Tampilkan postingan dengan label Random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Random. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 September 2013

Random Thoughts about Random Creature

Hey la! Tadi siang saya baru saja nonton City of Bones di bioskop. Setelah nonton tiba-tiba saja saya ingin menulis sesuatu. Bukan review film, hanya hasil loncatan- loncatan pikiran saya sore ini.

Jadi pada dasarnya saya bukan tipe orang yang diam saat nonton film. Saya tidak tahan untuk tidak mengkritik detil- detil yang mengganggu atau menertawakan hal-hal yang saya anggap lucu yang mungkin tidak lucu bagi orang lain. Saya juga sering mengumpat pada adegan-adegan tertentu. Intinya saya tidak tahan nonton tanpa memberi komentar. Bagi orang-orang yang senang nonton dalam keadaan tenang pasti saya menjengkelkan sekali. Hahahha. Bukan teman nonton yang menyenangkan. Tapi saya tau diri, kok. Saya seringnya tidak berbicara keras- keras. Sejauh ini sih belum ada yang protes. Hehe.

Tapi memang detail yang salah pada sebuah film cukup menjengkelkan. Misalnya di film 5cm waktu adegan Genta mengejar kereta. Kenapa juga dia harus lari sampai ke pintu gerbong tempat teman-temannya menunggu. Kenapa dia tidak lompat ke pintu gerbong terdekat lalu jalan lenggang kangkung ke gerbong teman-temannya? Ah saya lupa. Tentunya agar dramatis.

Nah, jadi melantur ke 5cm. Kembali ke City of Bones. Tidak, di film ini saya tidak menemukan detail yang mengganggu. Entah karena memang filmnya "bersih" atau karena saya yang kurang fokus. Saya hanya ingin cerita kalau jenis film fantasi seperti ini adalah favorit saya. Saya senang cerita tentang Demon, Werewolf, Witch, Warlock, Vampire, Troll, dan makhluk-makhluk legenda lainnya.

Ya, Twiligt Saga memang lumayan norak karena dibumbui cinta segitiga penuh frustrasi antara tiga makhluk berbeda. Tapi keseluruhan cerita tentang permusuhan antara Vampir dan Werewolf juga antara vampir vegan dan normal, sebenarnya tidak terlalu buruk. Saya lebih memilih membaca bukunya daripada nonton filmnya. Hal yang bagus dari filmnya hanya soundtrack nya. Muse, Bon Iver, Thom Yorke, Band of Horses, st Vincent, Lykke Li, Anya Marina, dll. Eargasm!

Saya suka membandingkan antara, misalnya, Troll di film yang satu dengan Troll di film yang lain. Troll di Harry Potter tinggi, gendut, dan bawa pentungan. Di film Snow White and the Huntsman menyamar jadi jembatan. Badannya ramping dan mirip batu. Troll di film Hansel and Gratel, yang namanya Edward, malah mirip frankenstain tidak proporsional dengan kepala besar dan kaki pendek. Di film The Hobbit juga sepertinya ada Troll tapi saya tidak tahu wujudnya karena hanya membaca bukunya. Seingat saya Troll adalah mahluk penjaga jembatan. Troll akan memberi teka-teki bagi orang yang mau melintas. Jika menjawab benar boleh lewat, jika salah akan dimakan atau dibunuh.

Werewolf adalah salah satu makhluk favorit saya. Bukan, bukan karena Taylor Lautner dengan six pack nya di film Twilight. Hehe. Tapi karena cerita tentang Warewolf biasa bagus-bagus. Alasan macam apa ini. Hahahha. Seperti Werewolf di film Red Riding Hood, Harry Potter, dan Van Helsing. Werewolf makhluk yang menyedihkan menurut saya, karena pada dasarnya mereka tidak ingin menjadi Werewolf. Di film City of Bones, Werewolf nya adalah sekumpulan bapak-bapak montir yang brewokan. Keren.

Kalau Demon, biasanya selalu jadi pihak yang jahat. Seperti di film seri Supernatural, Dean dan Sam Winchester keliling Amerika Serikat untuk mengejar si Yellow Eye Demon. Demon di City of Bones bisa merubah bentuk jadi apa saja. Favorit saya, Demon di buku Bartimaeus Trilogy. Di buku itu diklasifikasikan demon dari tingkat paling rendah (imp) sampai yang paling tinggi (marid).

Saya malas membahas Vampir. Terlalu banyak jenis. Mulai dari vampir cina yang mendeteksi manusia dari napasnya, Count Dracula dari Transylvania, Blade si setengah vampir yang jadi pembasmi vampir, vampir-vampir jelek di film Priest, vampir-vampir cakep di film Twilight, dan lain-lain. Saya tidak terlalu suka sama vampir, sih.

Kekurangan saya sebagai orang yang hobi baca buku adalah saya cepat lupa dengan buku yang saya baca. Saya membaca buku To Kill a Mockingbird empat tahun lalu dan sekarang saya sudah lupa sama sekali ceritanya. Saya sudah pernah membaca God in Small Things saat SMA, tapi saat saya membaca kembali tahun lalu saya seperti membaca buku baru. Ingatan saya hanya membaik sedikit jika membaca buku-buku fantasi seperti Harry Potter, Bartimaeus Trilogy, Series of Unfortunate Event, Percy Jackson, Golden Compass, dll. Tapi saya belum baca buku City of Bones. Nantilah saya cari di tempat rental.

Duh, sepertinya saya sudah melantur kejauhan. Sampai ketemu di tulisan berikutnya! :)

Kamis, 18 Juli 2013

melantur tentang kebalikan dan teman hidup

Pada akhirnya saya menulis ini dibawah selimut yang dipakai terbalik. Bagian luar menjadi dalam, dalam menjadi luar. Seperti pikiran. Saya sedang ingin membalik pikiran.

