Tampilkan postingan dengan label Kemah Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemah Menulis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2012

Lomba Review Berita :)

Dear friends, hari ini saya mau membagi info lomba menulis, tapi bukan karya tulis atau essay. Lomba ini merupakan lomba review berita yang diadakan oleh Tempo Institute. Lebih jelasnya, simak yang dibawah ini:


Lomba Review Berita Tempo.co



Berhadiah Satu Bulan Magang di Tempo Institute

...


Demi meningkatkan mutu jurnalistik dan pemberitaan, Tempo Institute mengajak teman-teman (pelajar, mahasiswa, umum) untuk bersama memberi komentar atau review atas berita-berita yang dimuat di Tempo.co, selama bulan Januari 2012.

Silakan meneropong, mengritik, dan mereview berita apa saja. Bisa tentang kasus Mesuji, Bima, ironi keadilan sandal buat Aal, kematian tragis Adesagi, olah raga, resolusi kalangan selebritas, atau sepak-terjang pemberantasan korupsi yang maju-mundur.

Komentar dan review ini akan menjadi masukan berharga buat tim redaksi dan juga TempoInstitute Indonesia.


Review yang diminta adalah : apakah berita tersebut penting bagi publik, menarik, seberapa kuat nilai layak berita di dalamnya, dan apa kekurangan atau kelebihan berita tersebut.


Caranya:


1. Daftarkan diri Anda di Forum Tempo.com di Tempo.co atau

2. Pilih satu berita di Tempo.co, lalu tulislah review berita itu di Thread "Lomba Review Berita Bersama Tempo Institute)

3. Masukkan tulisan Anda ke dalam New Thread di Kanal itu.

4. Tulisan singkat saja, maksimum 200 kata

5. Tenggat : 5 Februari 2012

6. Pengumuman disampaikan pada 10 Februari 2012

7. Lomba ini berlaku bagi siapa saja, diutamakan mahasiswa dan pelajar.


Hadiah

1 (satu) penulis review terbaik dari kalangan mahasiswa diberi kesempatan magang selama 1 (satu) bulan di Tempo Institute (transportasi dan akomodasi ditanggung).

10 review yang pilihan akan diberi bingkisan masing-masing berupa : 1 buku "Kecap Dapur TEMPO" (buku baru terbitan KPG Gramedia), 1 flash disk Tempo.co, dan 1 kaos Tempo.co.



Ayo, mari meneropong berita Tempo.co

Salam, Panitia


Pertanyaan bisa diemail ke institut@tempo.co.id

Selamat berkompetisi.. ;)

Jumat, 30 Desember 2011

Kemah Menulis 2011, Hari Keenam, Hari Terakhir!! :')

30 November 2011...

Pagi itu bangun dengan kepala nyut-nyutan, hasil begadang semalam. Kamar lumayan kalang kabut karena hari itu harus ke kantor Mien R. Uno Foundation yang sedikit lebih jauh, jadinya harus berangkat lebih pagi. Saya lalu menyeduh kopi, berusaha menghilangkan sakit kepala. Lalu memutuskan dengan cepat untuk tidak mandi menghemat air. Harus peduli lingkungan bukan. Toh, kemarin sorenya saya sudah mandi. Hahaha.

Berangkatlah saya dan teman-teman ke sana. Dengan naik bus yang super padat penumpang. Berdiri pun padat empet-empetan. Tapi seperti pepatah lama karangan saya sendiri. It's no matter how you traveling, it's about who you travelling with. Jadi mau naik apa juga, semenderita apa juga, asalkan bersama orang-orang yang kalian senangi, rasanya akan tetap menyenangkan, sort of. Hehehe. Tapi memang hari itu perjalanan rasanya tidak begitu berat buat saya walaupun harus menggantung karena tidak dapat tempat duduk. Tetap seru karena sambil ngobrol dan bercanda dengan Ka Vando, Bang Ayos, dan teman-teman yang lain.

Di kantor Mien R. Uno Foundation kami kemudian diajak untuk berwirausaha. Kami dipertemukan dengan beberapa pengusaha muda yang sedang merintis usahanya. Yang pertama adalah dua orang pengusaha muda yang berjualan jagung yang dikemas dalam cup dan dijual berkeliling. Dua orang mas-mas ini *saya lupa namanya* benar-benar menginspirasi saya dari perjuangan mereka merintis usaha. Mereka benar-benar berjuang dari nol, dengan modal seadanya. Tapi, ada hal yang kurang mengena bagi kami. Yaitu, saat ditanyakan mengenai rencana kedepan dalam pengembangan bisnis mereka. Dengan santainya mereka menjawab: "Kalian tahu pohon? Nah, pohon itu tanpa diapa-apakan pasti akan tumbuh. Kami juga seperti itu."

Bagi teman-teman yang telah termotivasi dari beberapa sesi sebelumnya, tenatu saja kurang puas dgn jawaban tersebut. Kenapa? Karena kesannya kurang memotivasi kami yang bahkan belum memulai usaha. Saya cukup mengerti apa yang dimaksud dari kedua pengusaha tersebut bahwa mereka memilih "go with the flow", nggak ngoyo untuk mencari keuntungan. Tapi mungkin dapat ddijelaskan dengan mencari perumpamaan lain. Selain pohon maksudnya. Pengusaha kedua adalah wirasastawan muda yang menjalankan usaha penjualan sepeda lipat, atau folding bike. Pandai melihat pasar dan didukung modal yang mumpuni, si pengusaha kedua ini dapat menuai keuntungan yang lumayan. Kali ini dilengkapi pula dengan rencana kedepannya. Pengusaha ketiga adalah pengusaha konveksi. Saya jujur kurang mendengarkan penjelasan Mbak pengusaha yang ketiga ini. Soalnya saya ngantuk berat, kopi yang diminum tadi pagi rupanya kurang mempan. Selesai materi di kantor Mien R. Uno Foundation, kami kembali ke apartemen. Bersiap untuk acara penutupan di J.W. Marriott.

