Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Agustus 2012

Indonesia

Halo! Dirgahayu Republik Indonesia yang Ke-67!!

Postingan saya hari ini pastilah tidak jauh-jauh dari peringatan hari ini. Tapi mau berkata-kata putis manis pembangkit nasionalisme kok rasanya aneh yah. Sedang tidak sesuai dengan mood. Heheh. Saya mau cerita dikit aja deh.

Saya ingat pernah memposting sebuah kalimat di twitter: "Kalo Uni Soviet saja bisa bubar, bagaimana dengan Indonesia?" Kalau tidak salah seperti itu redaksinya. Twit itu didasari perasaan kesal karena sering sekali melihat berita tentang kerusuhan di televisi. Mulai dari penyerangan ke masjid Ahmadiyah, jemaat gereja GKI Yasmin, kerusuhan antar kampung, suku, dll. Salah seorang teman menegur saya, jangan menyebarkan pesimisme kata dia. Beberapa teman menanggapi dengan bercanda.

Sebenarnya tujuan saya memposting kalimat itu adalah agar kita sedikit berpikir mengenai kesatuan bangsa ini. Terkadang kita (yang berarti juga saya) lalai menyadari bahwa republik ini tidak menyatu dengan sendirinya. Bahwa kesatuan dari ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke tidak datang begitu saja. Berpuluh tahun yang lalu ada yang mati memperjuangkannya. Banyak yang mati. Banyak perundingan yang sengit. Berpuluh tahun perjuangan hingga akhirnya merdeka. Dan tahun-tahun lagi perjuangan mempertahankannya. Menuanya republik ini dapat mengikis rasa kesatuan dari rakyatnya. Padahal seharusnya menuanya republik ini harus mengentalkan rasa cinta untuk bersatu. Rasa mencintai republik ini. Nasionalisme.

Maka harus disadari bahwa kesatuan Republik ini harus diusahakan. Kesatuan republik tidak datang dari sikap-sikap diam nan pasif. Harus ada sikap, harus ada perbuatan. Tidak perlu perbuatan besar, cukup toleransi. Entah mengapa rasanya yang benar kita butuhkan saat ini adalah toleransi. Bersikap toleran menghadapi perbedaan. Karena masyarakat kita masyarakat yang heterogen. Perbedaan sudah menjadi bagian dari kita sejak lama. Maka bukankah seharusnya kita belajar? Belajar dari sejarah yang berdarah bahwa republik ini dibangun dari perbedaan. Jangan sampai ia bubar kembali dikarenakan oleh perbedaan. "Jas Merah" kata Bung Karno. Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Kesatuan terbukti tidak boleh dipaksakan. Unity by force is a slavery, kata spanduk-spanduk pro kemerdekaan kaum belligerent. Maka, kesatuan itu harus berasal dari dalam diri masyarakat, harus dimiliki secara sadar. Susah juga menuntut rakyat yang diperlakukan sebagai anak tiri untuk terus mencintai negara ini. Karena itu, jika negara menganaktirikan rakyatnya, rakyat tidak boleh memusuhi dan memunggungi sesamanya.

Saya tidak ahli dalam menggugah patriotisme atau menggugah nasionalisme. Bahasa saya berantakan, tulisan saya tidak terstruktur. Saya hanya menyampaikan apa yang ada di pikiran saya. Bahwa Indonesia perlu diusahakan untuk tetap menjadi Indonesia. Kita tidak bisa dengan santainya hari ini berpangku tangan dan kaki lalu berharap besok negara ini masih utuh dengan damainya. Selalu ada alasan memerdekakan diri, maka kita harus mencari dan membuat lebih banyak alasan untuk tetap bersatu seperti saat ini.

Hari ini, sesuai dengan Proklamasi, usia Indonesia genap 67 tahun. Jika usia Indonesia dihitung berdasarkan masa kita benar-benar mengusahakan keberlangsungannya, sudah berapa tahun usia Indonesia di diri kita?

Gambar dipinjam dari fsquarefashion.com

Minggu, 12 Agustus 2012

Aksi Solidaritas yang Menyerang Sesama Saudara

Beberapa waktu yang lalu, kalau tidak salah kemarin, saya menonton tayangan televisi berupa kilasan berita yang berjudul "Aksi Ormas". Saya sudak menebak-nebak, pasti berita ini tentang salah satu organisasi masyarakat (berlabel) Islam yang sedang melakukan razia-menurut mereka-, yang berakhir-atau memang dimaksudkan untuk- ricuh. Dugaan saya ternyata salah.