Kau tau setiap kali melihat orang "gila" saya menghindar. Banyak yang berkata itu fobia. Tidak, saya tidak setakut itu dengan mereka. Saya hanya memperkecil kemungkinan mengganggu atau diganggu mereka dengan mereduksi tanda-tabda kehadiran saya. Misalnya dengan mengambil jalan memutar. Baiklah, saya memang takut. Tapi yang selalu ada di pikiran saya, apa yang mereka, orang yang kita labeli "gila" ini, pikirkan? Pasti ada hal-hal yang sangat besar di pikiranmu hingga kau merasa melindungi kakimu dari aspal panas adalah perkara nomor sekian. Apa perkara nomor satu? Politik kah? Ilmu pengetahuan? Tuhan? Atau cinta? Pasti si "perkara nomor satu" ini benar-benar pelik. Sampai-sampai berpakaian atau tidak, seperti alas kaki tadi, jadi perkara nomor sekian. Si "perkara nomor satu" pastilah benar-benar menyita pikiran. Lalu datanglah kita memasang label "gila". Ada pula saya yang takut dengan orang-orang yang terlalu pemikir itu. Bukankah masing-masing kita "gila" dalam standar-standar tertentu?

Oh iya. Kemarin saya berpikir membuat tulisan tentang apa saja yang ingin saya lakukan bersama dengan pasangan saya nanti. Akhirnya urung saya tulis. Kenapa? Karena sepertinya bagian itu masih terselimuti kabut. Saya sudah sempat menulis "menikmati hujan bersama, saya dengan buku yang tak kunjung ditamatkan, kau dengan tugas dari kantor yang kau bawa pulang". Sampai di situ saya berfikir, bagaimana kalau ternyata nantinya "dia" tidak bekerja di kantor. Bisa saja ia bekerja di lapangan, sebagai pilot misalnya. Tugas apa yang harus buru-buru ia kerjakan sampai harus dibawa pulang ke rumah? Ah, romansa tanpa detail memang menyulitkan.

Padahal daftar saya sudah lumayan banyak. Seperti "nonton pertandingan Chelsea bersama di hari Sabtu". Bagaimana kalau dia tidak suka nonton sepak bola? Lebih senang menonton tinju seperti bapak saya. Akhirnya saya menyerah. Lebih baik memikirkan partner in crime nya dahulu sebelum tindak kriminalnya.

Ah iya, berbicara tentang bapak saya. Akhir-akhir ini saya sering teringat dengan sebuah hipotesa yang menyatakan bahwa parempuan biasanya akan mencari pasangan yang sedikit-banyak memiliki kesamaan sifat dengan bapaknya. Benarkah? Mungkin itu bagian dari keinginan untuk merasa "aman". Seperti saat kau tidur dengan rasa aman karena mengetahui bapakmu ada di rumah. Mungkin dengan mencari pasangan pemilik  kualitas mirip bapak rasa aman itu terpenuhi. Ada bagian-bagian dari bapak yang benar melekat denganmu dan membuatmu mencari pasangan yang mengingatkanmu tentang hal-hal itu. Kau melihat bagian-bagian itu di orang lain. Lalu jatuhlah dirimu. Dan saya rupanya sudah melantur jauh dengan hipotesa cengeng.

Tapi sepertinya begitu. Lelaki di rumah saya tak ada yang merokok. Bapak saya tak tahan dengan asap dan bau rokok. Tak ada kakak ipar saya yang merokok. Oke, pembuktian hipotesa saya memang tak meyakinkan. :D

Sekali lagi itu hanya hipotesa. Tak perlu lah diributkan lebih jauh.

Nah, cukuplah igauan saya malam ini. Di luar hujan. Saya sedang mendengarkan lagu-lagu Mr Sonjaya. Kurang apa lagi? Hehe. Selamat malam! :)

Minggu, 31 Maret 2013

Hello March, Hello You!

Sudah berapa lama blog ini saya abaikan? Rasanya sudah berbulan bulan. Apa sebab? Sepertinya banyak faktor. Mulai dari rasa malas yang selalu jadi kambing hitam, kesibukan yang sebenarnya tak seberapa, hingga twitter yang menawarkan komunikasi yang lebih aktif. Lalu blog ini terlupakan. Tapi sepanjang bulan ini saya bertekad untuk tidak melewatkan Maret tanpa menulis sesuatu. Apapun itu, sedangkal apapun itu.

Akhirnya sampai pada tulisan ini yang, bahkan hingga ketikan kalimat ini, belum punya gambaran apa yang akan menjadi isinya. Apa kabar saya 5 bulan ini? Kalaupun itu penting, yang bisa saya kabarkan sejauh ini adalah: saya sudah menyelesaikan studi saya yang berarti nama saya sudah bertambah 2 huruf kapital di belakang walaupun sejauh ini dua huruf tersebut belum mengubah apa-apa selain penurunan drastis pada kegiatan sehari hari saya. Apa lagi? Rasanya tidak ada lagi. Kalaupun ada sepertinya tidak akan menarik untuk dibicarakan.

Sampai sini saya mulai pusing mau menulis apa lagi.

Oh iya. Akhir-akhir ini kalimat yang sering ditanyakan pada kami, para pengangguran pemula nan muda, adalah "apa rencana kamu ke depan"? Beberapa menjawab, melanjutkan sekolah, ada yang dengan mantap menjawab ingin bekerja, ada yang dengan malu-malu menjawab akan menikah, dan ada pula yang menjawab dengan berputar-putar berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan. Nah, saya adalah golongan yang terakhir ini.