Sorenya, berangkatlah kami ke J. W. Marriott. Kali ini saya mandi dong. Horeee.. Di sana kami sempat mendengar kuliah singkat dari Prof. Arief Rachman, salah satu tokoh pendidikan di Indonesia. Lalu berbincang dengan Pak Nanan Sukarna yang kemarin belum sempat bertemu di Mabes Polri karena harus ke Aceh. Acara dimulai dengan beberapa sambutan. Lalu kuliah singkat oleh Pak Dahlan Iskan, yang saat ini menjabat sebagai Menteri BUMN. Beliau memaparkan perkembangan masyarakat ekonomi menengah yang turut menyokong ekonomi Indonesia dan diharapkan nantinya akan membantu pertumbuhan ekonomi kita. Juga ada pembacaan naskah essay yang memenangkan juara pertama yang malam itu dilakukan oleh Mira Lesmana. Saat essay Dhiora tersebut dibacakan, saya yang cengeng hampir nangis, untunglah Pak Toriq Hadad duduk di depan saya. Saya jadi malu buat nangis. Heheh.

Acara pun resmi selesai. Saya tanpa sadar flashback ke beberapa hari sebelumnya. Saya merngingat-ingat diri saya sebelum mengikuti acara ini. Rasanya ada yang berbeda. Tiba-tiba saja saya yang serba pesimis dengan Indonesia merasa tidak se-pesimis dulu lagi. Sebelumnya, saya memang menuliskan tentang membangun rasa optimis untuk mengubah Indonesia. Tapi selama ini saya pun tidak se-optimis itu. Apalagi setelah mempelajari hukum, melihat bahwa yang terjadi di masyarakat benar-benar jauh dari yang dicita-citakan dari hukum itu sendiri. Rasa optimis kadang dikalahkan oleh keinginan untuk realistis. Melihat sesuatu apa adanya, tidak berharap banyak.

Tetapi setelah mengikuti kegiatan ini selama enam hari, saya sadar bahwa masih banyak orang-orang yang peduli dengan Indonesia. Bukan hanya peduli, tapi benar-benar melakukan sesuatu untuk negara ini. Saya merasa beruntung bisa menemukan lagi rasa cinta saya kepada Indonesia melalui acara ini. Sayapun berpikir, jika sekolah-sekolah atau universitas-universitas mengubah proses orientasi siswa/mahasiswa baru dengan kegiatan semacam ini, tidak persis, cukup disesuaikan, maka pastilah akan jauh lebih baik dan bermanfaat. Dibandingkan ospek-ospek yang tidak jarang memakan korban.

Malam itu saya senang sekaligus sedih. Senang karena telah mendapatkan ilmu yang melimpah. Sedih karena harus berpisah dengan teman-teman yang baru mulai saya kenal dengan baik. Kekhawatiran awal saya mengenai kegiatan ini, pesereta-peserta lain, akhirnya tidak terbukti. Kegiatannya benar-benar menarik dan jauh dari membosankan. Peserta-pesertanya menyenangkan dan sama sekali saya tidak merasa tersingkirkan mengngat saya berasal dari luar Jawa. Rupanya saya yang telah terjebak dengan stereotip bahwa teman-teman yang dari Jawa sering diskriminatif terhadap kami sesama penduduk Indonesia namun berasal dari luar Jawa. Memang saya pernah mengalaminya beberapa kali, tapi saya seharusnya tidak lantas melakukan generalisasi terhadap tea-teman lainnya. Maaf yaaa... :')

Banyak hal yang tidak dapat saya jelaskan secara eksplisit disini. Yang jelas, pengalaman ini benar-benar berkesan bagi saya. Buktinya, hari ini, sebulan dari acara tersebut, saya masih dengan semangatnya menulis tentang event ini. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa saya menulis pengalaman mengikuti Kemah Menulis hingga enam postingan. Saya berpengalaman, saat saya ingin mencari tahu mengenai kemah menulis yang diadakan tahun lalu, sulit sekali memperoleh informasi yang dapat menjelaskan kegiatan ini. Apakah kegiatan ini membosankan? Mengingat namanya adalah Kemah Menulis, sangat identik dengan kesan serius dan formal. Hari ini belajar membuat essay, besok latihan menyempurnakan EYD. Tidak heran teman saya bertanya "Kamu kenapa? Capek karena seminggu tidak melihat matahari?" mengira kegiatan yang saya ikuti melulu dilakukan di dalam ruangan. Bukannya tidak menarik, hanya kurang menarik bagi sebagian besar kaum muda yang inginnya sesuatu yang lebih interaktif dan atraktif. Maka, saya berharap, dengan saya menulis sedikit mendetail mengenai acara ini, akan lebih menarik bagi siapapun yang ingin tahu kegiatan dari Kemah Menulis ini. Syukur-syukur bisa termotivasi untuk mengikuti kompetisi essay yang sama tahun depan.

Hal lain yang memotivasi diri saya untuk menuliskan cerita ini hingga enam seri, adalah saya ingin mendisiplinkan diri saya untuk menulis. Dan saya akui rasanya sulit. Maka saya berinisiatif untuk memulainya dengan menuliskan salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya, yaitu Kemah Menulis ini. Setidaknya, dengan menuliskan hal-hal yang saya sukai, saya lebih mudah mendisiplinkan diri.

Hari itu tanggal telah berganti menjadi tanggal 1 Desember. Sekitar pukul setengah 3 subuh. Saya berdiri di depan lobi apartemen ditemani beberapa teman. Seingat saya Rini, Raisa, Mbak Mita, dan Sisil, lalu ada Teguh, Dhiora, Bayu, dan Mas Bimo yang sudah susah-susah mencarikan Taxi. Maaf kalau ada yang terlupa. Saya pun berangkat ke bandara, siap meninggalkan Jakarta dengan penerbangan pukul 4 subuh. Minggu yang sungguh berarti bagi saya. 6 hari yang memperkaya wawasan, 6 hari yang menata ulang perasaan saya. Kepada diri saya, kepada orang-orang di sekitar saya, kepada negara ini. Selama ini menurut saya kalimat "I Love Indonesia" is a big bullshit, but since that day, I do love this country. Even I still wont say "I Love Indonesia", I am now trying to show Indonesia that I mean it. Dan apa yang lebih indah dari cinta yang ditunjukkan?

NB: Thanks for reading this such a shallow blog. I do hope you enjoy it!