Ternyata berita tersebut berisi aksi ormas (berlabel) Islam yang sedang berdemo menentang diskriminasi terhadap kaum Rohingya di Myanmar. Saya pikir aksi tersebut dilakukan di depan kedutaan Myanmar di ibukota. Ternyata, saya lagi-lagi salah. Aksi tersebut dilakukan di depan Klenteng Xian Ma, salah satu Klenteng terbesar di kota Makassar. Wah, ternyata di kota ini ya aksinya. Wajah saya lalu memerah malu.

Cuplikan beritanya bisa dilihat di sini. Seketika rasanya saya malu bercampur marah. Kenapa harus ada kejadian seperti ini? Kenapa pemikiran orang-orang bisa sesempit itu? Kenapa masyarakat kita lebih pandai bereaksi daripada memberi solusi?

Klenteng Xian Ma terletak di Jalan Sulawesi kalau saya tidak salah. Salah satu jalan favorit saya. Akhir-akhir ini hampir setiap hari saya melintas di jalan ini selepas mengantar kakak saya ke tempat praktiknya. Saya selaluu melambatkan kendaraan jika melintas di jalan ini. Kenapa? Saya senang mengamati aktivitas masyarakat di daerah sini. Di kiri kanan jalan terdapat setidaknya 3 Klenteng kalau saya tidak salah. Ditambah banyaknya ruko-ruko milik warga keturunan Tionghoa yang menjual aneka barang. Bau dupa, warna merah, dan ornamen khas Tionghoa rasanya selalu menarik bagi saya. Tiap Imlek jalan ini akan dipadati oleh masyarakat yang tertarik melihat rangkaian upacara yang dilaksanakan oleh Klenteng. Mulai dari upacara memandikan benda-benda pusaka milik kelenteng, atraksi barongsai yang ditujukan untuk menghibur warga, hingga pawai budaya Sulawesi Selatan yang diorganisir oleh organisasi masyarakat bergama Budha.

Demonstrasi yang berujung pada pelemparan Klenteng oleh anggota ormas menurut saya benar-benar salah sasaran. Bukannya kita ingin memprotes perakuan pemerintah Myanmar terhadap kaum Rohingya? Lalu mengapa rumah ibadah agama Budha yang menjadi sasaran? Apakah karena mayoritas penduduk Myanmar beragama Budha? Murahan sekali jika argumen tersebutlah yang menjadi dasar. Kenapa pula harus melempari rumah ibadah orang lain? Benarkah tidak ada rasa hormat setitikpun dalam diri mereka terhadap keyakinan orang lain? Ah, kenapa pula saya harus mempertanyakan. Bukannya sudah jelas jika memang hormat dan toleransi itu benar ada maka kejadian ini tidak akan terjadi?

Saya jadi sedih sendiri. Membayangkan bagaimana jika rumah ibadah saya yang dilempari padahal tidak ada dari kami yang beribadah di tempat itu yang pernah menyakiti si pelempar Saya jadi ingat tweet dari Goenawan Mohamad yang sempat saya retweet: "Yang marah bila didzalimi harusnya tidak tinggal diam jika kaumnya mendzalimi." Itu benar. Bukannya yang sedang diprotes adalah perilaku dzalim terhadap suatu kaum? Tetapi mengapa protes dilakukan dengan mendalimi kaum lain? Saya tidak mengerti logikanya. Bah, mungkin memang tidak ada logika sama sekali. Hanya keyakinan sempit yang diusung dengan menggebu-gebu. Saya takut benar hal ini akan merusak kehidupan beragama kota ini. Apalagi, jika melihat sejarah, dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat kota kita masih mudah tersulut emosinya.

Saya ingat masyarakat kita pernah terpicu, untungnya tidak sampai betindak bodoh, saat ada isu seorang pembantu rumah tangga pribumi yang dibunuh, atau diperkosa, saya tidak ingat, oleh majikannya yang keturunan tionghoa. Ada pula peristiwa saat seorang warga pendatang dari Flores menikam beberapa orang di tepi jalan Perintis Kemerdekaan. Masyarakat kita cukup tersulut, yang menyebabkan banyak warga Flores yang harus mengamankan diri di kantor-kantor polisi. Jauh ke belakang lagi saat saya masih SD pernah pula masyarakat kita menjarah toko-toko milik masyarakat keturunan Tionghoa. Saya ingat salah satu kenalan orang tua saya memasak besar-besaran di rumahnya lalu mengirimkan makanan ke rumah-rumah teman Tionghoa nya yang tidak bisa kemana-mana karena takut dirazia.