Tiap kali ditanyai apa rencana saya ke depan, rasanya sulit bagi saya untuk menjawab. Bukan karena saya tidak punya rencana, bukan. Secuek-cueknya saya, saya juga punya rencana di hidup saya. Masalahnya adalah, tidak mudah menjelaskannya ke orang lain. Apa saya tidak ingin melanjutkan S2? Tentu saja mau, tapi tidak sekarang, tidak secepat ini. Apa saya tidak mau bekerja? Jelas mau, tapi saya ingin mengerjakan hal-hal yang memang saya senangi. Menikah? Umm... Untuk yang satu ini, aturan pertama dalam pernikahan adalah dilakukan oleh 2 orang. Well, jelas-jelas "orang kedua" itu masih sedang diusahakan. Selain itu mengenai pernikahan dan pasangan, saya punya catatan khusus. Siapapun nantinya pasangan saya, saya ingin kami sama-sama memandang pernikahan sebagai  hubungan yang setara antara laki-laki dan perempuan. Bukan hubungan subordinasi. Ck, akhirnya saya jadi membahas terlalu jauh tentang pernikahan ini.

Akhirnya saya menetapkan untuk saat ini sebaiknya saya magang dulu. Sedikit demi sedikit lepas dari keluarga. Yang berat bagi saya adalah lepas dari pertemanan. Pindah kota berarti saya harus rela berpisah dengan teman-teman dekat saya saat ini. Apalagi pindah ke kota tempat saya dibesarkan, rasanya sedikit mengkhawatirkan harus bertemu orang-orang yang seharusnya jadi bagian dari masa lalu. Tapi biasanya untuk melompat lebih jauh ke depan, dibutuhkan beberapa langkah ke belakang untuk mengambil ancang-ancang. Seharusnya inilah langkah ancang-ancang saya.

Jadi, sekian dulu untuk Maret yang sudah akan habis ini, sampai ketemu di bulan April! ;)

Rabu, 14 November 2012

Friend for Life :)

I sometimes feel lonely. But not today. Today, I thank to God for giving me such a fantastic friends. Here's the tale...


Kemarin, 13 November 2012, adalah salah satu hari ter-hectic di hidup saya. Bukan hanya sibuk secara fisik, tapi juga mental dan emosi. Sudah beberapa hari saya diantar tidur oleh hapalan dasar-dasar hukum pidana dan dibangunkan oleh contoh kasus perbankan. Hampir seminggu belakangan ini pikiran saya tidak pernah istirahat untuk berpikir, menghapal, mengira-ngira kemungkinan terburuk, merancang pertanyaan dan menjawabnya sendiri, semua karena ujian skripsi. Seumur hidup rasanya saya tidak pernah khawatir dengan segala macam bentuk ujian. Saya bukan tipe orang yang rajin belajar, dengan malu saya akui itu. Ujian selama ini saya jalani biasa-biasa saja. Saat ada soal yang tidak bisa saya jawab, saya cukup mengosongkan lembar jawaban saya. Bagi saya ujian sesimpel itu. Tapi ujian skripsi beda, di ujian ini ada potensi seseorang bisa dipermalukan di depan umum, dicap bodoh, dianggap memalsukan penelitian, plagiat, dan berbagai hal lain yang menjadi mimpi buruk saya.

Ternyata ujian yang saya pikir akan meluluh-lantakkan harga diri malah berbalik 180 derajat. hehehe. Semua pertanyaan penguji untungnya dapat saya jawab. Daaaaan... tidak ada yang bertanya tentang dasar-dasar hukum pidana. Huuuu~ Padahal saya sudah menghapal alat bukti, dasar eksekusi putusan, metode interpretasi undang undang, daaan seabrek dasar-dasar yang lain. hahaha. Inilah akibat dari paranoid tingkat tinggi saya.

Satu hal yang membuat ujian saya berkesan adalah dukungan teman-teman saya :). Saya tidak pernah menyangka bahkan dalam mimpi tergila saya bahwa ujian saya akan berjalan seperti kemarin. Bisa dibilang cukup santai walaupun Pembimbing I saya terus menerus menanyakan kenapa saya tegang sekali. I dont know... Seingat saya, saya tidak tegang, saya hanya... salah tingkah. Umm.. agak sulit dijelaskan sebenarnya. Intinya adalah saya sangat ingin ketawa. hahahahah. Tapi berhubung suasananya adalah ujian, saya berusaha keras untuk tidak tertawa. Daaaaaan...itu susah tenyata. Belum lagi ruang ujian yang lumayan penuh. Anggaplah saya umayan demam panggung. hahahahah.

Kembali ke masalah teman-teman, seingat saya hampir semua teman terdekat saya berada di dalam ruangan ujian. Ini sebenarnya cukup menghawatirkan saya, saya takut kalau saja saya dipermalukan di depan mereka. Saya tidak keberatan terpeleset masuk ke got di depan H1-01 yang dipenuhi mahasiswa yang tidak saya kenal daripada tidak bisa menjawab pertanyaan di depan teman-teman terdekat saya. Serius! hehe.

Saya tidak menyangka mereka akan meluangkan waktu untuk menonton ujian saya. Walaupun saya cukup curiga mereka nonton hanya untuk membuktikan kalau saya sebenarnya bisa bersikap formal dan serius. hehehe. Yang lucu adalah beberapa teman saya membuat poster yang bertujuan untuk mendukung sekaligus mungkin mempermalukan saya. Saya paling suka poster yang ada gambar John Terry nya. hahahaha. sekarang salah satu salinan poster aneh nan norak itu sudah bertengger manis di dinding kamar saya. hahhaha. That poster almost tearing me down. Bukan karena terharu, tapi karena lucu. hahahaha XD. Moment termengharukan bagi saya adalah saat saya harus menjawab pertanyaan penguji dan tiba-tiba poster jahanam tersebut melambai-lambai di belakang penguji saya. Hahahaha. Ini pertama kali saya melihat ada ujian skripsi yang penontonnya rese serese-resenya. Sampai sekarang saya masih ketawa jika mengingat moment itu.