Kamis, 29 Desember 2011

Kemah Menulis 2011, Hari Kelima B)

Sebulan yang lalu, tanggal 29 November, Jakarta tidak se-hujan Makassar hari ini. Hanya sedikit mendung, tapi seingat saya tidak hujan. Pagi-pagi sekali saya sudah bangun. Sebagai salah satu penghuni nomaden yang tidur berpindah-pindah, malamnya saya tidur di kamar Mbak Monic kalo tidak salah. Atau di depan TV, saya sudah lupa. Sangking seringnya pindah-pindah kamar.*curcol* *abaikan*

Hari itu, kami dijadwalkan untuk berkunjung ke kantor General Electric. General Electric adalah sebuah perusahaan yang didirikan oleh Thomas Alfa Edison pada tahun 1878. Ya, Thomas Alva Edison, dan sekali lagi ya, tahun 1878. And still exist until today. Wow. Menurut agenda, seluruh materi sejak pagi hingga sore akan diadakan di kantor GE. Yang ada di pikiran saya, pasti bakalan membosankan. Nah, sekali lagi saya bermain-main dengan kata "pasti".

Kelompok saya memutuskan untuk menggunakan Bus TransJakarta lagi kali ini. Lagi-lagi kami asyik ngobrol sampai-sampai kami tersesat  salah halte. Hehehe, yang lain ternyata sudah tiba duluan dari kami. Materi pertama lebih ke pengenalan tentang GE, lalu dilanjutkan dengan materi "Leading the Winning Team" oleh salah satu pegawai GE *yang saya lupa namanya*. Sangking terkesimanya saya dengan materi tersebut, saya hampir tidak mencatat apa-apa. Tapi ada satu quotes yang saya ingat dan saya tulis dalam bahasa Inggris.
"Don't fool yourself by taking over all the tasks that your team cannot deliver" 
Berapa kali saat kita memimpin sebuah tim kita mengambil alih tugas yang tidak dapat dikerjakan oleh anggota tim? Sering. Karena tujuan utama kita adalah tercapainya target. Padahal, dengan mengambil alih tugas-tugas tersebut kita tidak memimpin tim kita sama sekali. Saat ada masalah, kata si bapak yang saya lupa namanya, pemimpin bertugas untuk memotivasi, menyebarkan semangat bekerja di antara anggota tim. Itu teorinya. Praktiknya silahkan diterapkan sesuai kondisi masing masing. Hehe.

Lalu berikutnya materi diisi oleh perwakilan perusahaan yang merupakan kostumer dari GE. Yang pertama adalah seorang Meneer warga negara Belanda, bernama Sebastiaan Saureen, yang merupakan Founder *kalau saya tidak salah* dari perusahaan asing bernama Navigat. Navigat adalah sebuah perusahaan penghasil listrik tenaga biomass. Navigat memproduksi listrik dari pengolahan sampah yang menghasilkan gas-gas tertentu seperti gas  metana. Jadi, sampah yang kita buang sehari-hari berhasil diubah menjadi energi listrik, yang nantinya akan dijual kembali ke kita, yang senang hati membeli melalui PLN. Hahaha. Jangan salahkan Navigat, carilah jalan keluar. Selain Navigat, juga ada perwakilan dari Perusahaan Gas Negara (PNG) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia. Baik perwakilan Navigat maupun PNG memberi paparan mengenai perusahaan mereka ditambah sedikit materi mengenai enterpreneurship dan leadership.

Materi berikutnya disampaikan oleh Bapak Handry Santriago yang merupakan CEO General Electric Indonesia. Lagi-lagi kali ini saya tidak berhasil mencatat apapun. Karena sesi sore hari itu bersama Pak Handry benar-benar jauh dari kesan serius seperti materi-materi sebelumnya. Rasanya seperti ngobrol-ngobrol, yang anehnya, setiap kalimatnya bermakna. Well, sedikit sulit untuk digambarkan secara mendetail. Saya sibuk terpesona sepertinya. Hahaha. Saya ingat Pak Handry banyak memotivasi kami. Bahwa kami harus memiliki semangat bersaing. Saya jadi ingat sewaktu saya mengikuti World Model United Nation awal tahun ini saya sempat mengamati beberapa rekan dari India. Dari pengamatan saya, dibandingkan mahasiswa dari negara lain, mahasiswa-mahasiswa India tergolong super aktif, cenderung maksa dalam berargumentasi. Kesannya seperti ga mau kalah.

Tetapi, setelah bincang-bincang dengan Pak Handry mengenai daya saing, barulah saya paham. Di India, yang penduduknya sekitar 6 kali lipat penduduk Indonesia, tapi dengan luas wilayah yang hanya sekitar sepertiga dari Indonesia, kalau tidak kuat bersaing, mau makan apa? Kasarnya begitu. Bayangkan, kalau di negara kita saja rasanya lapangan kerja masih belum mencukupi, bagaimana rasanya mencari kerja di India? Silahkan anda bayangkan sendiri. Makanya, mereka memodali diri habis-habisan, dengan pendidikan dan modal Bahasa Inggris yang mumpuni walaupun masih ngondek dan penuh huruf "d". Tapi toh mereka memiliki daya saing yang kuat, dan terbukti mereka tersebar di seluruh belahan dunia. Bekerja di perusahaan-perusahaan atau membuka usaha hampir di tiap negara.

Obrolan dengan Pak Handry rasanya ringan tapi penuh makna. Saya juga teringat peringatan Pak Handry tentang globalisasi. Memang bukan berita baru, tapi lagi-lagi saya yang baru tersadar benar. Saat nanti arus globalisasi benar-benar berjalan, bangsa Indonesia, jika tidak mulai memperkuat daya saing sejak jauh-jauh hari, kita hanya akan jadi penonton. Jadi konsumer. Main congklak dengan papan congklak plastik bertuliskan "made in china". Menjadi orang asing di negara sendiri. Jabatan-jabatan strategis di perusahaan diisi oleh tenaga kerja asing, semisal China dan India, yang sudah lebih dahulu mempersiapkan diri. Saya jadi ngeri sendiri.

Sesi hari itu yang awalnya saya pikir akan super membosankan, mengingat kami hanya akan berdiam di satu tempat tidak mondar-mandir dengan Kopaja atau bus TransJakarta. Tidak ada museum untuk dilihat-lihat. Tapi ternyata lagi-lagi saya kena tulah kata "pasti" *untung saja* dan mendapati bahwa ternyata materi hari itu benar-benar menyenangkan. Apalagi saya dapat kursi kantor beroda yang nyaman. Hahaha.