Kurang apalagi pelajaran dari sejarah kita. Bahwa masyarakat kita pernah-atau jangan jangan masih-bersumbu pendek dan mudah tepicu. Saya bertanya-tanya kapan kita mulai mengidentifikasi diri sebagai Indonesia. Dan agama, suku, ras, bisa setidaknya sedikit dikesampingkan untuk menjadi Indonesia, bersaudara dalam Indonesia. Aksi solidaritas tidak menyerang sesama saudara.

Jumat, 04 Mei 2012

Memperjuangkan Mimpi Butet Manurung

Hola! Hari ini saya sedang berselancar di situs VOA Indonesia dan menemukan artikel mengenai Butet Manurung. Sebagai gambaran umum (kalau masih ada yang belum mengenal siapa dia) Butet Manurung adalah seorang wanita bersuku Batak yang bernama lahir Saur Marlina Manurung. Dia adalah seorang wanita yang merintis sekolah alternatif bagi masyarakat Orang Rimba (Suku Kubu) yang berlokasi di Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi.

Butet Manurung
Gambar ini diambil dari sini

Nah, ternyata, sekolah alternatif ini tidak hanya dilaksanakan di Jambi, tapi sudah mulai menyebar di pelosok Indonesia wallaupun belum mencakup setiap profinsi. Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca twit dari Bapak Dino Patti Djalal, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, yang mengatakan bahwa Butet Manurung menerbitkan buku berjudul "The Jungle Book" di Amerika Serikat. Mengingat twitter hanya memberi informasi pendek, maka saya mencari informasi lebih lanjut mengenai hal ini. Dan ternyata, situs VOA Indonesia telah terdapat artikel mengenai peluncuran buku ini berjudul Butet Manurung Luncurkan Buku The Jungle School di AS. Sebelumnya, Butet Manurung telah menerbitkan buku berjudul Sokola Rimba di Indonesia. Buku ini berisi pengalaman Butet selama mengajar Orang Rimba di pedalaman Jambi.
Ini dia cover buku Sokola Rimba
Gambar ini diambil dari sini
Menurut artilkel yang tertulis di website VOA Indonesia, penerbitan buku ini di AS dimaksudkan untuk membantu pembiayaan program sekolah alternatif yang telah dirintis oleh Butet sejak tahun 1999. Setelah lebih dari 20 tahun membangun sekolah alternatif di lokasi-lokasi yang tidak terjangkau fasilitas pendidikan oleh pemerintah, kini Rumah Sokola telah memiliki 12 sekolah alternatif. Tujuh diantaranya merupakan sekolah pasca bencana yang sifatnya hanya sementara, seperti yang ada di Aceh dan Yogyakarta. Lima sekolah lainnya diperuntukkan bagi komunitas terkucil yang tinggal di pedalaman. Namun dari lima sekolah  hanya satu yang masih beroperasi. Semua karena permasalahan dana.

Ini di peta persebaran sekolah alternatif rintisan Rumah Sokola
gambar ini diambil dari sini

Sayang sekali jika kerja keras dari Butet dan kawan-kawan Rumah Sokola harus terhenti di tengah jalan akibat kurangnya dana. maka dari itu Butet berinisiatif untuk menerbitkan buku "The Jungle Book" yang nantinya seluruh hasil dari penjualannya akan digunakan untuk pembiayayaan kegiatan Rumah Sokola. Peluncuran buku ini dilakukan di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC tanggal 10 April 2012. 

Di bulan Mei yang identik dengan bulan pendidikan ini, berita mengenai sekolah rintisan yang tutup karena kekurangan dana seperti memadamkan satu lagi lilin harapan bangsa ini. Dengan pendidikan sebagai tonggok utama pendorong perubahan Indonesia, miris sekali mengetahui bahwa harapan masyarakat pedalaman untuk memperoleh pendidikan semakin kecil.