Ini dia penampakan poster favorit saya. hehehe

Oh ia, seumur-umur baru kali ini saya melihat yudisium yang dipenuhi tepuk tangan oleh penonton ujian. Bukannya yudisium harus hening dan serius ya? Intinya akan ada pesan-pesan moral yang membuat si sarjana baru berurai air mata. Di yudisium saya yang ada saya lagi-lagi ingin tertawa. hehehe. Saya hampir menangis saat diingatkan bahwa "mulai detik ini hubungan administratif saya dengan Fakultas Hukum sudah berakhir". Seperti film lawas tiba-tiba pikiran saya terflashback ke masa-masa maba saat saya pertama kuliah di fakultas ini. That's sooooo touching. Tapi lagi-lagi saya tidak berhasil menitikkan air mata karena ingat John Terry dan kalimat "ini bibir buat qta bunda". Shit. Hahahaha

Intinya saya selesai ujian dengan harga diri yang masih terselamatkan. Beribu terima kasih untuk seluruh teman-teman saya yang telah membantu di hari ujian saya dan hari-hari lain saat saya membutuhkan bantuan. It means a lot for me guys :')

Madong yang ikut bersusah-susah bersama saya mencari pembimbing.
Okky yang menemani saya mengurus segala sesuatunya setiap hari.
Nia dan Shawir yang sudah meluangkan waktu untuk ikut menonton ujian saya. dan meyakinkan saya untuk tidak khawatir berlebihan.
Bon yang sudah membuat saya tertawa pagi-pagi sekali karena postingan gambar jahanamnya di twitter.
Firda yang mengantar saya ke rumah penguji dan mengantar saya pulang di banyak kesempatan.
Sabrina yang memantaukan dosen di ruang ujian saat saya harus menunggui Pembimbing I.
Ika yang memberi saya teh pucuk daun saat saya disuruh minum.
Rafika yang rela menempelkan nama saya di kipas Paul Frank palsu nya.
Ulfa yang menyemangati saya di depan tangga. dan membuat saya melupakan kecemasan ujian dgn gamenya.
Mumu yang selalu dibully di dunia maya dan dunia nyata.
Flo yang sudah lama tidak terlihat tapi menyempatkan diri menonton ujian saya.
Upi yang menyemangati saya dengan lemah lembut ala muslimah. hehe
Asma yang selalu rela jadi objek bully saya.
Icha yang menjadi teman ujian saya kemarin.
Opu yang seingat saya berdiri di pintu memberi saya selamat.
Cua yang dengan semangatnya mengangkat poster John Terry jahanam di belakang dosen Pembimbing saya.
Tizar yang menemani saya berlatih tanya jawab.
Afif yang setiap kali saya bertemu terus mengingatkan saya untuk semangat.
Arif yang selalu menyapa saya sambil tertawa. dan akhirnya membuat saya ikut tertawa.
Indra yang menjadi partner cerita horor yang seru.
Mule yang selalu menjadi teman bertengkar lucu-lucuan saya.

Saya selalu menikmati hari-hari absurd bersama kalian. Di kampus, di museum, di manapun itu. Main game, nonton bola, nonton film, cerita hantu-hantuan, calla-callai band gaje, main kuartet, cerita-cerita tidak jelas, dan semua hal absurd lain yang pernah kita lakukan. That's priceless. Terima kasih banyak :)

Like the old quotes said, "You need old friend to remind you how far you've been through, and you need new friend to makes you feel young."

Friends for life :)

Kamis, 04 Oktober 2012

When Life Gives You Lemon! ;)

When life gives you lemon, make lemonade.
Inti dari quotes ini adalah saat kau merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidupmu, buatlah itu jadi menyenangkan. Seperti dari lemon yang asam menjadi lemonade yang manis dan menyegarkan. Itu kata quote.

Beberapa orang memodifikasi quote ini menjadi
When life gives you lemon, make lemonade. 
Or squeeze it in people's eyes. 
Kalimat tambahannya, or squeeze it in people's eyes, kurang lebih berarti "peraslah di mata orang-orang". Sisi jahat diri saya menafsirkan kalimat tersebut sebagai ajakan untuk mengajak orang lain merasakan yang saya rasa, seperti membuat mereka merasakan apa yang saya rasa.

Hidup memang tidak selamanya manis, selalu ada hal yang mengingatkan kita bahwa hidup itu "nyata" bukan mimpi. Beberapa dari kita mungkin tengah bingung menentukan masa depan. Beberapa malah bingung memandang masa lalu. Ada komplikasi yang terus menerus meneror. Judul tugas akhir yang belum bersedia bertamu ke kepala, atau skripsi yang belum bersedia pula berpindah dari kepala ke ujung jari yang lincah. Selalu ada hal merisaukan kita.

Tapi hidup memang tetap berjalan, tidak peduli kau begitu lelah bekerja atau begitu lelah memposkan hal-hal yang tidak penting pada akun twittermu. Hidup masih dengan semangatnya memperlakukanmu sesuai caranya. Kau ditempa dengan kuat, agar kau terbentuk menjadi pribadi yang kuat pula. Masalah datang menamparmu dengan keras, agar berikutnya saat ia datang, pipimu sudah tidak selemah sebelumnya. Saya selalu memotifasi diri saya agar melihat masalah sebagai hal yang akan menguatkan saya.