Malam harinya kami dibolehkan berkunjung ke kantor Mas Didin, yaitu ID-SIRTII (Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure) atau Tim Insiden Keamanan Internet dan Infrastruktur Indonesia. Dari namanya bisa nebak nggak tim ini bergerak di bidang apa? Semacam.. um.. melindungi.. Indonesia. Hahaha. Yak, kurang lebig seperti itu. Saat bapak-bapak berseragam dan memegang sempritan di perempatan-perempatan jalan melindungi kita dari sifat pelit kejahatan, ID-SIRTII melindungi kita dari serangan-serangan di Internet. Lagi-lagi mulut saya menganga terkesima. Saya tidak menyangka ada tim macam beginian di Indonesia. Pernah nonton Die Hard 4? Yah, tim ini melindungi Indonesia dari serangan-serangan seperti di Die Hard itu. Dan ya, suatu negara bisa dilumpuhkan dari serangan hacker. Bukan hacker macam "situs ini kami ambil alih, hahaha", tapi hacker yang menyerang sistem-sistem vital negara. Perbankan misalnya. Maka berterimakasihlah kepada tim ini, yang memantau sistem internet Indonesia agar tidak dijatuhkan oleh hacker 24 jam. Ya. 24 jam.


Setelah kunjungan ke ID-SIRTII, kami lalu kembali ke aparteman. Tapi, malam itu, tidak seperti malam-malam sebelumnya*dramatisasi berlebihan*. Beberapa dari kami secara mencurigakan "tidak mengantuk" dan akhirnya memutuskan untuk menunggu rasa kantuk datang dengan melakukan kegiatan khas wanita, yaitu....main gaple. Enggak, boong ding. heheh. Kami akhirnya ngobrol ngalor ngidul dan kepo, sampai pukul setengah 2. Hahaha. Padahal besoknya harus bangun pagi. That's such a perfect day for me. Met fabulous people, cool things (apple berjejer-jejer), nice food, good stalking conversation, good day!! hahaha


Oh iya, yang mau tau lebih jauh tentang GE bisa klik disini  dan yang mau tau lebih jauh tentang ID-SIRTII bisa klik disini. Sampai jumpa di hari keenam!! Cheers B)

Rabu, 28 Desember 2011

Kemah Menulis 2011, Hari Keempat!

Postingan mengenai Kemah Menulis Hari Keempat ini seharusnya saya post semalam, tapi karena saya harus ke fisioterapi dulu, akhirnya saya telat nulis. Ditambah lagi sinyal modem hancur-hancuran, tertundalah hingga hari ini. Jadi hari ini saya harus memposting 2 kali. Huuuuu.....

Hari keempat, tiga hari menjelang akhir kegiatan, saya mulai kena sindrom "tidak ingin semua ini berakhir". Halah, lebay. Sebenarnya hanya perasaan sedih, saya baru mulai mengenal teman-teman lebih jauh disaat kegiatan semakin mendekati akhir. Heheh

Hari keempat saya sangat bersemangat. Hari ini kami akan mengunjungi Kantor KPK dan Mabes Polri. Sebagai mahasiswa fakultas hukum, mengunjungi dua instansi ini rasanya sedikit berbeda. Sedikit lebih bersemangat karena akan bertemu orang-orang di instansi yang selama ini berputar-putar dalam topik diskusi, objek kritisi, hingga anekdot-anekdot kampus. Saya menyiapkan pertanyaan yang lumayan banyak sebenarnya.

Kunjungan pertama adalah ke kantor KPK. Berangkatlah kami ke sana secara berkelompok. Kelompok saya ditemani mentor memilih untuk naik transportasi umum. Mengingat kami ingin menghemat uang saku yang dierikan. Berangkatlah kami dengan naik angkot lalu bus Transjakarta. Entah kenapa, mungkin karena keasyikan ngobrol, akhirnya kami salah turun halte, bukan tersesat loh. Hehehe. Untunglah tidak sampai terlambat.

Di kantor KPK kami bertemu dengan Pak Busyro, ketua KPK saat itu. Pak Busyro menjelaskan serba-serbi penanganan tindak pidana korupsi di Indonesia. Saya gregetan sekali ingin bertanya, sayang tidak dapat giliran. Nasiiib...nasib. Hari itu saya ingin menanyakan fungsi pengawasan KPK atas peradilan Tipikor di daerah. Sabagai salah satu anggota Tim Perekaman kerja sama antara KPK dengan Unhas, saya dan teman-teman ingin mengetahui sejauh mana rekaman sidang kasus korupsi yang kami rekam ditindaklanjuti oleh KPK. Apakah berkeping-keping salinan rekaman kasus korupsi yang kami kirimkan benar-benar diperiksa? Apakah kejanggalan-kejanggalan yang kami lihat juga tertangkap oleh KPK? Yang lebih penting lagi, apakah ada tindak lanjut atas kejanggalan-kejanggalan tersebut? Saya benar-benar penasaran.

Sebagai gambaran, salah satu sidang korupsi yang kami rekam berakhir dengan putusan bebas bagi terdakwa. Saya setuju dengan putusan tersebut, karena saya dan teman-teman mendapati, si terdakwa bukanlah orang yang harus bertanggung jawab atas tindak pidana korupsi yang merugikan negara hingga milyaran rupiah tersebut. Kami tidak berpendapat dengan terka-menerka, karena proses persidangan pun menunjukkan demikian. Baik keterangan saksi maupun keterangan ahli yang melakukan audit administrasi, keduanya berujung ke satu nama, yang bukan nama terdakwa. Setelah sidang tersebut kami lalu berharap ada tindak lanjut dari pihak kejaksaan atau kepolisisan. Tapi ternyata tidak. Maka berharaplah kami pada KPK, yang menerima salinan rekaman persidangan kami. Ternyata, tidak ada kabar juga.

Hari itu saya ingin bertanya mengenai hal tersebut kepada Pak Busyro. Karena saya sedikit percaya bahwa titik terang pemberantasan korupsi masih ada. Apakah berada di tangan KPK? Hari ini saya ragu, mudah-mudahan besok saya teryakinkan. Selain itu saya sebenarnya ingin berterimakasih kepada KPK, walaupun harus mengorbankan kuliah sehari dalam seminggu untuk stand by di Pengadilan Negeri, tapi saya makmur. Uang makan yang lumayan bisa ditabung. Heheh. Walaupun saat di-audit akhir tahun harus uring-uringan.