Saya sempat memperoleh pengalaman mengajar di sekolah yang berlokasi terpencil di Sulawesi Selatan pada program Kuliah Kerja Nyata kampus saya. Saya terkejut bahwa di salah satu kabupaten tujuan wisata di Sulawesi Selatan, masih terdapat sekolah dengan fasiitas yang jauh dari layak. Karena kurangnya bangunan sekolah, siswa kelas 1 dan kelas 2 bahkan harus belajar di bekas bangunan tua yang berada di kompleks sekolah. Tapi, setidaknya masih bertap, jika dibandingkan dengan orang rimba yang bersekolah di alam terbuka. Tapi fasilitas tidak bisa menjadi satu-satunya tolok ukur dalam penilaian kualitas pendidikan. Buktinya, di sekolah tempat saya mengajar, masih banyak siswa kelas 6 (bayangkan, kelas 6!) yang belum lancar membaca. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa naik kelas?

Beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan program di salah satu TV swasta. Sebuah Talkshow yang menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bapak M. Nuh. Saat ditanyakan apakah saat ini ujian nasional memang "harus" diterapkan? Beliau menjawab harus, karena ujian nasional merupakan tolok ukur pendidikan Indonesia. Saya seketika mengingat sekolah tempat saya mengajar dulu. Bagaimana nasib murid saya yang belum lancar membaca akan menghadapi uian nasional?

Pendidikan merupakan hak azasi yang diakui secara internasional. Dan negara adalah fasilitator terpenuhinya hak tersebut. Beberapa daerah telah menerapkan pendidikan gratis 9 tahun. Namun belum ada yang menjanjikan "ketersediaan pendidikan yang layak" 9 tahun. Apa gunanya pendidikan gratis jika tidak tersedia? 

Program-program berbasis bantuan pendidikan seperti Rumah Sokola merupakan harapan bagi masyarakat kita yang masih menjadi anak tiri negara. Sayang sekali jika program seperti ini harus terhenti akibat terkendala pembiayaan. Jika tidak bisa menjadi seperti Butet Manurung, cukuplah kita membantu Butet untuk terus menjalankan mimpinya. :)

Jumat, 30 Desember 2011

Kemah Menulis 2011, Hari Keenam, Hari Terakhir!! :')

30 November 2011...

Pagi itu bangun dengan kepala nyut-nyutan, hasil begadang semalam. Kamar lumayan kalang kabut karena hari itu harus ke kantor Mien R. Uno Foundation yang sedikit lebih jauh, jadinya harus berangkat lebih pagi. Saya lalu menyeduh kopi, berusaha menghilangkan sakit kepala. Lalu memutuskan dengan cepat untuk tidak mandi menghemat air. Harus peduli lingkungan bukan. Toh, kemarin sorenya saya sudah mandi. Hahaha.

Berangkatlah saya dan teman-teman ke sana. Dengan naik bus yang super padat penumpang. Berdiri pun padat empet-empetan. Tapi seperti pepatah lama karangan saya sendiri. It's no matter how you traveling, it's about who you travelling with. Jadi mau naik apa juga, semenderita apa juga, asalkan bersama orang-orang yang kalian senangi, rasanya akan tetap menyenangkan, sort of. Hehehe. Tapi memang hari itu perjalanan rasanya tidak begitu berat buat saya walaupun harus menggantung karena tidak dapat tempat duduk. Tetap seru karena sambil ngobrol dan bercanda dengan Ka Vando, Bang Ayos, dan teman-teman yang lain.

Di kantor Mien R. Uno Foundation kami kemudian diajak untuk berwirausaha. Kami dipertemukan dengan beberapa pengusaha muda yang sedang merintis usahanya. Yang pertama adalah dua orang pengusaha muda yang berjualan jagung yang dikemas dalam cup dan dijual berkeliling. Dua orang mas-mas ini *saya lupa namanya* benar-benar menginspirasi saya dari perjuangan mereka merintis usaha. Mereka benar-benar berjuang dari nol, dengan modal seadanya. Tapi, ada hal yang kurang mengena bagi kami. Yaitu, saat ditanyakan mengenai rencana kedepan dalam pengembangan bisnis mereka. Dengan santainya mereka menjawab: "Kalian tahu pohon? Nah, pohon itu tanpa diapa-apakan pasti akan tumbuh. Kami juga seperti itu."