Tapi kadang memotifasi diri tidak semudah biasanya. Setiap orang punya batas mereka masing-masing, jadi saat lemonmu tidak dapat kau racik menjadi lemonade yang manis, cukup peraskan ia ke mata orang-orang. Beberapa masalah memang tidak untuk ditangani sendiri, mungkin harus ada orang yang ikut merasakannya. Agar kita dapat dewasa bersama. Mata mereka akan pedih karena asam dari lemon, maka menangislah bersama. Beberapa hal terlalu berat untuk ditangisi sendiri.

Ah, akhirnya saya jadi meracau tidak jelas :)

Here, some other advice:
You know, you can always run.

In case lemonade didn't help you much. Hehe


Good advice, the cat's unhappy and full of desire to scratch your face.


The Best One! Sometimes, you just have to get mad and throw all the lemons to your enemies ;)

Sabtu, 02 Juni 2012

Hey Daddy, I Love You! :)

I made a post about my Mom in Mother's Day. And there is no Father's Day. No, not in Indonesia. And I didn't post anything about my father in his birthday. It suddenly came up in my mind that I have to write about him. So, here we go:


It's my father who help me fix my bike.
It's my father who teach me how to swim.
It's my father who accompany me watching MotoGP race since junior high school.
It's my father who accompany me watching football for years.
It's my father who always ask me about my day at school.
It's my father who made me a tumbler full of coffee when i should go to the airport in the midnight.
It's my father who always ask me if i still have enough money in my pocket.
It's my father who cover me with blanket at night.
It's my father who create a "crazy Sunday" when we have to clean the mosque near my house.
It's my father who teach me how to plant corn. And we nurse it until we can harvest it and share it to the neighbors.
It's my father who ask me to stop reading Harry Potter at night cuz it must hurt my eyes. Then i go to my room, turn the light off, and keep reading the book with flashlight in my blanket.
It's my father who made me some herbal medicine when i was sick. That's why i never tell him that i'm sick.
It's my father who brought me a lost turtle that he found at the drain. He named it Turles. Hehe
It's my father who made me a windmill from bamboo.
It's my father who tell me bedtime story.
It's my father who tell a speech when he asked to sing. hehe


and It's me who never realize all of that fact about him. :'(


I write this to remind me that every time I mad of him, I should remember that he has been very understanding, caring, loving, patient, wisely in raising me this recent 21 years. Now, It's my turn.

Kamis, 31 Mei 2012

Memorable Photograph :')

I always have no problems in enjoying my me-time.


Tulisan ini ditulis saat saya sedang sendiri saja di sebuah tempat ngopi di salah satu mall di kota saya. Tapi saya tidak sedang minum kopi, saya minum green tea. Salah satu favorit saya saat ini, mungkin minggu depan ganti lagi. hehe.

Karena sedang tidak membawa buku apapun, (saya sedang baca Sejarah Dunia dalam 10 1/2 Bab, yang tiba-tiba raib entah kemana) saya memutuskan membawa laptop. Mumpung modem saya kuotanya masih aduhai untuk berselancar. So, here I am! Karena melihat kondisi yg agak ramai, rasanya tidak memungkinkan untuk buka-buka akun orang lain *mental stalker*, akhirnya saya menggali foto-foto lama dari akun fesbuk saya sendiri. Dan, sukseslah saya ketawa sendiri. So, laugh with me!! :)




Pensi jaman SMA, bersama teman saya Chika.
Maafkan ke-labil-an saya dan Chika di foto ini. Foto ini diambil pada Pensi di tahun terakhir saya di SMA. Saya dengan santainya bercelana pendek dan berkaos oblong. Sedangkan Chika memakai rok dan kaos. Entah setan apa yang merasuki saya dan Chika, you can see the stamp mark in my cheek. Saat orang lain dengan hebohnya bebaju bling-bling dengan rambut yang ditata rapi di salon, kami dengan santainya berpakaian rumahan. Saat orang lain menstempel punggung tangan, kami di Pipi! Kalo dulu sudah ada FPI mungkin saya dan Chika sudah dicekal. #eh. Mana Chika pake bando tanduk setan. Hahahah.

Diklat Selam Pertama Divisi Bahari KPA Kalpataru Smansa :)
Lagi-lagi foto ini dipenuhi pose labil khas jaman SMA. Foto ini diambil di Pulau Barrang Lompo, Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Inilah pertama kali saya menyelam di laut. Wow, what a great experience! Di sini saya masih kelas 2 SMU, dengan santainya bolos sekolah 2 hari buat Diklat Selam. Saya ingat dulu saya tidak berbohong ke orang tua saya buat bolos sekolah. Orangtua saya begitu saja merestui anaknya bolos demi menyelam. Rawk!! hehehe.


