dan antipasto, bumbu-bumbu khas italia, dan ciri-ciri masakan italia yang walaupun berjenis sama tapi tiap-tiap daerah punya khas masing masing. Apakah itu bumbu masakan, cara memasak, atau cara menyajikan. Memang sejak dulu saya sudah jatuh hati dengan negara itu. Saya jatuh hati tepat pada pertandingan sepakbola  italia pertama yang saya tonton di TV, waktu iu Fiorentina lawan entahsiapa. Saya fokus ke Fiorentina karena pemainnya cakep-cakep. Mudah ditebak. Berawal dari sepak bola. Semenjak itu saya selalu ngiler pengen ke itali.

Ini dia cover buku The Food of Love


Nah, buku the Wedding Officer masih bersetting di Itali, dan masih banyak menceritakan tentang masakan italia. tapi bedanya, kali ini settingan waktunya sekitar tahun 1944, di tengah-tengah perang dunia kedua. Cerita awalnya tentang kota Naapoli yang porak-poranda karena perang. Akhirnya pelacuran meraja lela. Pemerintah Inggris, yang merupakan bagian dari tentara sekutu, resah dengan banyaknya perkawinan yang dilakukan antara tentaranya dengan pelacur Itali yang ceritanya cantiknya nggak manusiawi. Untuk menekan angka pernikahan, dibuatlah pejabat pernikahan yang tugasnya menyurvei para wanita yang berniat menikah dengan tentara Inggris. Kalo terbukti pelacur, ya nggak boleh nikah. Saya ingat di buku ini ada kalimat "tidak akan ada laki-laki yang fokus berperang jika 60 mil di belakangnya ada istri cantik menunggu di rumah." hahaha.

Oh iya, gara-gara baca buku ini, saya sampe kebawa mimpi. Ada bagian di buku ini yang menceritakan saat ada seorang gadis kecil yang datang meminta selimut sebagai imbalan karena telah melayani prajuri Inggris. Ya, ceritnya saat itu, wanita-wanita menjual diri untuk apa saja. Selimut, sabun, makanan, penisilin (buat ngobatin penyakit kelamin) dll. Saya jadi kebawa mimpi. Saya mimpi beli mi ayam di langganan saya pake baju 5 potong. Benar-benar absurd.

Ini dia cover buku Wedding Officer

Selesai membahas buku, tadi saya habis nonton The Raid bareng teman-teman kampus. Sebenarnya saya tidak begitu suka dengan film-film action yang berdarah-darah. Saya sukanya science-fiction tau kalo action paling banter yang militer-militeran lah. Tapi berhubung kayaknya The Raid ini mengebohkan jagad perfilman dalam egeri, akhirnya saya nonton juga. Bagus loh ternyata. Saya yang nonton bareng teman-teman cewek harus terkagum-kagum ria dengan kekerenan para pemain film itu. Apalagi Firda yang secara tidak manusiawi  ngefans dengan Iko Umais. Hahaha. Berikut teman-teman saya dan lelaki idoanya masing-masing:

Ini dia yang bikin Firda hampir dibantu oksigen selama nonton film The Raid:

Kalo yang ini, resmi bikin saya mendefinisikan ulang masa depan saya *absurd* dan sabrina tiba-tiba rabies dan menyerang saya habis-habisan karena gemes. Hahaha


Kalo yang ini si Sersan Jaka (yang mirip Daniel Mananta) yang bikin Bon lupa utang #eh?
Yang pegang pisau loh ya bukan yang pegang pistol!

Nah, selain tiga pria tadi, masih ada lagi 2 lelaki yang resmii membuat Sabrina, Bon dan Firda (kecuali saya) Klepek-klepek. Ini dia:
Pria ini kami curigai terinspirasi dari gangster asal maluku yang barusan ditangkap polisi. yaah.. you know who. Pria-pria yang berasal dari pulau berinisial Kei #eh


Nah, the last but not least! jeng jeng jeng jeeeeeeeng!! Mad Dog a.k.a. Mas Joko (kata Sabrina) a.k.a Ki Joko Bodo KW 2 (kata Bon)

Pria inii adalah manusia super yang secara mencengangkang tidak mati-mati walopun sudah dihujani pukulan, tendangan, bantingan, tamparan, pitingan, dan injakan. Mungkin dia akan mati kalo dihujani CIUMAN. hahaha. Entah apa resep bertahan hidup dari pria ini. Mungkin tiap pagi dia sarapan barbel. Kata Bon pasti dia rajin minum ginseng, macam Bon hidup serumah saja dengan dia. Teori Sabrina adalah dia rajin makan Sari Roti. Saya makin bingung, apakah Bon atau Sabrina yang serumah dengan pria ini. Teori saya adalah, dia rajin minum Extra Joss. Hahaha.