Dari KPK kami bertolak ke Mabes Polri. Kami akan mendapatkan materi mengenai Deradikalisasi dan Penegakan HAM. Saya sebenarnya sangat tertarik dengan masalah penegakan HAM, mengingat pematerinya merupakan aktivis dari KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan). Tapi sayangnya, rupanya materi hari itu lebih menekankan pada deradikalisasi dalam tindak pidana terorisme. Hari itu banyak dijelaskan mengenai latar belakang terorisme, bentuk-bentuk tindakan teror, sejarah, penanganan, lengkap dengan video-video para teroris. Saya lebih merasa didoktrin mengikuti sesi tersebut. Seperti mindset saya tentang teror dan terorisme harus disesuaikan dengan standar negara. Yah, mungkin hanya penyakit paranoid saya yang berlebihan. Saya sebenarnya mengharapkan dialog yang lebih interaktif. Saya akhirnya lebih terhibur menonton teman yang sedang tidur dibandingkan mendengarkan sejarah teror.

Saya lebih terhibur lagi berkeliling Museum Polri. Saya lama mencermati peralatan yang digunakan polisi di TKP. Entah itu di TKP pembunuhan, narkoba, dll. Melihat peralatan polisi di TKP narkoba saya tertawa sendiri. Ada perlengkapan yang digunakan untuk mengetes apakah obat atau zat yang dicurigai benar merupakan narkoba. Alat tersebut semacam tube yang nantinya jika zat mencurigakan tsb dimasukkan ke situ dan dicampurkan dengan zat tertentu, akan berubah warna jika memang mengandung zat-zat adiktif berbahaya. Saya tidak tahu polisi kita sudah dilengkapi dengan alat tersebut. Dalam penangkapan-penangkapan pelaku tindak pidana narkotika yang saya lihat di TV. Biasanya, si polisi hanya akan mencari narkoba di saku si pelaku, setelah ditemukan, si pelaku lalu dihadiahi bogem mentah. Bagaimana kalau yang di saku pelaku itu bukan narkoba? Kalau ternyata puyer? Hahaha.. Saya familier dengan alat tersebut bukan dari program macam Buser atau TKP yang produk dalam negeri. Saya familier karena sering menonton Fox Crime. Polisi-polisi Amerika dalam program TV Cops biasanya akan melakukan tes tersebut saat menangkap pelaku narkotika di TKP.

Di museum ini saya juga menccari profil Pak Hoegeng. Nah, Pak Hoegeng ini adalah salah satu dari tiga polisi jujur, yang tidak dapat disuap, yang dikisahkan dalam anekdot yang dilontarkan almarhum Gus Dur. Yang duanya lagi siapa? Patung polisi dan polisi tidur. Hahaha. Dalam perjalanan ke Mabes, di Kopaja, saya dan Ka Vando sempat bercerita tentang orang-orang yang "bersih" dalam penegakan hukum. Berbincanglah kami tentang Pak Hoegeng yang seorang polisi, Pak Yap Thian Hien yang seorang pengacara, dan Baharuddin Lopa yang seorang Jaksa.. Asumsi saya, profil atau paling tidak gambar Pak Hoegeng akan mudah ditemukan. Ternyata tidak. Profil singkat Pak Hoegeng hanya tercantum dalam semacam Hall of Fame bersama sejumlah polisi yang terkenal di Indonesia. Saya cukup tersenyum, mungkin saya yang berlebihan memandang sosok Pak Hoegeng.


Ini dia foto pak Hoegeng semasa muda dgn seragam kepolisisan.

Pulang dari Mabes Polri kami lagi-lagi memilih untuk menggunakan Bus TransJakarta. Kali ini rombongan kami lebih besar. Karena kami memilih untuk pulang bersama dengan dua kelompok lain. Lucunya, karena sempat berdesak-desakan saat akan naik ke Bus, rombongan kami sempat tepecah. Berangkatlah Bang Ayos, Dhiora, dan Dion lebih dulu dari kami. Usut punya usut ternyata merek akhirnya turun di Monas dan naik taksi kembali ke apatemen. Eciye…yang quality time bertiga. Hahaha.. Hecticnya Jakarta sore itu akhirnya kami tutup dengan rame-rame makan es krim di Alfamart apartemen. Ck, anak komplek sejati. Hihihi.

Sesi malam diisi dengan materi “Mengapa Menulis?” yang dibawakan oleh Mbak Mardiyah. Saya semangat lagi nih, mengingat saya suka menulis, tapi sebatas konsumsi pribadi alias nulis diary. Hehe. Mbak Mardiyah malam itu mengajarkan tentang pentingnya “angle” dalam menulis. Angle kurang lebih adalah sudut atau sisi yang ingin diangkat oleh si penulis. Karena sebuah peristiwa atau hal mamiliki banyak angle yang dapat ditelaah. Kami lalu diajari cara membuat angle yaitu dengan membuat pertanyaan. Kami lalu diberi PR, buat tulisan tentang kegiatan ini, dua paragraph, dan harus jelas angle nya. Otak saya muter. Saya harus mengangkat angle apa? Di tulisan saya kemudian, yang ada saya curhat tentang perasaan saya. Huuuu…

Materi menulis membuka mata saya akan pentingnya mengangkat satu sudut dari sebuah cerita. Jika ingin menceritakan semuanya, tulisan terkadang akan kurang menarik. Tiap topic *yang banyak itu* nantinya akan terkesan menggantung. Angle akan membantu kita untuk keep on track pada hal yang sebenarnya menjadi perhatian utama kita.


Hari keempat ini saya lumayan senang. Mengunjungi instansi-instansi yang belum tentu bisa saya kunjungi sehari-hari. Saya lebih senang lagi karena hari ini saya dan kawan-kawan lain semakin akrab. Sama-sama berpeluh mengantri di halte Bus TransJakarta rupanya berhasil mengakrabkan kami. Hal yang mungkin akan sulit didapatkan jika kita bepergian dengan bus yang telah disediakan oleh panitia. :)

Di hari keempat juga kamera saya mulai terisi. Terima kasih kepada Bang Moses yang telah menjadi partner in crime saya dalam mengambil gambar dimana-mana. Hehehe..

Selasa, 27 Desember 2011

Kemah Menulis 2011, Hari Ketiga!! :)

Nah, sampailah kita di hari ketiga *kita siapa juga ga tau* Kemah Menulis. Semalam saya mikir, apa seharusnya Kemah Menjadi Indonesia yah? Ah, sudahlah *tapi masih kepikiran*.