Rundown Acara Sesat yang dibuat Teman saya.
Inilah foto ter-epic yang berhasil buat saya ketawa sendiri. Waktu itu, tahun 2009, saya dan teman-teman angkatan saya menjadi panitia Inaugurasi. Dan, muncullah rundown acara lucu-lucuan ini di FB. Saya tidak ingat siapa yang membuat. Ini dia rangkaian acaranya:

  1. Senam Santai. Mmm..okelah, sebelum acara senam santai dulu. Bolehlah.. hehhe
  2. Makan Malam. Nah, setelah senam, waktunya makan malam, kan lapar, jadi harus makan dulu. Yah... sampai sini masih normal lah. hihiihi..
  3. Debus. What! hahaha. Demi apa di Inaugurasi ada debus? Memangnya penjual obat di depan MTOS. Hahaha. 
  4. Pesugihan. Ini jelas-jelas sudah jauh menyimpang. Di inaugurasi ada pesugihan. Tapi kalo dipikir-pikir wajar lah pikiran untuk pesugihan itu datang. Inaugurasi angkatan saya diadakan di hotel berbintang 4 setengah, yang khusus sewa Ballroom saja menghabiskan sekitar 22 Juta. Go Pesugihan!!!
  5. Tari Daerah Barbados. Seumur hidup saya belum pernah liat tarian daerah Barbados. Jadi bolehlah... hehehe. Saya kalo dengar kata barbados yang muncul di kepala saya adalah wanita-wanita berkulit gela dengan hiasan kepala penuh buah-buahan. Eksotis!!
  6. Band. Acara yang paling menjengkelkan di Inaugurasi. Semua band dari tiap angkatan mau tampil. Mulai dari yang suaranya pas-pasan, sampai yang memang tidak ada harapan.
  7. Parade. Parade apakah ini? Tidak jelas.
  8. Pengukuhan Itho sebagai Presiden RI. Ini. Benar. Benar. Absurd. Saya baru tahu setelah baca Rundown Sesat ini kalo dulu Itho bercita-cita jadi Presiden RI. Akhirnya dia sekarang jadi aktivis Stand Up Comedy..
  9. Vaksin H1N1. INI SUPER ABSURD!!!! hahahaha.. memang jaman saya inaugurasi dulu, lagi marak-maraknya flu babi. H5N1-Flu burung, H1N1-Flu Babi. Akhirnya inaugurasi ditutup dengan vaksin flu babi! hahahaha... 


Pretending as a Kangaroo with my brother.
Untuk foto yang terakhir ini, nantilah saya ceritakan di postingan saya tanggal 4 Juni.

Thanks for reading!
Ciao!

Senin, 21 Mei 2012

Bercerita Cita-Cita

It just a random post about some random memories. If you're looking for a meaningful-inspiring-deep post then you may read a wrong article. or blog :)


Saya masih ingat fase perubahan cita-cita saya. Untuk hal ini saya harus berterima kasih kepada keluraga saya yang menjadikan ini sebagai lelucon sehingga hal ini sulit dilupakan.

Umur 4,5 tahun..


Dila cita-citanya apa?
Jadi konglomomerat.

Baiklah, terima kasih yang pertama adalah kepada Susan dan Kak Ria Enes yang telah menyanyikan lagu "Cita-Cita" dengan melodi yang sangat mudah diingat oleh anak seusia saya saat itu. Di antara seluruh cita-cita ngawur Susan, jatuhlah pilihan saya kepada "konglomomerat". Kenapa bukan dokter? Padahal dokter bisa suntik orang lewat. Juga kenapa bukan insinyur? Saya juga tidak tahu. Hanya saja kata "konglomomerat" rasanya membius sekali. Sebuah kata panjang yang susah dilafalkan ternyata bisa saya lafalkan dengan baik. Maka itulah cita-cita saya.

Umur 5 tahun, setelah pulang bermain dari rumah teman yang baru pulang berlibur..


Dila cita-citanya apa?
Jadi Sempati Aerok

Yang pertama, Sempati Aerok bukanlah sebuah profesi. Bahkan bukan kata sama sekali. Itu hanya kata yang saya karang sendiri karena mendengar cerita teman saya dengan setengah-setengah. Teman saya bercerita tentang pramugari di pesawat yang ia tumpangi pulang berlibur. Saya curiga pesawat tersebut berasal dari maskapai Sempati Air. Dan dengan ingatan anak umur 5 tahun, saya memilih profesi tersebut sebagai cita-cita. Saya bahkan belum pernah naik pesawat untuk tau pekerjaan pramugari a.k.a. Sempati Aerok itu seperti apa. Ternyata saya sudah nekat sejak umur 5 tahun. Di umur 6 atau 7 tahun saya pertama kali naik peasawat. Pesawat kecil dengan jumlah penumpang mungkin tidak cukup 20 dan tanpa pramugari. Hanya seorang cabin crew yang merangkap teknisi yang merangkap paman saya. Saya akhirnya boleh mengantongi permen lebih banyak dari penumpang lain. Saya senang sekali, tapi cita-cita saya saat itu telah berubah.

Umur 6 tahun, setelah beberapa bulan pandai membaca. tapi tidak pernah dengan teliti.


Dila cita-citanya apa?
Jadi OSIS seks.

Inilah dia yang menjadi aib saya saat pembicaraan mengenai cita-cita muncul di tengah keluarga. Ini semacam cerita yang jika suatu hari saya mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia, cerita ini akan menyerang saya dalam bentuk black campaign. Sungguh sial saya tidak pernah membaca dengan teliti dan bermulut besar di waktu yang bersamaan. Saat itu kakak saya yang SMP pulang ke rumah dan dengan senangnya memberi tahu orang tua saya kalau dia terpilih menjadi pengurus OSIS. Melekatlah kata OSIS ini di kepala saya. Ah, baiklah it must be something cool, seeing my sister's enthusiasm while talking bout it, it must be something really cool. Setelah mengingat-ingat kata keren itu saya lalu membaca struktur organisasi yang dibawa pulang kakak saya. Jadi ada ketua, wakil, sekertaris (bukan sekretaris), dan bendahara. Dan banyak kata "sek." yang diikuti kata-kata lain di belakangnya. Wow, saya mau menjadi salah satu dari "sek." itu. Dan jadilah cita-cita saya OSIS seks. Dari manakah "s" kedua dari kata "sek."?? Saya tidak tahu, mungkin karena ketidaktelitian saya membaca, mungkin juga karena kata "sek." mengingatkan saya pada kata "seksi".