Intinya film The Raid ini wajib ditonton. Bagus!!!!!

Selasa, 17 Januari 2012

Indonesia dalam ChickLit Learning Curves :B

Akhirnya ngepost lagi. Beberapa hari belakangan saya sedang menjalani aliran hidup baru berbasis ajaran Zen, yaitu hidup sederhana. Bukan karena ajaran Zen nya sih, tapi lebih karena saya emang kere ga punya duit. Heheh. Pulsa modem habis, dan saya belum punya uang buat ngisi lagi. Jadi hari ini saya ngepost dengan modal minjem laptop Bon a.k.a Sri Rahayu dan dengan mengandalkan jaringan internet kampus.

Hari ini saya cuma mau bercerita tentang buku yang saya baca tadi malam nonstop. Lagi-lagi karena saya kere se kere-kerenya, saya hanya bisa nyewa buku, tidak sanggup untuk beli baru. Dan pilihan saya jatuh pada ChickLit serial The Single Happy yang judulnya Learning Curves karangan Gemma Townley. Learning Curves ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Misi Rahasia.

Setelah saya baca, jeng jeeeeengg.... ternyata buku ini bercerita tentang penyelidikan seorang cewek yang bernama Jenifer Bell di sebuah perusahaan konsultan milik ayahnya sendiri. Si Jen menyelidiki apa? Dugaan keterlibatan perusahaan konsultan ayahnya pada korupsi di Indonesia. Ya, di Indonesia. Ceritanya, setelah 2 tahun tsunami menerjang Aceh, kembali terjadi gempa bumi. Rumah-rumah yang dibangun dengan uang donasi bagi para korban tahun 2004 secara mengejutkan kembali hancur karena gempa. Dicurigai bahwa perusahaan yang memenangkan tender untuk membangun rumah-rumah tersebut, membangun tidak sesuai standard. Dikhawatirkan terjadi penyuapan antar perusahaan tersebut dengan pemerintah Indonesia terkait proses tender tersebut.

Pada dasarnya buku ini bercerita tentang ke-galau-an Jen yang harus menyelidiki ayahnya sendiri yang telah meninggalkannya sejak usia 13 tahun. Ditambah munculnya seorang cowok tampan dan ibunya yang ternyata pernah berselingkuh yang membuat hidup si Jen ini makin ruwet. Tapi, fakta bahwa negara yang dipilih penulis sebagai lokasi kasus yang mendasari penyidikan adalah Indonesia. Yang notabene memang sendang carut marut dengan korupsi. Ada hubungannya dengan kondisi Indonesia saat ini? Wallahualam.

Lumayan banyak juga buku karangan luar yang pernah saya baca yang mencatut nama Indonesia walaupun tidak bersifat konstektual. Lebih bersifat anekdot. Di sebuah buku yang berjudul Planet Janet, ibu si Janet lagi marah karena Janet memasukkan pakaian berwarna yang melunturi pakaian lain di dalam mesin cuci tersebut. *kalo saya ga salah* Dalam redaksi marah-marahnya ibu si Janet, dia mengancam akan mengirim Janet ke Indonesia. Kata si ibu, kalo di Indonesia, Janet harus bekerja 2 tahun baru bisa beli mesin cuci. Waktu membaca itu saya lumayan tersinggung. Di pikiran saya emang sih negara saya miskin, tapi ga gitu-gitu juga miskinnya. Tapi hari ini saya mikir lagi, yah... mungkin bagi beberapa orang di negara ini, memang butuh 2 tahun bahkan lebih untuk membeli mesin cuci. Setelah beli pun belum tentu daya listik di rumah bakalan cukup. Agak-agak ironis memang, tapi ada benarnya. Hehe.

ini dia cover depan buku Learning Curves