Di hari ketiga ini, kami dijadwalkan untuk berkunjung ke Villa Hutan Jati (VHJ) yang merupakan sebuah proyek yang bergerak di bidang pemberdayaan lahan kritis yang diprakarsai oleh Pak Boedi Krisnawan Suhargo. Awalnya saya tidak begitu antusias. Di pikiran saya, ah paling ke hutan jatinya trus dijelasan budidaya jati caranya gimana. Gimana mau antusias, di kampus dan di kampung bapak saya jati bertebaran dimana-mana. heheh.

Kami tiba di lokasi VHJ sekitar pukul 11. Matahari terik bersinar. Kami lalu disambut oleh Pak Boedi dan staffnya, berbincang sebentar sambil ngopi, ngeteh, dan makan singkong rebus, lalu kami diajak berkeliling. Antusiasme saya meningkat setelah dijelaskan bahwa dulunya, lahan ini keseluruhannya adalah bekas tambang batu, pasir, dan tanah merah. Seperti halnya lahan bekas tambang seperti itu, tanah tersebut tandus dan sulit ditumbuhi tanaman lagi. Disaat orang lain masih melihat itu sebagai sebuah kerusakan lingkungan yang patut disayangkan, Pak Boedi malah telah berpikir jauh ke depan. Lahan tersebut masih dapat dikonservasi untuk mengembalikan fungsinya dan disamping itu, berpeluang mendatangkan keuntungan bagi masyarakat sekitar. Selain itu, melalui proyek ini, masyarakat sekitar akan termotivasi untuk kembali bertani.

Ada salah satu tempat di kawasan VHJ yang kami lalui saat berkeliling yang tanahnya benar-benar tandus. Saya jadi teringat dengan kota tampat saya dilahirkan yang juga merupakan lokasinya pertambangan. Tanah seperti itu banyak ditemui disana. Seingat saya, banyak yang telah dihijaukan kembali, walaupun masih belum banyak melibatkan masyarakat karena sistem kontraknya berupa kontrak karya. Sistem kontrak karya membuat perusahaan menguasai seluruh lahan yang tercantum dalam kontrak sehingga masyarakat tidak boleh menggunakannya tanpa seizin perusahaan.

Sambil makan siang bersama, Pak Boedi berbagi pemikiran dan pengalaman dengan kami. Di sinilah rasa nasionalisme saya benar-benar tertampar. Sebelumnya, sejak saya mengetahui saya menjadi 20 besar kompetisi ini, perasaan saya hanya bangga dan bersyukur. Tapi, setelah mendengarkan kuliah singkat dari Pak Boedi, perasaan saya hanya satu: malu. Iya saya malu. Saya malu karena berbangga dengan hanya menulis, tidak berbuat. Bukan mengecilkan arti menulis, tapi lebih ke "kamu baru nulis nasionalisme aja sudah bangga, memangnya kamu sudah berbuat apa?" Kurang lebih seperti itu.

Ada kata-kata Pak Boedi yang tidak bisa saya lupakan, katanya: "Kalian yang masih muda seharusnya khawatir, 20 tahun 30 tahun lagi bumi ini seperti apa. Kalau saya paling 10 tahun lagi bakalan meninggal, 10 tahun lagi perubahan lingkungan tidak akan terlalu drastis. Tapi bagaimana 20-30 tahun mendatang?" Ya, bagaimana 20-30 tahun mendatang? Krisis pangan? Krisis air? Kerusakan lingkungan yang makin parah? Apakah kita mau hidup dengan kondisi demikian? Membesarkan anak dengan lingkungan demikian? Saya jelas tidak mau. Saya yakin kebanyakan dari kita pasti tidak mau.

Hari itu saya berpikir kembali apa yang telah saya lakukan untuk Indonesia dan untuk lingkungan. Saya berpikir dan berpikir, mengingat, dan satu-satunya yang bisa saya ingat adalah: mengajar anak-anak SD di tempat saya KKN beberapa bulan lalu. Saya malu. Benar-benar malu.

Malam harinya kami menuju ke rumah bapak Bambang Darmono untuk berbincang-bincang sekaligus makan malam *asyik*. Pak Bambang Darmono adalah purnawirawan TNI yang saat ini menjabat sebagai Kepala Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat (UP4B). Sesuai dengan kapasitasnya, Pak Bambang menjelaskan kepada kami mengenai gambaran kondisi Papua saat ini. Sebagai orang Indonesia yang juga berasal dari pulau yang terletak di sebelah timur Pulau Jawa  Indonesia, awalnya saya cukup merasa senasib dengan kawan-kawan saya di Papua. Tetapi, lagi-lagi saya tersadar, saya jauh lebih beruntung. Saya tidak mendapat tanggapan yang bersifat diskriminasi. Suku saya tidak ditempeli stereotip bersifat buruk. Suku saya, sejauh ini, masih menjadi tuan rumah di tanah sendiri. Dan bagi kawan-kawan kita di Papua, hal-hal tersebut masih mereka alami sehari-hari.


Bagi saya, Papua hari ini masih menjadi ironi. Bahwa propinsi dengan sumber daya alam terkaya, penduduknya masih jauh dari perasaan makmur, sejahtera, aman, dan setara.


Pengalaman di hari ketiga benar-benar berkesan buat saya. Hari itu keseluruhan persepsi saya mengenai nasionalisme benar-benar dirombak besar-besaran. Hari itu saya berpikir untuk melakukan sesuatu untuk Indonesia. Entah apa. Tapi di hari itu saya mulai bercita-cita. Semakin berkesan karena miniatur Kapal Phinisi yang saya bawa menjadi souvenir yang diberikan kepada Pak Bambang. Semoga berkesan. 