Di tahun-tahun berikutnya cita-cita saya berubah sesuai dengan apa yang sedang getol saya nonton. Mulai dari Penjinak Hewan Liar (kelas 4 SD) karena sering menonton tayangan seorang laki-laki menangkap anaconda/ular berbisa/buaya dll. Lalu pernah pula ingin menjadi Pengamat Politik (Kelas 5-6 SD) karena sering menonton tayangan berita bersama bapak saya. Bapak saya mewanti-wanti jangan jadi politikus, sehingga saya berpikir untuk menjadi pengamat politik saja. Yang penting saya bisa berbicara politik. Pernah pula saya ingin menjadi mekanik, saya ingin membuka bengkel modifikasi mobil. Saya tidak ingat apa yang saya tonton hingga bercita-cita menjadi mekanik. Bapak saya seorang mekanik alat berat. Saya pernah bertanya "Pak, kalau mau jadi mekanik harus sekolah apa?" Seingat saya bapak tidak menjawab.

Cita-cita lain yang pernah saya impikan adalah Penulis Lagu, saya pernah mengarang sebuah lagu yang saya tuliskan di kertas binder. Lalu Penulis Cerpen, karena keseringan membaca cerpen di Majalah Bobo. Pernah pula saya ingin menjadi relawan. Yah, yang ini mungkin bukan cita-cita. Tapi saat gempa di Yogyakarta dan sekitarnya beberapa tahun lalu saya sempat minta izin ke bapak saya. "Pak, kalau saya ke Jogja untuk jadi relawan boleh tidak?" Seingat saya lagi-lagi Bapak tidak menjawab. Tapi kali ini saya tahu betul jawabannya. Tidak.

Kalau ditanya apa cita-cita saya sekarang, saya pusing. Mungkin lebih baik tanya saya besok :)

Selasa, 15 Mei 2012

Conversation in delusion


it's funny how a photograph cold makes you smile, or even laugh. but end with a bitter taste in your tongue. Like a sweet candy that usually brings a toothache.
it's funny how a photograph could bring a same feeling every time you stare it. a same feeling that you have when it's taken.
it's funny how a photograph could talk to you, told you that in the time that it's taken, you are happy
well, you were happy. I was happy.


But the photograph said: "it's not me, dear. It's your memory!!"
I laughed, awkwardly, and say: "you bring it to my mind. like you pull it to the surface of the water when it's going to sink. so it's you. your fault. why don't you let it sink!"
The photograph then look at me with a commiserated face. "i'm just capturing moment, love. you're the one who in charge to fill it. whether with a happiness, or sadness. so do not blame me for those memories that came. all i can show you is what you feel that time. it is you, who see your happiness in the past as something to cry on today."

i look at the photo once again. look at our smile once. try feel the feelings once again.
"am i that happy that time?" i whisper to the photograph.
"you were. and you are, if you want." the photograph said shortly. "is it hurt?" he ask me back.
i look at the photo once again. well I actually cant take my eyes off of it. i answer it reluctantly. "it is. it is hurt to know that i only can see our smile in a piece of paper."
"a piece of paper that can makes your mood's swing." the photograph said stubbornly. I thought he feel offended.
"yes. a piece of paper that can swing my mood." I laugh.
We both laugh.

-a photograph did cause a delusion-

Kamis, 03 Mei 2012

Gagal Menulis Puisi :|

Saya selalu ingin (kembali) menulis puisi. Saya dulu menulis puisi. Sejak SD hingga SMU. Saya menulis apa saja dalam bentuk puisi. Meski lebih banyak karena urusan hati. Saya ingat terakhir kali saya menulis puisi mungkin 5 atau 6 tahun yang lalu. Saya ingat puisi itu berawal dari camping saya di Lembah Ramma, Gunung Bawakaraeng. Waktu itu gerimis dan sedikit berkabut, tiba-tiba saya teringat kakak saya yang meninggal setahun sebelumnya. Dia juga senang camping di tempat ini, pikir saya saat itu. Saya sedih dan menulis puisi.

Beberapa tahun berjalan sejak itu dan tidak ada satupun puisi yang saya tulis. Saya tidak tahu kenapa. Tidak tahu mengapa beberapa tahun belakangan ini saya terlalu sibuk menetapkan standar bagi diri saya. Tidak boleh menangis, itu lemah. Tidak boleh manja, itu lemah. Tidak boleh mengeluh, itu lemah. Saya takut menjadi pribadi yang (terlihat) lemah. Dan "menulis puisi" tidak berada pada jalur yang sama dengan predikat "tangguh", "kuat", "tegar", "mandiri", dan lain lain menurut saya. Silahkan tidak setuju, karena hari ini saya pun tidak setuju dengan itu.

Saya ingin (kembali) menulis puisi. Tapi selalu gagal. Tulisan ini terus terang diketik pada kolom yang sama tempat puisi-puisi gagal saya dihapus. Ya, saya punya banyak puisi gagal. and it's really frustrating. Puisi-puisi gagal dari penulis gagal. Kata "gagal" itu menjengkelkan sekali.

Saya ingin (kembali) menulis puisi. Tapi saya lupa rasanya. Saya lupa bagaimana rasanya menulis puisi. Saya lupa rasanya menuliskan perasaan saya dengan bahasa kiasan. Saya lupa rasanya menuliskan kata-kata puitis tanpa merasa diri saya konyol. and again, it's really frustrating. Saya lupa pada perasaan-perasaan yang mendorong saya menuliskan puisi. 