Bagi teman-teman yang telah termotivasi dari beberapa sesi sebelumnya, tenatu saja kurang puas dgn jawaban tersebut. Kenapa? Karena kesannya kurang memotivasi kami yang bahkan belum memulai usaha. Saya cukup mengerti apa yang dimaksud dari kedua pengusaha tersebut bahwa mereka memilih "go with the flow", nggak ngoyo untuk mencari keuntungan. Tapi mungkin dapat ddijelaskan dengan mencari perumpamaan lain. Selain pohon maksudnya. Pengusaha kedua adalah wirasastawan muda yang menjalankan usaha penjualan sepeda lipat, atau folding bike. Pandai melihat pasar dan didukung modal yang mumpuni, si pengusaha kedua ini dapat menuai keuntungan yang lumayan. Kali ini dilengkapi pula dengan rencana kedepannya. Pengusaha ketiga adalah pengusaha konveksi. Saya jujur kurang mendengarkan penjelasan Mbak pengusaha yang ketiga ini. Soalnya saya ngantuk berat, kopi yang diminum tadi pagi rupanya kurang mempan. Selesai materi di kantor Mien R. Uno Foundation, kami kembali ke apartemen. Bersiap untuk acara penutupan di J.W. Marriott.

Sorenya, berangkatlah kami ke J. W. Marriott. Kali ini saya mandi dong. Horeee.. Di sana kami sempat mendengar kuliah singkat dari Prof. Arief Rachman, salah satu tokoh pendidikan di Indonesia. Lalu berbincang dengan Pak Nanan Sukarna yang kemarin belum sempat bertemu di Mabes Polri karena harus ke Aceh. Acara dimulai dengan beberapa sambutan. Lalu kuliah singkat oleh Pak Dahlan Iskan, yang saat ini menjabat sebagai Menteri BUMN. Beliau memaparkan perkembangan masyarakat ekonomi menengah yang turut menyokong ekonomi Indonesia dan diharapkan nantinya akan membantu pertumbuhan ekonomi kita. Juga ada pembacaan naskah essay yang memenangkan juara pertama yang malam itu dilakukan oleh Mira Lesmana. Saat essay Dhiora tersebut dibacakan, saya yang cengeng hampir nangis, untunglah Pak Toriq Hadad duduk di depan saya. Saya jadi malu buat nangis. Heheh.

Acara pun resmi selesai. Saya tanpa sadar flashback ke beberapa hari sebelumnya. Saya merngingat-ingat diri saya sebelum mengikuti acara ini. Rasanya ada yang berbeda. Tiba-tiba saja saya yang serba pesimis dengan Indonesia merasa tidak se-pesimis dulu lagi. Sebelumnya, saya memang menuliskan tentang membangun rasa optimis untuk mengubah Indonesia. Tapi selama ini saya pun tidak se-optimis itu. Apalagi setelah mempelajari hukum, melihat bahwa yang terjadi di masyarakat benar-benar jauh dari yang dicita-citakan dari hukum itu sendiri. Rasa optimis kadang dikalahkan oleh keinginan untuk realistis. Melihat sesuatu apa adanya, tidak berharap banyak.

Tetapi setelah mengikuti kegiatan ini selama enam hari, saya sadar bahwa masih banyak orang-orang yang peduli dengan Indonesia. Bukan hanya peduli, tapi benar-benar melakukan sesuatu untuk negara ini. Saya merasa beruntung bisa menemukan lagi rasa cinta saya kepada Indonesia melalui acara ini. Sayapun berpikir, jika sekolah-sekolah atau universitas-universitas mengubah proses orientasi siswa/mahasiswa baru dengan kegiatan semacam ini, tidak persis, cukup disesuaikan, maka pastilah akan jauh lebih baik dan bermanfaat. Dibandingkan ospek-ospek yang tidak jarang memakan korban.

Malam itu saya senang sekaligus sedih. Senang karena telah mendapatkan ilmu yang melimpah. Sedih karena harus berpisah dengan teman-teman yang baru mulai saya kenal dengan baik. Kekhawatiran awal saya mengenai kegiatan ini, pesereta-peserta lain, akhirnya tidak terbukti. Kegiatannya benar-benar menarik dan jauh dari membosankan. Peserta-pesertanya menyenangkan dan sama sekali saya tidak merasa tersingkirkan mengngat saya berasal dari luar Jawa. Rupanya saya yang telah terjebak dengan stereotip bahwa teman-teman yang dari Jawa sering diskriminatif terhadap kami sesama penduduk Indonesia namun berasal dari luar Jawa. Memang saya pernah mengalaminya beberapa kali, tapi saya seharusnya tidak lantas melakukan generalisasi terhadap tea-teman lainnya. Maaf yaaa... :')