Oh iya, lebih berkesan lagi karena sempat diajak bernyanyi oleh Mas Jay Widjajanto, pendiri sekaligus pelatih kelompok paduan suara The Indonesia Choir. Mas Jay juga sempat menanyakan hal-hal yang bersifat Indonesia seperti: Rasuna Said berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sungguh, hari itu saya tidak tahu. Tapi hari ini saya tahu, jawabannya: Perempuan, bernama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said, orator dan pejuang kemerdekaan RI. Pertanyaan lain dari Mas Jay adalah apa kepanjangan dari GSSJ pada nama pahlawan Dr. G.S.S.J. Sam Ratulangi. Sebagai orang Sulawesi saya jadi malu tidak tahu kepanjangan nama pahlawan nasional dari pulau saya sendiri. Nama Sam Ratulangi diawali singkatan GSSJ saja saya tidak tahu. Karena pertanyaan nyentil itu saya akhirnya mencari tahu dan menemukan bahwa GSSJ adalah singkatan dari Gerungan Saul Samuel Jozias, menurut http://thearoengbinangproject.com dan Gerungan Saul Samuel Jacob dari http://www.tokohindonesia.com. Saya semakin setres, bukti bahwa kita tidak familiar dengan pahlawan sendiri, nama lengkap pahlawan nasional pun muncul 2 versi. Situs lain lebih banyak menuliskan versi Gerungan Saul Samuel Jacob, maka kemungkinan besar itulah yang benar. Tapi saya belum memastikan. Sam Ratulangi terkenal dengan padangan hidup:
“Si tou timou tumou tou” yang berarti: “Manusia hidup untuk memanusiakan manusia”

Ditanya hal-hal demikian membuat saya tertawa miris di dalam hati. Kenapa selama ini saya sibuk-sibuk membaca tokoh-tokoh asing dan tidak memperkaya pengetahuan saya dengan tokoh-tokoh negeri sendri. Kurang pesona? Tidak juga. Kurang sumber? Huuu...dapat salam dari Om Gugel. hahaha. Menurut saya hanya kurang kemasan. Informasi tentu ada, tapi masih belum dikemas baik. Atau saya yang masih belum menemukan? Entahlah. Ah, yang belum mengenal Jay Widjajanto, *seperti saya waktu itu* pasti akan lebih familiar dengan Bang Zaitun si pemimpin orkes melayu di film Sang Pemimpi. Yep, dialah Jay Widjajanto.

Hari ketiga saya dan teman-teman kembali ke apartemen dengan perasaan lelah, badan acem, dan ngantuk luar biasa. Tapi tidak berhenti di situ saja, kami *atau saya paling tidak* pulang dengan persepsi baru, cita-cita baru, dan rasa cinta yang meluap-luap pada negara dan bangsa ini.


Sebuah tugu dengan motto VHJ: Bersama Sembuhkan Bumi
Gambar ini diambil dari situs resmi VHJ
Yang ingin tahu lebih jauh mengenai VHJ bisa klik disini  

Minggu, 25 Desember 2011

Kemah Menulis 2011, Hari Pertama :)

Hari ini tanggal 25 Desember. It's a Christmas Day. A holy day for Christian people. But i'm not gonna write more about that. Not because I don't like Christmas, I enjoy it very much. Especially Christmas's atmosphere in TV. You know what I mean. Hari ini sebenarnya saya mau cerita banyak tentang kegiatan saya di tanggal yang sama sebulan yang lalu.

Well, di tanggal yang sama tepat sebulan yang lalu, saya bangun pagi-pagi sekali. Di luar kebiasaan. Tapi saya memang selalu bangun lebih cepat saat akan bepergian. Bukan untuk bangun untuk siap-siap sebenarnya, hanya karena susah tidur, too much excitement. heheh. Saya bangun, mandi, dan buru-buru packing. Semalam saya belum packing. Bad habit. -__-"

Hari itu saya akan berangkat ke Jakarta. Saya diundang untuk mengikuti Kemah Menulis 2011 yang diadakan oleh Tempo Institute setelah saya dinyatakan lolos 20 besar dalam Lomba Essay yang mereka selenggarakan. Saya akan berangkat dengan pesawat pukul 9.45. Berarti saya harus ke bandara paling tidak pukul setengah 9. Setelah mengecek semua barang bawaan (satu ransel, satu tas selempang, dan satu tas tenteng) saya siap berangkat. Diantar Mamak, ponakan, dan kakak laki-laki saya yang kebetulan sedang di Makassar, berangkatlah saya ke bandara. Setelah salim Mamak cepat-cepat *untuk menghindari efek drama-air mata-* masuklah saya ke bandara, check-in, lalu menuju gate, yang sayangnya sempat berpindah dan membuat saya ngos-ngosan mondar-mandir ngangkat tas. Rasanya aneh, bepergian sendiri dengan pesawat setelah, ummm... 9 tahun? Seingat saya terakhir kali saya bepergian dengan pesawat sendirian waktu saya kelas 5 SD. Itupun saya naik pesawat baling-baling yang kapasitasnya sekitar 20 orang. Mendung dan full turbulence. Dan saya berhasil melewatinya *walaupun sempat muntah* dengan selamat. Jadi seharusnya mengulang pengalaman yang sama di umur yang lebih tua would't be more frightening. Tapi saya tetap parno. Ugh.

Pesawatnya penuh, menurut petugas yang sobekin boarding pass. Ck, padahal saya sudah siap menjalankan trik minta pindah tempat duduk. Soalnya saya harus duduk di tengah. Huuu... Setelah duduk di kursi, saya lumayan senang, dua kursi di sebelah saya kosong. Sampai.... The Dynamic Duo datang. Dua bersaudara nenek-nenek, yang hobi ngobrol. Untungnya tidak hobi ke WC, dan lebih untungnya lagi minta saya duduk di kursi dekat lorong. Saya sempat setres karena si nenek bersaudara tidak henti-hentinya bertelepon meski sudah dilarang pramugari. Dan pramugara yang cakep-cakep. hihihi. Di pesawat saya berusaha tidur, tapi si nini bersaudara sibuk ngobrol dan tidak mau menutup jendela. Saya berusaha tidur pakai kacamata hitam dan tidak berhasil, ck.