Hari ini saya benar-benar ingin sekali menulis puisi. Tapi karena saya tidak berhasil akhirnya saya menuliskan tulisan tidak penting ini. Mungkin lain kali blog ini punya puisi.

-May 4
*in the middle of moods swing

Kamis, 26 April 2012

Mewujudkan Mimpi Pemimpi :)


Kalau menuliskan bio atau keterangan tentang diri di sebuah situs sosial, saya sering kali menulis kata "dreamer". Banyak orang lain melakukan itu. Terutama setelah boomingnya tetralogi Laskar Pelangi. Tiba-tiba "mimpi" menjadi "mungkin", padahal sejak dahulu tentu saja "mimpi" memiliki kemungkinan untuk terwujud. Kita hanya kurang percaya. Buku ini dengn kisahnya yang epic membuat kita percaya, atau lebih percaya, atau lebih berani bermimpi.

Saya bermimpi banyak sekali. Bermimpi menulis buku, dan menerbitkannya tentu. Saya bermimpi kuliah di luar negeri. Saya bermimpi menghabiskan masa tua dengan mengurus peternakan, atau pertanian. Saya bermimpi keliling dunia (klise, tapi mengapa tidak?). Saya bermimpi membangun sekolah gratis. Saya bermimpi ini dan itu.

Menurut saya mimpi terbagi atas dua, "to do something" atau "to be someone". Mimpi-mimpi saya yang saya tuliskan di atas adalah mimpi "to do something" atau mimpi melakukan sesuatu. kemarin saya baru saja menamatkan buku berjudul "Imperium" karangan "Robert Harris". Buku ini menceritakan hidup Cicero yang bermimpi menjadi pemengang kekuasaan tertinggi di pemerintahan Romawi. Terlepas dari buku ini yang banyak membahas politik pada masa itu, buku ini banyak mengajarkan saya tentang mimpi. Cicero yang berasal dari keluarga "biasa" non aristokrat yang bermimpi untuk menjadi Konsul. Hampir mustahil, jika tidak bisa dikatakan mustahil sama sekali. Mengingat pada masa itu kalangan aristokrat memiliki kekuatan besar dalam pemerintahan. Kalau mau tau lebih banyak tentang buku ini, resensinya dapat dibaca di sini.

Nah, mimpi Cicero ini menurut saya adalah jenis mimpi "to be someone" atau menjadi seseorang. Menjadi presiden, menjadi diplomat, menjadi CEO, menjadi wanita karir, atau menjadi Konsul dalam kasus Cicero. Pada dasarnya semua orang bermimpi, beberapa mimpi terkabul, beberapa mimpi tidak. Beberapa mimpi bertahan, beberapa mimpi bertransformasi akibat berkompromi. Beberapa mimpi terus dikenang dan beberapa mimpi pada akhirnya dilupakan.

Belakangan ini salah satu mimpi saya hampir terwujud. Saya mendaftar untuk pertukaran pelajar hasil kerja sama antara Fakultas saya dengan Utrecht University di Belanda sana. Awalnya saya bersemangat mengingat saya memang menginginkan kuliah di luar negeri. Tapi semakin jauh semangat saya meredup. Kenapa? Mimpi ini lumayan mahal dan saya tidak sanggup. Mungkin orang tua saya sanggup, tetapi jelaslah saya tidak. Sama halnya jika saya ditanya "kenapa tidak pakai BB?" jawaban saya "Saya tidak mampu beli."

Saya lalu merelakan mimpi yang satu ini. bukan dilepaskan, hanya ditunda dulu sampai saya benar-benar mampu. Saya ingat suatu hari saya bermaksud mendaftarkan beasiswa ke Amerika. Saya lalu memberitahu mamak saya, meminta didoakan agar bisa lulus. Saya masih ingat kata mamak saya, "Amerika? Padahal mamak selama ini doakan supaya kau bisa sekolah di Belanda." kata beliau sambil tersenyum canggung. Aneh kalimat ini terus membekas di benak saya. Mamak saya mendoakan agar mimpi saya terkabul, dan itu luar biasa. Dan saya bertekad sejauh itulah yang bisa saya harapkan dari orang tua saya, doa. Saya tidak boleh mengharapkan lebih, bahkan menuntut lebih. Doa sudah cukup dan harus cukup.

Memang tidak ada mimpi yang murah. Semua harus dibayar mahal. Bayarannya tidak mesti materi. Kerja keras, pengorbanan, semua adalah bayaran yang ditarik untuk menebus mimpi. Tapi menebus mimpi dengan materi yang bukan milik saya, bagi saya bukan menebus mimpi. Saya ingin berusaha dengan kemampuan saya. Di sini mungkin saya terdengar sombong, munafik, dan entahlah apa lagi. Tapi saya sudah berjanji kepada diri saya untuk mengurangi beban orang tua saya. Hal ini pula yang membuat saya giat mengejar gelar sarjana, agar tidak perlu membayar SPP untuk semester depan. Karena, lagi lagi saya tidak punya uang membayar.

Saya dulunya takut menceritakan mimpi saya Takut tidak terwujud dan akhirnya malu. Tapi saya lalu sadar bahwa tidak terkabul pun bukan kegagalan. Bukan hal yang memalukan. Jikalau pada akhirnya saya akan berakhir denegan menjadi PNS atau ibu rumah tangga atau apapun itu yang tidak saya mimpikan hari ini, toh bermimpi tidak merugikan saya.

Kita bermimpi dan mengejar mimpi kita dengan cara, prinsip, dan usaha masing-masing. Untuk saya inilah prinsip dasar saya mengejar mimpi, setiap orang boleh berbeda, setiap orang boleh tidak setuju. :)