Banyak hal yang tidak dapat saya jelaskan secara eksplisit disini. Yang jelas, pengalaman ini benar-benar berkesan bagi saya. Buktinya, hari ini, sebulan dari acara tersebut, saya masih dengan semangatnya menulis tentang event ini. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa saya menulis pengalaman mengikuti Kemah Menulis hingga enam postingan. Saya berpengalaman, saat saya ingin mencari tahu mengenai kemah menulis yang diadakan tahun lalu, sulit sekali memperoleh informasi yang dapat menjelaskan kegiatan ini. Apakah kegiatan ini membosankan? Mengingat namanya adalah Kemah Menulis, sangat identik dengan kesan serius dan formal. Hari ini belajar membuat essay, besok latihan menyempurnakan EYD. Tidak heran teman saya bertanya "Kamu kenapa? Capek karena seminggu tidak melihat matahari?" mengira kegiatan yang saya ikuti melulu dilakukan di dalam ruangan. Bukannya tidak menarik, hanya kurang menarik bagi sebagian besar kaum muda yang inginnya sesuatu yang lebih interaktif dan atraktif. Maka, saya berharap, dengan saya menulis sedikit mendetail mengenai acara ini, akan lebih menarik bagi siapapun yang ingin tahu kegiatan dari Kemah Menulis ini. Syukur-syukur bisa termotivasi untuk mengikuti kompetisi essay yang sama tahun depan.

Hal lain yang memotivasi diri saya untuk menuliskan cerita ini hingga enam seri, adalah saya ingin mendisiplinkan diri saya untuk menulis. Dan saya akui rasanya sulit. Maka saya berinisiatif untuk memulainya dengan menuliskan salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya, yaitu Kemah Menulis ini. Setidaknya, dengan menuliskan hal-hal yang saya sukai, saya lebih mudah mendisiplinkan diri.

Hari itu tanggal telah berganti menjadi tanggal 1 Desember. Sekitar pukul setengah 3 subuh. Saya berdiri di depan lobi apartemen ditemani beberapa teman. Seingat saya Rini, Raisa, Mbak Mita, dan Sisil, lalu ada Teguh, Dhiora, Bayu, dan Mas Bimo yang sudah susah-susah mencarikan Taxi. Maaf kalau ada yang terlupa. Saya pun berangkat ke bandara, siap meninggalkan Jakarta dengan penerbangan pukul 4 subuh. Minggu yang sungguh berarti bagi saya. 6 hari yang memperkaya wawasan, 6 hari yang menata ulang perasaan saya. Kepada diri saya, kepada orang-orang di sekitar saya, kepada negara ini. Selama ini menurut saya kalimat "I Love Indonesia" is a big bullshit, but since that day, I do love this country. Even I still wont say "I Love Indonesia", I am now trying to show Indonesia that I mean it. Dan apa yang lebih indah dari cinta yang ditunjukkan?

NB: Thanks for reading this such a shallow blog. I do hope you enjoy it!

Senin, 21 November 2011

Nasionalisme = Indonesia + Sepakbola

Sebenarnya mau nulis dari tadi malam, tapi setelah sinyal modem terlihat awut-awutan, ya sudahlah nulisnya ditunda sampe pagi ini. saya rasa hampir semua blogger pasti gregetan buat nulis setelah apa yang terjadi tadi malam. hahaha.

memang berat sekali harus melihat kekalahan Timnas U-23 kita tadi malam. bagaimana tidak, setelah perjuangan pemain, ekspektasi penonton, ulasan para ahli, dan prediksi para gamblers, sayangnya Tuhan masih berkehendak lain. *sedikit dramatis*. tapi intinya saya super bangga dengan timnas u-23. memang klise, memang semua orang akan berkata demikian, memang kedengarannya sedikit menghibur diri, tapi berbeda dari kekalahan-kekalahan Indonesia di kesempatan yang lalu-lalu, kekalahan kali ini rasanya benar-benar melekat. bukan kekalahannya yang melekat, tapi perasaan bangga, semangat, dan yang paling penting adalah harapan. harapan besar terhadap bangsa sendiri.