Sampai di Jakarta sudah sekitar pukul setengah 12 waktu sana. Lebih lambat dari perkiraan saya, yaitu pukul 11. Sebelumnya saya sudah janjian dengan Mas Lukman yang juga berangkat dari Palembang dengan pesawat dan telah berada di bandara sejak pukul 9. Dan ujung-ujungnya harus menunggu 3 jam *maaf yaaaa*. Sejak semula saya sudah merencanakan untuk tidak menyimpan tas di bagasi untuk menghemat waktu. Dengan terseok seok saya pun mencari Mas Lukman *lebay*. Setelah bertemu, lalu membeli tiket Damri, daaaaan....menunggu. Lumayan lama. Hahaha

Setelah ber-damri, ber-angkot, dan berjalan kaki, sampailah kami di Salemba Residence, tempat kami diharuskan berkumpul. Telat. Kata resepsionis rombongan Tempo sudah berangkat beberapa menit lalu. Yaaaaah.... kita ketinggalan acara pertama yaitu kunjungan ke kantor Tempo. Tapi ternyata bukan hanya saya dan Mas Lukman yang ketinggalan, saat menunggu Mas Bimo di lobby, datanglah Teguh, Rizky dan Rini, yang semuanya dari Jakarta. Kami lalu berkenalan, dan Teguh rupanya mengira saya laki-laki. Mengacu pada nama saya yang menurut dia ke-cowok-an. Huuuu... Kenapa mereka terlambat? Katanya karena sejak beberapa jam sebelumnya Jakarta hujan lebat. Yah...lumayan lah, ada yang senasib. heheh.

Setelah Mas Bimo datang membawa wahyu, eh kunci maksudnya, naiklah kami ke unit masing -masing. Saya dan Rini yang ga tau mau ngapa-ngapain, akhirnya cerita-cerita sampai capek sambil makan makanan yg disediakan panitia. Rini lalu pergi tidur dan saya yang lagi jetlag *sok penerbangan lintas daerah waktu, hihi* malah tidak bisa tidur. Akhirnya saya nonton sambil ngiri dengan teman-teman yang berhasil datang tepat waktu.

Hampir jam 5 *atau lewat jam 5* pulanglah teman-teman yang lain dari kantor Tempo. Duh, saya makin iri karena mereka sudah saling mengenal. Lalu berkenalanlah saya dengan Mba Mitha, Mba Monic, Eka, Gustin, Tristi, Sisil, Agnes, dan Raisa. Wow, yang ada di pikiran saya saat itu. What am I doing here? Kelihatannya mereka semua orang-orang serius. Yang senang diskusi dan debat yang panas. Yang kalo ngomong pake kata-kata seperti "kompehensif", "konstelasi", "inheren", dll. Padahal saya hanya mahasiswa luar biasa standar. Banyakan ga serius daripada seriusnya. Hahaha. Tapi setelah bincang-bincang sekilas, ketakuatan saya tepatahkan. Semuanya asyik asyik! Cihuuuy... >_<

Setelah beres-beres dan bersih bersih (yang buat saya berarti hanya cuci muka, tidak mandi, hehe) kami lalu ke Aula, makan malam dan materi. Akhirnya saya berkesempatan untuk bertemu peserta lainnya. Materi malam itu dibawakan oleh Mbak Mardiyah, Mbak Monica, dan Mas Didin. Seingat saya *yang paling saya ingat maksudnya* waktu itu Mbak Mardiyah mengatakan kalau sebenarnya awalnya ada keraguan untuk mengadakan kompetisi ini di tahun 2011. Fiuh, untunglah diadakan, kalau tidak, we're not gonna experienced this such a great event! Nah, harus bersyukur kan walaupun ga dapat juara. hehehe. Dan saya akhirnya mengerti dari mana frasa "menjadi Indonesia" itu diambil. Dan saya akhirnya mengerti apa maksud dari kompetisi ini. Nantilah saya jelaskan lebih jauh.

Hal lain yang berkesan dari sesi malam itu adalah saat perkenalan. Kami diharuskan menulis cir-ciri diri di selembar kertas. Saya bingung, mau narsis atau realistis, karena hasilnya pasti beda jauh, hahaha. Akhirnya saya nulis secukupnya. Dan dikumpullah tulisan itu oleh Mas Bram, dan dibagikanlah secara acak. Yang dapat kertas saya Gustin, habis baca kertas saya dia langsung noleh dan saya tertawa. Hehe, ketahuan banget deh. Dan saya dapat kertas Mas Lukman, beruntung kan! Hehe. Karena permainan itu saya akhirnya mengenal peserta yang lain. Ada Didik, Ofa, Udin, Dhiora, Dion, Yasin, Bayu, Teguh, Rizki, Elton, dan Mas Lukman yang sudah saya kenal sebelumnya. Selain peserta saya juga akhirnya mengenal alumni, Bang Ayos, Bang Moses, Bang Sidiq, Ka Fando dan Kaka Raisa *hahaha..becanda Sa, becanda*. Dan mengenal para panitia, Mbak Maya, Mbak Icha, Mbak Etha, Mas Bimo dan Mas Bram.

Sampai selesainya kegiatan di hari itu saya masih bertanya-tanya. Kebiasaan saya adalah Expect the best, prepare the worst. Jadi setiap kali saya akan mengharapkan yang terbaik, saya sudah harus bersiap untuk yang terburuk. Malam itu saya bertanya-tanya, apakah beberapa hari ke depan akan se-menyenangkan hari ini? Apakah saya yang notabene satu-satunya peserta dari Indonesia Timur akan berbaur dengan mudah? Apakah pemikiran saya sudah cukup tinggi untuk mengejar peserta-peserta lain? Apakah nantinya saya akan kerasan? Apakah nantinya pertanyaan saya akan cukup berbobot untuk ditanyakan kepada narasumber? Apakah apakah dan lebih banyak lagi apakah.

Ini bukan pertama kalinya saya mengikuti kegiatan yang sifatnya nasional. Dan dalam beberapa kegiatan sebelumnya, saya masih merasakan ketimpangan pergaulan antara kami yang non-Jawa dan mereka yang berasal dari Jawa. Sebelum berangkat saya sudah memikirkan hal tersebut masak-masak. And as always, I should prepare for the worst, even I don't know exactly how. hehe. Tetapi setelah menjalani hari pertama, kekhawatiran saya berangsur menurun. Walaupun belum sempat berbicara lebih jauh dengan peserta lainnya, rasanya saya punya feeling baik kali ini.

Nah, itu untuk hari pertama. Untuk hari-hari berikutnya, akan saya kerjakan sesuai tanggalnya. Jadi dalam beberapa hari ke depan, jika Tuhan dan sinyal mengizinkan, saya akan ngepost tiap hari untuk menceritakan hari-hari saya mengikuti Kemah Menulis. Jadi konsepnya seperti flashback ke sebulan yang lalu. hehehe.

Kesan saya untuk hari pertama adalah: wow, finally i'm here, meet new people, meet famous people, meet REAL people, i really have no idea about this event, but i have a good feeling that this event will be aaaaawwweeeesssoooomeee!!