Indonesia bukan negara dengan kondisi yang dapat membangun nasionalisme bangsanya secara otomatis. menjadi orang Indonesia berarti menjadi bagian dari bangsa yang berkembang dengan segala masalahnya. masalah-masalah yang sedikit demi sedikit menggerus nasionalisme, menumpulkan semangat kebangsaan, dan penurunan rasa persatuan. tapi, menjadi supporter Tim Nasional Sepakbola Indonesia, berarti sebaliknya.

menjadi supporter Timnas berarti menjadi bagian dari permainan membela bangsa yang harus dilakukan hingga titik darah penghabisan. untuk beberapa saat masalah indonesia hanya menjadi hal nomor ke sekian untuk dipusingkan. secara cepat nasionalisme menggetarkan tiap-tiap hati manusia negara ini. tiba-tiba tidak ada masalah rasisme, tidak ada diskriminasi geografis, tidak ada saling cemooh, tidak ada rasa saling memusuhi, tidak ada pesimisme, hanya ada satu: INDONESIA.

Indonesia yang harus dibela. saya yakin, baik pemain di dalam lapangan maupun para supporter di luar lapangan, seketika memiliki rasa cinta tanah air yang sama. rasa cinta tanah air sama meluap-luapnya. dan saat lagu indonesia raya dikumandangkan, kita merasakan perasaan magis yang sama, perasaan magis bernama: NASIONALISME. suatu perasaan yang mungkin dengan tiba-tiba pula akan kita lupakan beberapa saat lagi, sayangnya.

Saya senang kita masih bisa merasakan nasionalisme yang sama walupun hanya dalam sepak bola. katakanlah, daripada tidak sama sekali. saya kemudian mendapati diri saya memaknai kekalahan Timnas semalam tidak lagi sebaai hal yang harus disesali. karena menurut saya kita tidak kalah sama sekali. saya bukan pengamat sepakbola profesional, tapi saya sudah cukup lama menjadi penonton sepakbola untuk tahu bahwa permaian Timnas kita semalam sangat luar biasa. terlepas dari apa yang terjadi di lapangan, kita untuk sesaat telah memenangkan nasionalisme kita kembali. walau itu instan, walau itu hanya untuk sepak bola. setidaknya kita mulai belajar untuk mencintai negara ini kembali. dan cinta seharusnya membawa kepedulian, kepedulian mendorng pengorbanan, dan pengorbanan, entah sekecil apapun, sedikit demi sedikit akan membantu bangsa ini. jika kita memang mencintai bangsa ini, maka berkorbanlah untuk tidak merusaknya. berkorbanlah untuk tidak korupsi, berkorbanlah untuk tidak rasis, berkorbanlah untuk tidak menebang hutan secara illegal, berkorbanlah untuk tidak tawuran.

saya sadar apa yang saya kemukakan sedikit terlalu muluk-muluk, tapi saya juga yakin, tidak ada yang tidak mungkin. mungin suatu saat bangsa ini akan berubah, mungkin suatu saat kita akan mencintai Indonesia setiap harinya sebesar kita mencintai Indonesia di pertandingan sepak bola. mungkin suatu saat Timnas kita akan berlaga di Piala Dunia. mungkin suatu saat petinggi sepak bola kita akan mencintai Indonesia untuk kemudian mulai memperbaiki sepak bola nasional. mungkin suatu saat supporter kita akan cukup mencintai indonesia untuk tidak melakukan pengrusakan. mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk kita memulai belajar mencintai Indonesia di luar pertandingan sepak bola.

hari ini, saya sampai pada titik dimana saya bangga menjadi orang Indonesia. saya bangga memiliki Timnas yang bermain sangat baik. saya berharap suatu saat saya juga akan bangga memiliki pemerintahan yang bersih. atau suatu saat saya akan bangga hidup di negara yang orang miskinnya terpelihara dengan baik. atau suatu saat saya akan bangga menjadi bagian dari negara yang tidak terpecah belah. dan suatu saat saya akan bangga karena mahasiswa di negara saya tidak berkelahi dengan sesamanya. yah, cukuplah hari ini saya bersyukur karena masih bisa bangga terhadap Timnas dulu.

terakhir, saya hanya ingin mengirimkan doa untuk supporter yang meninggal semalam. saya hanya bisa berharap mereka diterima di pangkuan Tuhan yang Maha Baik.